Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Berita Nusantara Ekonomi

12 Juli dan Sejarah Koperasi di Indonesia

MADINATULIMAN.COM – Tanggal 12 Juli merupakan Hari Koperasi Indonesia. Koperasi di Indonesia didefinisikan sebagai badan usaha dengan beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan.

Menciptakan kesejahteraan untuk anggotanya adalah tujuan utama koperasi. Dalam menetapkan harga, Koperasi menerapkan aturan, harga sesuai dengan biaya yang sesungguhnya, ditambah komponen lain bila dianggap perlu, seperti untuk kepentingan investasi.

Sebenarnya koperasi telah didirikan saat jaman penjajahan. Dengan banyak nya penderitaan di kalangan masyrakat, maka seorang Patih Purwokerto : R.Aria Wiriaatmadja (1895). Awal nya hanya mendirikan sebuah bank bagi para pegawai negeri dan orang kecil dalam mengatasi kemlaratan rakyat. Didirikannya juga : rumah-rumah gadai, lumbang desa, dan bank-bank desa.

Dalam sejarahnya terdapat Kongres Koperasi yang digelar di Tasikmalaya. Kongres tersebut merupakan Kongres Koperasi pertama yang diadakan di Indonesia dan ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Pada kongres itu juga dibentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya.

Berdasarkan dari buku ‘Sepuluh Tahun Koperasi (1930-1940)’, pada 1989 seorang Asisten Rasiden Afdeeling Karesidenan Banyumas De Wolff van Westerrode memiliki keinginan mendirikan koperasi kredit (crediet-cooperatie) untuk penduduk tani yang tinggal di wilayahnya.

Pada awalnya Asisten Residen E. Sieburgh mendirikan Hulp en Spaarbank atau Bank Bantuan dan Simpanan. Bank tersebut didirikan untuk menolong pegawai pemerintah dan kepala Bumiputera dari cengkraman lintah darat. Kemudian bank tersebut diperluas fungsinya oleh De Wolff yang kemduian namanya diubah menjadi Puwokertosche Hulp Spaar en Landbouwcredietbank atau Bank Bantuan, Simpanan dan Kredit Usaha Tani Purwokerto.

Bank tersebut menjadi bank pertama yang memberikan kredit kepada petani berdasarkan kedermawan. Kemudian bank tersebut juga menjadi contoh dan didirkan bank serupa di wilayah lainnya di pulau Jawa dan Madura.

De Wolff sempat mengambil cuti dan pulang ke Eropa. Disana dia mempelajari cara kerja bank rakyat di Jerman. Sepulangnya dia kembali ke Purwokerto dia langusung menerapkan ilmu -ilmu yang didapatnya dan yakin koperasi akan sukses diterapkan di desa-desa yang ada di pulau Jawa.

“Di desa-desa di Pulau Jawa amat mudah mendirikan koperasi, lebih mudah dari di Flammersfeld. Sebab di Flammersfeld kaum tani yang miskin itu dididik mempunyai anggapan bahwa tiap-tiap orang mesti mengurus diri sendiri dan Tuhan yang mengurus orang semua,” kata De wolff dilansir dari buku Sepuluh Tahun Koperasi (1930-1940).

Sementara berdasarkan sumber lainnya, pada tahun 1896 seorang Pamong Praja Patih R Aria Wiriatmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para pegawai negeri (priyayi). Dirinya terdorong untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi. Cita-cita tersebut kemudian diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode.

Namun pada Zaman Belanda, koperasi belum bisa terealisasikan pasalnya Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi. Lalu belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu.

Kemudian Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan perundangan tentang perkoperasian, yakni Peraturan Perkumpulan Koperasi No. 43, Tahun 1915, lalu pada tahun 1927 dikeluarkan pula Peraturan No. 91, Tahun 1927, yang mengatur Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi bagi golongan Bumiputra.

Pada tahun 1933, Pemerintah Hindia-Belanda menetapkan Peraturan Umum Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi No. 21, Tahun 1933. Peraturan tahun 1933 itu, hanya diberlakukan bagi golongan yang tunduk kepada tatanan hukum Barat, sedangkan Peraturan tahun 1927, berlaku bagi golongan Bumiputra.

Pada tahun 1908, Budi Utomo juga memberikan peranan bagi berkembangnya koperasi di Indonesia. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.

Namun, pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai.Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Source: Okezone & Web kementeriankoperasi.com

Related posts

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila

admin

Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub MA ; Indonesia Sudah Negara Islam

admin

Masjid Diimbau Padati Ramadhan dengan Kegiatan Positif

admin

Ada Kesalahan Serius dalam Memahami Khilafah

admin

MUI: Wanita Boleh Sunat, Mengapa PBB Ikut Mengurusi

admin

Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin Menolak Sertifikasi Ulama Usulan BNPT

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com