Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Hikmah

Apakah Ramadhan Meningkatkan Kualitas Diri Kita?

Oleh : Fariz Alniezar (Esais dan Peneliti di STAINU Jakarta)

Ramadhan telah datang. Entah apa yang ada di benak kita. Berbahagiakah karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh ampunan? Bulan di mana tergambar dari pelbagai riwayat hadits yang mengatakan bahwa semua setan di borgol, pintu surga dibuka lebar-lebar bahkan ada malam istimewa yakni lailatul qadar?|
 

Atau malah sebaliknya kita merasa bersedih karena Ramadhan semakin hari semakin dangkal pemaknaannya. Pola keberagamaan kita semakin terlihat instan dan “tak-berkulitas” tatkala kita bersama-sama menjalani kehidupan di bulan Ramadhan ini. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena watak kita yang gagap dan tak mampu memaknai Ramadhan dengan sungguh-sungguh.

Sebuah diktum hadits pernah mengajarkan sebuah doktrin bahwa barang siapa yang bergembira atas datangnya bulan Ramadhan maka haram baginya api neraka. Lalu pertanyaannya bagi kita adalah apakah benar kita senang dengan datangnya bulan Ramadhan? Benarkah yang kita gaungkan juga sebagaimana yang didengungnkan ustaz dan artis-artis “religi” di televisi yang dengan tanpa tedeng aling-aling sangat pede menyatakan bahwa mereka sangat bergembira terhadap datangnya Ramadhan? Jawabannya bisa beragam, bisa jujur atau bahkan sebaliknya.

Yang menarik dikaji bukanlah pengakuan senang atau tidaknya kita atas datangnya bulan Ramadhan itu benar atau tidak, pura-pura atau tidak. Tapi yang urgen untuk didiskusikan adalah filsafat nilai serta logika yang harus digali dari sebuah diktum tersebut.

Sebagaimana terkandung dalam nilai filsafat timur bahwa puncak prestasi adalah tatakala kita mampu menaklukkan keinginan kita, meredam libido kita juga menundukkan nafsu kita. Begitu juga kita akan baru dikatakan manusia hebat bukan karena kekuatan tubuh serta fisik yang kita miliki dalam menaklukkan sesuatu tapi lebih karena kita mampu untuk misalnya menahan marah tatkala hati kita sedang tersakiti dan pada momen yang bersamaan sah menurut diktum agama kalau kita marah saat itu juga.

Lebih jelasanya, ketinggian sebuah nilai dalam menjalankan apapun akan bisa kita capai hanya tatkala kita benar-benar bisa menaklukkan sesuatu tersebut. Jika kita tarik ke dalam ranah puasa Ramadhan maka puncak nilai puasa kita akan tinggi di mata Tuhan tatkala kita benar-benar bisa menaklukkannya. Artinya, kalau kita belum-belum sudah mengaku bahwa kita senang dengan datangnya bulan Ramadhan beserta aktivitas puasanya maka apa nilai lebih dari puasa kita di mata Tuhan karena toh kalau kita senang menjalankannya berarti kita menjalankan apa yang kita senangi? Bukankah Tuhan akan lebih memilih kualitas nilai puasa yang dilakukan bukan atas dasar rasa senang pada puasa itu? Logika ini memang menyimpang dari mainstrem tapi jika kita telusuri maka kita akan memperoleh paling tidak sebuah wacana dan pemahaman yang baru terhadap ajaran Agama terlebih puasa.

Hal itu sama persis dengan yang dilakukan oleh Umar bin Khattab salah seorang sahabat Nabi yag dijamin masuk surga. Umar dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ia berkata lantang nan retoris pada hajar aswad (batu hitam) “wahai hajar aswad, kalau bukan karena Muhammad sang kekasihku menciummu maka aku tak sudi mencimummu karena kau hanya batu!”  Umar pada dasarnya tak suka mencium batu, tapi ia mampu dan mau melakukannya kareana Muhammad juga melakukannya, maka  nilai ibadahnya yang terkandung dalam mencium batu tersebut sangat tinggi karena ia mampu menaklukkan ketidak senangannya.

Di sinilah kita boleh menggugat Flsafat barat yang mengajarkan do what you want to do (kerjakan apa yang kamu inginkan). Filsafat ini hendak memberikan semacam ruang ekspresi kebebasan bagi manusia, tapi alih-alih memberi kebebasan justru jika kita cermati filsafat itu malah mengosongkan nilai sebuah perbuatan.

Kalau dalam seluruh aktivitas serta mekanismme hidup kita mulai bangun tidur sampai memejamkan mata kembali hanya bergerak dan digerakkan atas dasar filisofi do what you want to do maka betapa bodohnya kita. Betapa tak bernilainya kita di mata Tuhan karena yang kita lakukan hanya sebatas menjalani apa yang kita inginkan tanpa ada penaklukan-penaklukan di dalamnya.

Justru filsafat timurlah yang mengajarkan nilai bahwa kerjakan apa yang tidak kita senangi. Dengan mengerjakan apa yang pada hakikatnya tidak kita senangi itulah kualitas kehambaan serta pengabdaian kita kepada Tuhan bisa terasah serta bernilai.

Pertanyaan sinisnya, kalau memang mereka yang mengaku senang detangnya bulan Ramadhan serta juga gembira dan enjoy menjalankan ibadah puasa lalu apa nilai puasa baginya? Toh mereka mengerjakan apa yang mereka senangi? Berbeda dengan misalnya kalau kita mau dengan sportif mengakui bahwa hakikatnya kita tidak begitu menyukai bahkan tidak suka sama sekali dengan Ramadhan dan juga puasa, lalu karena memang Ramadhan itu gagasan Tuhan dan salah satu medium untuk mendekatkan diri padan-Nya maka kita taklukkan nafsu ketidaksukaan kita terhadap puasa tersebut. Itulah proses penghambaan yang luar biasa yang dalam bahasa agama di sebut dengan takwa.

Ramadhan telah mendatangi kita, entah apa yang ada di pikiran dan hati kita, sedih atau malah berbahagia. Tapi lebih daripada itu kebiasaan yang harus kita tanamkan adalah belajar memaknai apa hakikat penghambaan terhadap Tuhan. Landasan filosofis serta pijakan berfikir yang kuatlah yang akan membawa kita untuk semakin dewasa dalam memahami diktum serta ajaran sebuah Agama.

Lebih dari itu, bukankah Muhammad pernah bersabda bahwa naumul alim khoirum min ibaadatil abid, tidurnya seorang alim yang memahami konsep serta nilai filosofis ajaran agama lebih baik dan bernilai bagi Tuhan dibandingkan dengan aktivitas ibadahnya seorang ahli ibadah yang tak mengerti serta gagap menafsirkan ajaran agamanya. Lalu sejalan dengan alas pikir itu marilah kita identifikasi di negeri ini lebih banyak hamba yang bertipikal abid ataukah alim? Wallahu A’lam Bis showab (nuon)

Related posts

Ulama Besar ‘Al-Ahkam al-Sulthaniyah’ Penjual Air Mawar

admin

Menabur Benih Gandum Sembari Berdzikir

admin

Saat Wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Diludahi

admin

Menyelami Hikmah ‘Puasalah Niscaya Kalian Akan Sehat’

admin

Ilmu Ikhlas

admin

Ketika Rasulullah Singgah di Perkemahan Umi Ma’bad

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami