Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Fikih Shalat Pilihan Utama Syariah

Bolehkah Shalat Tarawih Sendirian (Munfarid)

Dibulan Ramadhan, masyarakat ramai menggelar shalat tarawih yang umumnya dilaksanakan secara berjama’ah, baik di masjid-masjid maupun di mushalla-mushalla.

Shalat tarawih sendiri merupakan shalat sunnah muakkadah yang hanya dilaksanakan didalam bulan Ramadhan. Semaraknya pelaksanaan shalat tarawih menjadi syiar tersendiri sekaligus pembeda antara suasana sebelum Ramadhan dan disaat bulan Ramadhan. Dengan kata lain, bagian daripada menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“Barangsiapa yang menegakkan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketulusan, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Namun, adanya masalah yang membuat masyarakat tidak bisa berkumpul (seperti masalah pandemi) membuat suasana malam bulan Ramadhan hampir tidak ada bedanya dengan malam-malam sebelum Ramadhan. Masyarakat dihimbau untuk beribadah di rumah masing-masing sebagai bentuk Social Distancing, meminimalisir penyebaran pandemi.

Shalat tarawih di rumah pada dasarnya tidak menghalangi untuk dilaksanakan secara berjama’ah. Misalnya bersama keluarga. Namun bagaimana seandainya shalat tarawih dilakukan sendirian (munfarid) ?.

Dalam hal ini, penjelasan Imam An-Nawawi didalam Al-Majmu’ menunjukkan sahnya shalat tarawih berjama’ah maupun sendirian sebagai berikut:

أَمَّا حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَصَلَاةُ التَّرَاوِيحِ سُنَّةٌ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ وَمَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ وَتَجُوزُ مُنْفَرِدًا وَجَمَاعَةً وَأَيُّهُمَا أَفْضَلُ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ كَمَا ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَحَكَاهُمَا جَمَاعَةٌ قَوْلَيْنِ (الصَّحِيحُ) بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ أَنَّ الْجَمَاعَةَ أَفْضَلُ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْبُوَيْطِيِّ وَبِهِ قَالَ أَكْثَرُ أصحابنا المتقدمين (والثاني) الِانْفِرَادُ أَفْضَلُ وَقَدْ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ دَلِيلَهُمَا قَالَ أَصْحَابُنَا الْعِرَاقِيُّونَ وَالصَّيْدَلَانِيّ وَالْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُمَا مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ الْخِلَافُ فِيمَنْ يَحْفَظُ الْقُرْآنَ وَلَا يَخَافُ الْكَسَلَ عَنْهَا لَوْ انْفَرَدَ وَلَا تَخْتَلُّ الْجَمَاعَةُ فِي المسجد بتخلفه فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الْأُمُورِ فَالْجَمَاعَةُ أَفْضَلُ بِلَا خِلَافٍ وَأَطْلَقَ جَمَاعَةٌ فِي الْمَسْأَلَةِ ثَلَاثَةَ أَوْجُهٍ ثَالِثُهَا هَذَا الْفَرْقُ وَمِمَّنْ حَكَى الْأَوْجُهَ الثَّلَاثَةَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ قَالَ صَاحِبُ الشامل قال أبو العباس وأبو إسحق صَلَاةُ التَّرَاوِيحِ جَمَاعَةً أَفْضَلُ مِنْ الِانْفِرَادِ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَإِجْمَاعِ أَهْلِ الْأَمْصَارِ عَلَى ذَلِكَ
“Shalat Tarawih hukumnya sunnah berdasarkan Ijma’ Ulama. Madzhab Kami, shalat tarawih dilaksanakan 20 raka’at dengan 10 kali salam, boleh dilaksanakan secara munfarid (sendirian) atau berjama’ah.

Manakah yang lebih utama antara munfarid dan berjama’ah, terdapat 2 pendapat yang sama-sama populer dalam hal ini. Pertama, pendapat yang shahih berdasarkan kesepakatan Ashhab, bahwa berjama’ah lebih utama, hal itu manshush (riwayatkan dari Imam Syafi’i) didalam riwayat Al-Buwaithi, serta pendapat yang dipegang oleh ashhab kami al-mutaqaddimin (ulama Syafi’iyah kami terdahulu). Kedua, infirad (sendirian) lebih utama. Mushannif telah menyebutkan dalil kedua pendapat tersebut.

Ashhab Syafi’iyah kami di Irak dan ulama Khurasan seperti Ash-Shaidalani, Al-Baghawi dan lainnya mengatakan bahwa khilaf (perbedaan pendapat tersebut) berkaitan dengan orang yang sedang menghafal Al-Qur’an, tidak khawatir malas (bila shalat sendirian), dan tidak membuat terusik jama’ah didalam masjid disebabkan perbedaan dengan dirinya, jika tidak ada alasan-alasan tersebut, maka berjama’ah itu lebih utama tanpa ada perbedaan pendapat diantara ulama. Penyebutkan berjama’ah dalam bahasan ini, jadinya ada 3 pendapat, yang mana pendapat Ketiga (selain dua pendapat diatas) adalah kelompok ini, dan diantara yang meriwayatkan pendapat ketiga tersebut adalah Al-Qadli Abu Thayyib didalam ta’liq-nya, Imam Al-Haramain, Al-Ghazali dan pemilik kitab Asy-Syamil, bahwa Abul Abbas dan Abu Ihsaq berkata: Shalat Tarawih berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian karena adanya Ijma’ Shahabat dan Ijma’ ulama berbagai tempat atas hal tersebut”.

Berdasarkan penjelasan diatas, ada pendapat shalat tarawih berjama’ah lebih utama, ada pendapat sendirian lebih utama, dan ada pendapat shalat tarawih berjama’ah lebih utama jika tidak memiliki alasan-alasan yang sudah disebutkan, seperti shalat sendirian karena menjaga hafalan dan lain sebagainya. Namun, yang shahih menurut Imam An-Nawawi adalah berjama’ah tetap lebih utama, meskipun sah bila dilaksanakan sendirian.

Didalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji ala Madzhab al-Imam Syafi’i juga dijelaskan sebagai berikut:

وصلاة التراويح إنما تشرع في رمضان خاصة، وتسن فيها الجماعة وتصح فرادى. وسميت بهذا الإسم لأنهم كانوا يتروحون عقب كل أربع ركعات، أي يستريحون. وتسمى قيام رمضان.
“Shalat Tarawih hanya disyariatkan khusus didalam bulan Ramadhan, disunnahkan berjama’ah namun sah dilaksanakan sendirian. Dinamakan shalat tarawih karena mereka beristirahat setelah selesai melaksanakan 4 raka’at (2 kali shalat tarawih), disebut pula Qiyam Ramadlan”.

Wallahu A’lam

Oleh : Abdurrrohim

Related posts

Ikutilah Pelatihan Muballigh dan Muballighah oleh IKMAL Balikpapan

admin

Tabligh Akbar Sayyid Seif Alwi di Islamic Centre Balikpapan Dibatalkan

admin

Hukum Main HP Saat Khutbah Jum’at

admin

Pengurus MUI Balikpapan dan Komisi-Komisi MUI Balikpapan

admin

At-Tanziel Balikpapan Buka Program Holiday Untuk Menghafal Al-Qur’an

admin

PWNU Kaltim Safari Ramadhan dan Konsolidasi ke Sejumlah Pengurus Cabang NU

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI