Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Ubudiyah

Adab Membaca Al-Qur’an : Siwak dan Membaca Dalam Keadaan Suci

MADINATULIMAN – Ini adalah kajian Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab ke Enam “Fi Adabil Qur’an”. Didalam hal ini menerangkan tentang membersihkan mulut ketika hendak membaca Al-Qur’an dan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadats.
 

Hendaknya apabila ingin membaca Al-Qur’an membersihkan mulutnya dengan bersiwak dan yang lainnya. Dan pilihan didalam bersiwak, hendaknya bersiwak menggunakan kayu arok atau boleh dengan kayu-kayu yang lain, dan dengan segala sesuatu yang bisa berfungsi untuk membersihkan seperti kain yang kasar, sesuatu yang kasar serta bahan-bahan yang agak kasar lainnya. Dan dalam hal hasilnya kesunnahan dengan menggunakan jari yang kasar, ada 3 pendapat menurut ulama Syafi’iyah rahimahumullah ; Pendapat yang paling masyhur adalah tidak mendapat kesunnahan menggunakan jari sendiri yang kasar. Pendapat kedua, tetap mendapatkan pahala kesunnahan. Ketiga, mendapatkan pahala apabila tidak ada yang lainnya namun tidak mendapatkan pahala apabila ada yang lainnya.
 

Penjelasan : terkait pendapat pertama adalah tidak mendapatkan pahala, sebab makna “siwaka (سواك)” dalam bahasa arab juga bermakna “selain engkau”, artinya selain yang ada pada diri kita. Oleh karena itu, apa yang ada selain pada kita adalah lebih utama. Pendapat kedua, dapat diambila ketika misalnya tidak memiliki siwak.
 

Dan bersiwak dilakukan dengan melintang (horisontal) serta melebar pada samping kanan mulutnya, dan juga disertai dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.
 

Sebagian ulama berkata, hendaknya ia berdo’a ketika bersiwak :

اللهم بارك لي فيه يا أرحم الراحمين

“Ya Allah berikanlah keberkahan kepadaku didalam siwak ini, ya Arhamar Rohimiin”
 

Imam Al-Mawardi, salah seorang imam pengikut madzhab Syafi’iyah berkata, disunnahkan untuk bersiwak pada gigi-giri luar dan dalam (seperti melakukan sikat gigi, penj), dan menjalankan siwak pada ujung-ujung giginya, dan dudukan-dudukan gigi-gigi geraham (gusi) dan juga bagian atas mulut (langit-langit) dengan bersiwak secara lembut. Ulama berkata , selayaknya seseorang bersiwak dengan kayu siwak yang sedang-sedang (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, penj), juga tidak sangat basah dan tidak sangat kering. Jika sangat kering maka di olesi dengan air, dan tidak apa-apa menggunakan siwak orang lain dengan izin dari pemilikinya.

 

Adapun jika didalam mulutnya ada najis berupa darah atau lainnya, maka sesungguhnya itu makruh baginya membaca Al-Qur’an sebelum mensucikannya, namun apakah yang seperti haram ? Imam Ar-Ruyani, salah seorang pengikut Imam Syafi’i dari ayahandanya, ada dua sisi pendapat, yang ashoh (paling benar) adalah tidak haram.
 

Sebuah Pasal : Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci (punya wudlu’). Apabila membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadats (kecil) maka tetap boleh membaca Al-Qur’an berdasarkan Ijma’ umat Islam. Hadits-hadits berkenaan dengan membaca Al-Qur’an tanpa wudlu’ itu banyak sekali, Imam Al-Haramain berkata : dan tidak bisa dikatakan makruh (membaca Al-Qur’an tanpa wudlu’) akan tetapi seseorang tersebut meninggalkan sesuatu yang lebih utama, apabila tidak menemukan air maka hendaknya bertayammum. Apabila seorang wanita mengeluarkan darah istihadlah pada masa yang dihukumi, maka ia hukumnya suci.
 

Adapun orang junub dan haid maka keduanya haram membaca Al-Qur’an, sama saja satu ayat atau kurang dari satu ayat.
 

Namun boleh bagi orang junub dan haid membaca Al-Qur’an dengan hatinya tanpa dilafadzkan dengan lisannya. Dan juga boleh memandang mushhaf (kemudian membaca denga hatinya, penj), serta menjalankan bacaan didalam hatinya, dan ulama Islam telah berijma’ atas kebolehan membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Jika orang junub dan haid berkata kepada seseorang “Hudil Kitaba bi-Quwwah (Ambillah kita dengan sungguh-sungguh)” sebagaimana kalimat didalam Al-Qur’an, dengan niat tidak untuk membaca Al-Qur’an, maka itu boleh, demikian juga hal-hal yang serupa.
 

Dan boleh bagi orang junub dan haid ketika mendapatkan mushibah mengucapkan “Inna Lillaahi wa Innaa Ilayhi Raji’uun” apabila tidak bermaksud membaca Al-Qur’an. Ulama pengikut Syafi’iyah di Khurasan berkata : boleh juga bagi orang junub dan haid ketika akan naik kendaraaan membaca (lafadznya Al-Qur’an namun untuk berdo’a)
 

سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين

Demikian juga ketika berdo’a

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

semuanya itu apabila tidak dimaksudkan untuk membaca Al-Qur’an (melainkan hanya sebagai do’a).
 

Imam Al-Haramain berkata : apabila orang junub membaca “Bismillah” dan “Al-Hamdu Lillah”, jika dengan maksud membaca Al-Qur’an maka itu maksiat (berdosa), namun apabila bermaksud untuk dzikir atau tidak bermaksud apa-apa, maka tidak berdosa, dan boleh bagi orang junub dan haid membaca apa-apa yang sudah dihapus bacaannya seperti
 

الشَّيخُ والشَّيْخَةُ إذَا زَنَيَا فَارْجُموهُما البَتَّة

“Laki-laki dan wanita yang tua apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya denan sungguh-sungguh” (keterangan : ini adalah ayat yang telah dihapus bacaannya, namun hukum yang terkandung didalamnya, tetap diberlakukan). []
 

Wallahu A’lam

Related posts

Membaca Tasmi’ Tiap Bangun dari Ruku’

admin

Hukum Menjaharkan Shalat-Shalat Sunnah

admin

Puasa Arafah 9 Dzulhijjah Bukan Didasarkan Wukuf Orang yang Berhaji

admin

Hukum Menyaringkan Bacaan Shalat Dhuhur?

admin

Kedua Tangan Saat Qunut, Dirapatkan atau Direnggangkan?

admin

Shighat Menjawab Salam Orang Islam

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com