Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Risalah Ramadhan (3) ; 10 Pembatal Puasa Dalam Kitab Fathul Qarib

MADINATULIMAN – Fathul Qarib atau Fathul Qaribul Mujib merupakan salah satu kitab fiqh klasik karya ulama pembesar madzhab Syafi'iyyah yakni Al-Allamah al-Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi (859-918 H). Kitab ini merupakan syarah (penjelas) atas matan kitab al-Taqrib karangan al-Qadhi Abu Syuja' al-Asfihani.

 

Kitab yang menjelaskan secara ringkas dan lugas mengenai pokok-pokok fiqih Syafi'iyyah ini, banyak dikaji di berbagai pesantren sunni seluruh Indonesia, bahkan didunia semenjak dahulu. 

Dibulan Ramadhan ini, ada baiknya kita segarkan kembali mengenai hal-hal apa saja yang membatalkan puasa sebagaimana yang tercantum didalam kitab Fathul Qarib. Berikut 10 hal yang membatalkan puasa :

أحدها وثانيها (ما وصل عمداً إلى الجوف) المنفتح (أو) غير المنفتح كالوصول من مأمومة إلى (الرأس) والمراد إمساك الصائم عن وصول عين إلى ما يسمى جوفاً (و) الثالث (الحقنة في أحد السبيلين) وهو دواء يحقن به المريض في قبل أو دبر المعبر عنهما في المتن بالسبيلين (و) الرابع (القيء عمداً) فإن لم يتعمد لم يبطل صومه كما سبق. (و) الخامس (الوطء عامداً) في الفرج فلا يفطر الصائم بالجماع ناسياً كما سبق (و) السادس (الإنزال) وهو خروج المني (عن مباشرة) بلا جماع محرماً كان كإخراجه بيده أو غير محرم كإخراجه بيد زوجته أو جاريته واحترز بمباشرة عن خروج المني بالاحتلام فلا إفطار به جزماً (و) السابع إلى آخر العشرة (الحيض والنفاس والجنون والردة) فمتى طرأ شيء منها في أثناء الصوم أبطله
 
"(1) Masuknya benda kedalam tubuh dengan sengaja melalu lubang yang terbuka (mulut, hidung, dan lain-lain), atau (2) melalui jalan yang tertutup, seperti benda yang masuk ke otak melalui kepala. Yang dikehendaki dalam hal ini adalah bahwa orang yang berpuasa mencegah sesuatu yang bisa masuk kedalam anggota tubuh. (3) Mengobati orang yang sakit melalui dua jalan (qubul dan dzubur). (4) Muntah dengan sengaja, namun apabila tidak disengaja maka puasanya tidak batal. (5) Bersetubuh dengan sengaja. Namun tidak batal apabila lupa (kalau sedang puasa). (6) Keluar mani karena bertemunya dua kulit (antara laki-laki dan perempuan) walaupun tanpa berjima’. Diharamkan apabila mengeluarkannya dengan tangan, namun tidak diharamkan seumpama dikeluarkan dengan tangan istrinya atau budaknya (tapi tetap batal). Pengarang kitab (mushannif) telah memisahkan apabila keluar mani disebabkan karena mimpi maka itu tidaklah batal. (7) Haid, (8) Nifas, (9) Majnun (gila), (10) Murtad. Maka, apabila salah satu dari yang disebutkan itu terjadi, batallah puasa seseorang.”
 
Disamping 10 hal yang membatalkan puasa diatas. Ada juga hal-hal lain yang membatalkan pahala puasa. Pembatal pahala puasa ini patut di cermati, agar puasa yang dilakukan tidak hanya memperoleh lapar dan dahaga saja. Sebagaimana yang pernah disabda Nabi Muhammad Shalallahu 'Alayhi wa Sallam :
 
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
"Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali hanya lapar” (HR. Ibnu Majah)
 
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ
“Betapa ada orang yang berpuasa yang didapat daripuasanya hanya lapar saja” (HR. Al-Hakim)
 
Maksud dari ungkapan hadits tersebut adalah tidak ada pahala puasa baginya, namun taklif (beban) kewajiban puasa baginya gugur. Imam Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa hal itu terjadi karena orang yang puasa ketika berbuka dengan perkara yang haram, atau berbuka disertai melakukan ghibah, atau orang tersebut tidak menjaga anggota badannya dari perkara-perkara dosa.
 
Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :
 
من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang zuur (buruk) dan mengamalkannya, maka tidak ada hajat bagi Allah dalam hal ia meninggalkan makannya dan minumnya (yakni Allah tidak butuh pada puasanya)” (HR Al-Bukhari)
 
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ
“Puasa adalah perisai, maka janganlah seseorang berbicara kotor dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang menggangumu atau mencacimu, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” dua kali”. (HR. Bukhari)
 
Dari hadits diatas, perkara-perkara yang buruk menjadi sebab batalnya pahala puasa. Maka, wajar saja jika ulama juga membawakan riwayat yang jika ditinjau dari sisi sanadnya memang perlu dikaji ulang, sebagian mengatakan dloif, namun jika ditinjau dari sisi matannya adalah shahih, sebab tersebut memang hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Riwayat tersebut adalah;
 
خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة
“5 hal yang merusak puasa seseorang (maksudnya merusak pahala puasa seseorang), yakni :
1. Bohong
2. Ghibah (gosip)
3. Namimah (mengadu domba)
4. Bersumpah palsu
5. Memandang dengan syahwat”.
 
Riwayat diatas terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali, dan beberapa kitab fiqih juga menyebutkan riwayat senada dengan diatas, seperti Mughni Muhtaj dan lain sebagainya. 
 
Namun, hal yang merusak pahala puasa tidak hanya itu, sebab perkara yang tidak baik itu banyak. Seperti berbicara kotor (jorok), bertikai, dan lain sebagainya. []
 
 
Wallahu A’lam
Oleh : Abdurrohim

 

Related posts

Hukum Shalat Memakai Kaos Kaki Bagi Wanita dan Laki-Laki

admin

Ibadah Qurban : Udlhiyyah dalam Kajian Ilmu Fiqih

admin

Tugas Malaikat Jibril Sekarang Setelah Tidak Turun Lagi Wahyu ?

admin

Hukum Berbicara Saat Wudlu’

admin

Hukum Terima Amplop/Upah bagi Imam, Khatib, Muaddzin, dan Guru Mengaji

admin

Hukum Memakan dan Memasak Ikan yang Masih Hidup

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami