Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Bacaan Shalat Gerhana Keras (Jahr) atau Lirih (Sir) ?

MADINATULIMAN.COM – Imam al-Syafi'i, Imam al-Baihaqi dan ulama syafi'iyah lainnya berhujjah dengan beberapa hadits bahwa bacaan didalam shalat gerhana matahari secara sir (lirih atau tidak dinyaringkan).

* وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ وَأَصْحَابُنَا فِي الْإِسْرَارِ بِقِرَاءَةِ كُسُوفِ الشَّمْسِ بِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ الْأَوَّلِ لِقَوْلِهِ " قِيَامًا طَوِيلًا نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ " قَالُوا وَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْهُ لِأَنَّهُ لَوْ سَمِعَهُ لَمْ يُقَدِّرْهُ بِغَيْرِهِ وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ عَنْ سَمُرَةَ قَالَ " صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُسُوفٍ لَا نَسْمَعُ لَهُ صَوْتًا " قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ " رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما فَهَذَانِ الْحَدِيثَانِ الصَّحِيحَانِ يُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ الْإِسْرَارَ فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْجَهْرَ فِي كُسُوفِ الْقَمَرِ وَهَذَا مَذْهَبُنَا

1. Riwayat Ibnu 'Abbas "قِيَامًا طَوِيلًا نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ", ini dalil bahwa Ibnu 'Abbas tidak mendengar bacaan Nabi Saw. Andai mendengar maka tidak akan mengkira-kiran dengan lainnya

2. Riwayat dari Samurah, bahwa saat shalat gerhana matahari bersama Nabi Saw tidak mendengar bacaan apapun. At-Turmudzi mengatakan hadits tersebut adalah hasan shahih.

3. Riwayat 'Aisyah bahwa Nabi menjaharkan bacaannya dalam shalat gerhana bulan. Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Dari beberapa hadits-hadits, Imam al-Nawawi didalam kitabnya Syarh al-Muhadzdzab menyatakan bahwa Israr (lirih) pada shalat gerhana matahari, dan Jahr pada shalat gerhana bulan. Hal tersebut dinyatakan sebagai madzhab Syafi'i.

Berbicara masalah fiqh / hukum-hukum agama dalam hal ini, tidak akan pernah lepas dari yang namanya madzhab dan pendapat ulama mengenai hal tersebut. Pendapat ulama tentunya ada yang sama dan ada yang tidak. Dalam hal ini, ulama ada yang berbeda pendapat, dan penerapan fikih dimasyarakat yang baik adalah tidak kaku, namun fleksibel.

Ibnu Rusyd (ulama Maliki) didalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid (2/221) mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat mengenai bacaan shalat gerhana matahari tersebut. Al-Syafi'i dan Imam Malik mengatakan sir (lirih), sedangkan Abu Yusuf (ulama Hanafi), Muhammad bin al-Hasan, Ahmad, Ishaq bin Rawahah mengatakan jahar (menyaringkan bacaannya).

الْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ ; وَاخْتَلَفُوا فِي الْقِرَاءَةِ فِيهَا، فَذَهَبَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقِرَاءَةَ فِيهَا سِرٌّ. وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ وأحمد وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ: يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ فِيهَا.

Ibnu Rusyd mengatakan bahwa sebab perbedaan tersebut adalah adanya perbedaan pemahaman terhadap atsar mengenai shalat gerhana dan perbedaan konteksnya.  [AR]

Related posts

Pembahasan Tentang Qurban dan Kriteria Hewan Qurban

admin

Shalat Hari Raya Boleh di Masjid Atau al-Mushalla (Shohra’)

admin

Umat Islam Tidak Perlu Alergi : Hadits dan Manfaat Kemenyan

admin

Hukum Menulis Nama Jenazah di Nisan Kuburan menurut Fikih Islam

admin

Hari Raya (‘Idul Adlha atau Idul Fithri) Bertepatan Dengan Hari Jum’at

admin

Hukum Menshalati Jenazah Teroris Menurut Hukum Fiqih Islam

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI