Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Opini

Anak Tak Masuk Sekolah Negeri? Tenang, Dia Tidak Bodoh!

Sisi Lain Surat Sakti Murid Titipan Oknum Anggota DPRD Balikpapan

Jujur saya tidak tahu tulisan ini masuk kategori apa, karena menulis ini dengan hati yang sangat sedih.
 
SAYA bukan orang politik dan tidak ingin apa-apa selain ingin kualitas SDM di Balikpapan yang berawal dari pendidikan pada usia dini, mulai di keluarga maupun di lembaga pendidikan, lebih baik dan punya daya saing nantinya. Inilah yang membuat saya menulis ini segera setelah saya baca koran pagi ini.
Semoga tulisan ini memberi pencerahan bagi semua pihak di dunia pendidikan maupun stakeholder, agar bisa lebih bijak dalam berbicara. Apalagi bertindak, karena semua rakyat punya hak yang sama untuk belajar.
Jujur, alangkah mirisnya saya mendengar seorang ketua DPRD Balikpapan yang terhormat bicara sekolah swasta itu mutunya rendah (Kaltim Post Selasa 22 Juli 2014, halaman Balikpapan).
Saya bukanlah guru negeri ataupun swasta, jadi secara pribadi saya tidak berkepentingan dengan konflik ini. Namun selaku pribadi yang sangat konsen dengan pengembangan SDM khususnya di Balikpapan ini, saya sedih sekali membacanya.
Saya tidak tahu bagaimana jalan berpikirnya seorang ketua dewan yang terhormat ini. Jadi saya menulis ini dalam perspektif psikologi pendidikan dan bukan politik sama sekali.
Bapak Ketua Dewan yang terhormat, di kota manapun yang saya tahu di negeri kita tercinta ini tidak akan mungkin bisa semua anak ditampung di sekolah negeri, karena keterbatasan anggaran yang ada.
Bahkan sekarang pun sejak otonomi daerah diberlakukan, tiap-tiap kota sudah sangat meningkatkan alokasi APBD untuk pendidikan lebih dari 20%, termasuk Balikpapan. Sudah hukum pasar jumlah bangku di sekolah negeri terbatas, apalagi jika bicara keefektifan belajar, tentu ada jumlah maksimal rombongan belajar dalam satu kelas. Karena itu untuk masuk sekolah akan ada saringannya.
Di sinilah anak-anak kita dituntut untuk berprestasi baik akademik maupun nonakademik agar mempunyai kemampuan bersaing untuk lolos ke sekolah yang dikehendaki. 
Jika dikatakan “wajar” seorang anggota dewan melakukan intervensi pada proses penerimaan murid baru dengan memberikan surat sakti yang harus dituruti pendidik dengan alasan memperjuangkan rakyat, maka pertanyaannya rakyat mana yang diperjuangkan?
Lalu apakah rakyat yang tidak punya “koneksi” dengan anggota dewan bukan “rakyat”  jadi tidak perlu diperjuangkan? Begitukah?
                                                                                                                             ***
Ketua DPRD Balikpapan di kalimat yang lain mengatakan, bila anak guru swasta banyak bersekolah di negeri, maka ini adalah bukti mutu sekolah swasta jelek. Saya juga tidak setuju dengan ini.
Bapak Dewan yang terhormat, ini tidak ada hubungan dengan mutu sekolah, ini semata-mata karena biaya yang dibutuhkan lebih banyak dan sebenarnya kalau dianalisis lebih mendalam, ini menunjukkan gaji guru swasta itu rendah. Sehingga tidak mampu menyekolahkan anaknya di swasta!
Kalaupun tidak banyak sekolah swasta yang bermutu baik sebagaimana di sekolah negeri, juga tidak lepas dari murid-murid yang masuk adalah sisa-sisa yang tidak lolos seleksi dari negeri kan? Apakah guru-guru dan sekolah swasta ini juga bukan rakyat yang harus diperjuangkan?
Namun begitu, para guru sekolah swasta tidak usah berkecil hati, karena anak Anda yang tidak lolos masuk negeri karena seleksi nilai ujian tidak ada hubungannya dengan kecerdasan anak.
Tidak ada korelasi positif antara anak yang nilai ujian akhirnya tinggi itu, sudah memastikan bahwa anak tersebut yang lebih cerdas dari yang nilainya lebih rendah.
Banyak faktor yang memengaruhi nilai ujian sesaat itu. Kesiapan mental, kondisi kesehatan, dan lain-lain, sangat berpengaruh saat mengerjakan ujian itu.
Terbukti banyak sekolah swasta di Balikpapan maupun Kaltim pada umumnya punya prestasi lebih baik dari sekolah negeri!
Bahkan, dari hasil penelitian pun dikatakan, 5-20% saja kontribusi kecerdasan otak terhadap kesuksesan seseorang! Itu pun jika kita bisa mengoptimalkan potensi otak kita.
Sementara sampai saat ini di Indonesia secara umum kurikulum pendidikan masih menggunakan dua mesin otak saja, padahal mesinnya ada 7 (bisa baca kembali tulisan saya di Kaltim Pos, Minggu 29 Desember 2013 lalu. Berjudul Pintar Mana Habibie atau Mike Tyson? Dalam tulisan ini disebutkan ada tujuh mesin otak pada anak yakni otak logika matematika, otak bahasa/kemampuan dalam berbahasa dan komunikasi verbal. Lalu ketiga, otak spasial/kemampuan ruang, menghitung perkiraan, membayangkan perbandingan. Keempat, otak kinetis atau otot/kemampuan mengembangkan otot tubuh dan olahraga. Kelima otak seni/kemampuan bidang seni, lalu keenam otak pengelolaan diri sendiri. Dan ketujuh otak pengelolaan orang lain. Di Indonesia, hanya otak logika dan matematika yang dikembangkan dalam kurikulum).
So, anak-anak yang hasil akademiknya tidak memuaskan pun bukanlah anak yang bodoh karena ketidakmampuan mereka lebih pada logika matematika dan bahasa yang notabene merupakan dasar pendidikan di Indonesia tercinta ini.
Untuk itulah yang dibutuhkan adalah identifikasi dan pemahaman bakat minat anak-anak kita secara  lebih dini (idealnya di kelas 4-5 sekolah dasar).
Nah yang dibutuhkan diperbanyak jenisnya adalah sekolah vokasional (sejenis sekolah kejuruan) mulai dari tingkat sekolah menengah. Bukankah dulu STM dimulai dari ST dan terbukti lebih baik kemampuan lulusannya.
Sekolah inilah yang menampung anak-anak, bukan dari nilai ujian semata namun lebih menekankan pada kemampuan bakat minatnya.
Karena ini potensi dasar yang akan optimal hasilnya jika minat yang tinggi didukung dan dikembangkan oleh kemampuan yang sesuai. Toh sekolah vokasional ini tidak harus sekolah negeri bukan? Apalagi kalau saya sampaikan data bahwa anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang notabene kondisinya tidak boleh di sekolah luar biasa (SLB) karena gangguan autisme, serta lambat belajar misalnya, apakah mereka bukan rakyat sehingga tidak perlu diperjuangkan?
Ke mana mereka harus sekolah? Sedangkan di Balikpapan tidak ada sekolah slow leaner bagi yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal ataupun borderline (2 level di bawah normal). Sedangkan anak-anak yang 1 level saja di bawah rata-rata, bisa dipastikan masuk kategori “bodoh” di sekolah karena memang kurikulum sekolah di Indonesia dibuat berdasarkan kategori anak cerdas (di atas rata-rata).
So, betapa sempitnya kita melihat, jika bicara memperjuangkan rakyat hanya dengan surat sakti yang dianggap wajar karena dilakukan oleh anggota dewan yang katanya sangat terhormat ini.
Selain daripada itu, secara mental anak-anak yang masuk lewat jalur surat sakti juga menjadi “korban” karena mereka sudah dididik tidak jujur untuk mencapai suatu tujuan.
Ke depan anak-anak itu akan kurang daya juangnya karena merasa toh pada akhirnya orangtuanya dengan berbagai cara akan menolongnya.
Kitalah yang membuat mental dan daya juangnya tidak terbangun dengan positif. Lalu sampai kapan akan selalu mendampingi anak dalam hidupnya? Bagaimana saat dia harus menghadapi tantangan hidupnya sendiri nanti?
Karena dalam kehidupan ini, tidak akan bisa lepas dari persaingan dan perjuangan untuk mencapai yang terbaik, bukan?
Hai para orangtua, janganlah takut jika anakmu tidak mendengarmu, tapi takutlah karena anak selalu melihat perbuatanmu!
Takutlah karena anakmu selalu melihat dan merekam perilakumu untuk dijadikan dasar pembentukan mental dan karakternya! (Sebagaimana pernah saya bahas dalam salah satu tulisan saya “Kitalah Pembentuk Karakter Monster pada Karakter Anak” di Kaltim Post, 6 Januari 2014). Bagaimana pendapat Anda? (***/dwitapsikolog@yahoo.com/che/k8)
 
*Penulis: Psikolog Dra Dwita Salverry MM, direktur Jasa Psikologi Clarinta Balikpapan, Pemerhati perkembangan anak di Kaltim. Tulisan-tulisan sebelumnya, bisa dilihat di e-paper Kaltim Post sesuai tanggal yang disebutkan.
 
http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/86613-anak-tak-masuk-sekolah-negeri-tenang-dia-tidak-bodoh.html

 

Related posts

Kecenderungan Komersialisasi Sekolah Berlabel Islam

admin

Menghidupkan Kembali Ajaran Autentik Islam Nusantara

admin

Mahasiswa Al Azhar: Siapakah Seorang Azhari, Siapa “Salafy” ?

admin

Fethullah Gulen, Gus Dur-nya Turki

admin

Mewarnai Kembali Corak Keislaman Kita

admin

Akhlak Grand Shaikh Al-Azhar terhadap Orang yang Memusuhinya

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami