Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Kaltim News

Dari Perumus Proklamasi sampai Resolusi Jihad

MADINATULIMAN.COM Empat tokoh diberi anugerah gelar pahlawan di Istana Negara, kemarin. Mereka berperan besar dalam sejarah bangsa.

 
SENYUM bahagia mengandung sejuta bangga menyemburat dari wajah Emalia Iragiliati Sukarni Lukman. Sebuah plakat baru saja diterimanya dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jumat (7/11/2014).
Plakat di tangan Emalia bertuliskan nama ayahnya, Sukarni Karto Kartodiwirjo. Presiden menetapkan salah seorang perumus naskah proklamasi itu sebagai  pahlawan nasional. Kemarin, Emalia sebagai ahli waris menerima anugerah pahlawan nasional dari Presiden.
Emalia menuturkan, sudah sejak lama dirinya menginginkan gelar pahlawan bagi ayahnya. “Sejak beliau masih hidup yaitu dari 1957. Waktu itu, saya menulis sajak, Tentang Sukarni dan Rengasdengklok. Ini suatu anugerah dari Allah. Saya bekerja keras (mendapatkan gelar pahlawan bagi Sukarni) dari tahun lalu," tutur Emalia.
Sukarni lahir di tempat yang sama dengan Presiden Soekarno dibesarkan, yakni di Blitar, Jawa Timur. Sukarni berperan merumuskan naskah proklamasi serta mendesak Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan.
Menurut Emalia yang seorang dosen Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang, keluarga besar Sukarni menyambut gembira pemberian gelar pahlawan nasional. Kabar bahagia itu diterima dengan sangat mendadak.
"Rabu malam (5/11), baru diberi tahu ayah saya terpilih (sebagai pahlawan nasional). Keluarga besar senang sekali," ucap perempuan 61 tahun itu.
Sukarni adalah satu dari empat tokoh yang diangkat sebagai pahlawan nasional. Tiga yang lain adalah Letjen (Purn) Djamin Ginting, Kiai Haji Abdul Wahab, dan HR Mohammad Mangoendiprojo.
Dalam acara di Istana Negara, kemarin, suasana haru begitu lekat ketika Presiden Jokowi mengajak mengheningkan cipta sejenak. Presiden mengajak memberi hormat kepada empat tokoh bangsa yang kemarin diangkat sebagai pahlawan nasional.
Tri Haryo Susilo, cucu HR Mohammad Mangoendiprodjo, sangat bersyukur dengan pemberian gelar. "Dengan penuh kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah, khususnya Presiden Joko Widodo," kata Tri Haryo yang juga CEO PT Supreme Energy.
HR Mohammad yang diangkat sebagai pahlawan adalah ayah dari Letjen Himawan Soetanto juga kakek dari Menko Kemaritiman Kabinet Kerja Indroyono Susilo. Adapun HR Mohammad Mangoendiprojo, lahir di Sragen, Jawa Timur. Dia berjasa dalam revolusi di Surabaya. Dialah yang ikut mendesak Panglima Pertahanan Jepang Jenderal Iwabe menyerahkan senjata dan menguasai objek vital pada 1945.
Pahlawan nasional ketiga yang turut diberi anugerah adalah Letjen (Purn) Djamin Ginting. Seorang tokoh dari Tanah Karo, Sumut, yang berhasil dalam perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh.
Istri almarhum menjadi ahli waris, Likas Ginting, mengaku lega. Dia mengatakan, sempat kecewa dengan pemerintah karena pernah menjanjikan gelar namun tidak jadi. Padahal, dia merasa suaminya sangat pantas dianugerahi gelar pahlawan.
"Suami saya bekerja keras untuk kemerdekaan. Jadi 40 tahun sudah lewat, sekarang baru dapat anugerah. Tempo hari ketika dia meninggal, dia dijanjikan tapi tidak ada," ujar perempuan 90 tahun itu.
Dengan pemberian gelar, Likas tidak ingin muluk-muluk. Lagi pula, dia merasa usianya sudah uzur. "Saya berterima kasih kepada Pak Jokowi dan staf. Saya bangga, saya sudah 90 tahun, mungkin saya tak lama lagi menyusul dan saya juga akan dimakamkan di Kalibata (Taman Makam Pahlawan). Sudah disiapkan Depsos (Kemensos)," katanya.
Para ahli waris secara simbolis menerima sebuah plakat bertuliskan nama para Pahlawan Nasional, nomor keppres, 115/TK/2014 dan tanggal keppres keluar. Berdasarkan UU 20/2009, para ahli waris berhak mendapatkan tunjangan kesehatan, pemugaran makam, dan tunjangan renovasi rumah.
Tokoh terakhir adalah KH Abdul Wahab. Seorang kiai Nahdlatul Ulama (NU) dari Jombang, Jawa Timur. Dia berperan merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Cicit Kiai Wahab tidak lain Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau akrab disapa Romi.”Saya ucapkan terima kasih atas nama keluarga besar Kiai Wahab. Beliau memiliki nilai perjuangan sejarah mempertahankan kemerdekaan,” katanya.
Menurut Romi, pemberian gelar merupakan penghargaan yang tinggi bagi keluarga besar NU. Dia menilai penghargaan memberikan pelajaran bagi bangsa tentang arti perjuangan dan pengorbanan seorang pahlawan. ”Salah satu putra terbaik NU dapat penghargaan sedemikian tinggi. Ini pelajaran bahwa pada dasarnya saat kita memberikan penghargaan untuk tokoh-tokoh pendahulu, ada pelajaran yang dipetik yakni ketulusan dan keikhlasan terhadap simbol hidup bangsa,” tutupnya. (ken/end/jpnn/fel/zal/k8/KALTIMPOS)

 

Related posts

40 Kepala SMP/MTs Ikuti Pelatihan di Balikpapan

admin

MUI Penajam Paser Utara (PPU) Kecam Keras Pengguna Narkoba dan Miras

admin

Universitas NU Kaltim Diresmikan dan Telah Memiliki 100 Mahasiswa

admin

Jilboobs tak Sesuai dengan kaidah Islam

admin

Kecamatan Sepaku – PPU : Maulid Nabi Jangan Cuma Tradisi Belaka

admin

Meriahkan Muharram dengan Jalan Kaki di Melak Kutai Barat Kaltim

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami