Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Islam Balikpapan

Gaya Dakwah Muhammadiyah di Balikpapan Dari Waktu ke Waktu

MADINATULIMAN.COM – Muhammadiyah salah satu organisasi Islam Tanah Air yang punya peran besar dalam menyebarkan dakwah. Sejak kedatangan organisasi yang didirikan Ahmad Dahlan ini, pada 1933 silam di Sangasanga, Kutai Kartanegara, (berdasarkan Surat Ketetapan Hoofdbestuur Moehammadijah Nomor 427/-T tanggal 17 September 1933 bertepatan tanggal 26 Djoemadal Oela 1352), organisasi lantas melebarkan sayap hampir ke semua kabupaten dan kota di Kaltim.

 
“Di Balikpapan sebenarnya sudah ada sejak 1932 berdasarkan wawancara saya dengan tokoh-tokoh sepuh Muhammadiyah,” terang Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Balikpapan Muhammad Hendro, Minggu (3/6/2018). Sebagai organisasi sosial keagamaan, dakwah menjadi agenda utama. Karena itu, sejak awal, konsentrasi dan fokus adalah pengembangan dakwah itu sendiri. Jika awal perjuangan, metode yang dipakai lebih kepada mengubah pemikiran masyarakat. Yang saat itu masih tradisional dalam memahami agama Islam. “Sehingga yang dikuatkan adalah penanaman akidah dan fikih di masyarakat,” ujar Hendro.
 
Memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan sumber aslinya. Yakni, Alquran dan Sunnah Rasul Muhammad. Namun memasukkan pemahaman ini kepada para orangtua yang sudah lama bersinggungan dengan tradisi di luar Islam, tak semudah membalik telapak tangan. Karena itu, diperlukan konsistensi dan bimbingan. “Masing-masing masa punya tantangan tersendiri. Tentu tantangan dulu dan sekarang berbeda. Juga dengan tantangan masa depan,” ucapnya.
 
Zaman milenial saat ini diakuinya persoalan yang dihadapi Muhammadiyah semakin kompleks. Yang paling terasa adalah perubahan arus pemikiran melalui dunia digital. Modernisasi berbagai lini kehidupan membuat Muhammadiyah juga harus bergerak cepat. Tak ingin ketinggalan dan terbawa arus. Ada upaya untuk bisa masuk dan makin memperluas jaringan dakwah. “Dakwah kini tak lagi harus berada di atas mimbar atau bertemu langsung dengan masyarakat. Tetapi ada tuntutan menghadirkan dakwah itu ke genggaman,” sebutnya.
 
Untuk itu Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) hadir. Dibentuk pada Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan, 2–7 Agustus 2015. MPI punya tugas penting mendigitalisasi syiar Islam. Bidang ini juga punya peran penting untuk mewujudkan sistem informasi yang mencakup pengembangan pustaka dan informasi yang unggul, terintegrasi dan masif, sebagai visi pengembangan.
 
“Lewat MPI ini, strategi teknologi dan informasi disusun. Agar kami mampu menjadikan wilayah ini sebagai arena untuk dakwah. Seperti di Samarinda saat ini sedang berlangsung pengajian Ramadan pimpinan wilayah,” bebernya.
 
Pengajian bukan hanya membaca Alquran. Di selanya diangkat persoalan-persoalan yang sedang dihadapi para mubalig Muhammadiyah. Temanya pun tak lepas dari tantangan berdakwah di zaman milenial. Dengan isi yang garis besarnya, Muhammadiyah harus mampu beradaptasi dan tampil ke depan untuk menggunakan teknologi dan informasi untuk hal yang sifatnya positif.
 
“Seperti dakwah melalui website, akun media sosial, berbagi video, dan lainnya. Dan ini sudah jalan. Meski dalam tingkat yang sederhana, kami terus berkembang,” katanya.
 
Selain digitalisasi, keterbukaan informasi dan pendidikan juga mempermudah proses dakwah. Di Kaltim, khususnya di Balikpapan, Hendro mengaku terkesan dengan kultur masyarakatnya. Yang terbuka secara pikiran dan hati dalam setiap penyampaian dakwah. Pesan yang selama ini dikirimkan dapat diterima dengan akal sehat. “Muhammadiyah dapat diterima dengan lebih cepat di Balikpapan. Karena positif dan masuk akal. Jadi gaya dakwah kami tak pernah ada problem berarti hingga kini,” sebutnya.
 
Dalam perjalanan waktu pun, Muhammadiyah tak mendapat tentangan dari para birokrat. Begitu juga dengan organisasi sosial keagamaan lain hingga di luar Islam. Segala sesuatu persoalan sosial yang sedang merundung negeri ini, tokoh-tokoh Muhammadiyah pasti diundang dan tampil dalam forum memberikan masukan dan solusi.
 
“Karena kami tak ingin tampil sebagai sosok yang eksklusif. Tidak. Jadi kalau soal tantangan tidak banyak. Karena masyarakat pun cerdas dalam memahami model dakwah kami,” tuturnya.
 
Perbaikan pola dakwah masih terus dilakukan. Ini jadi tantangan sendiri di internal organisasi yang sudah ada selama 106 tahun itu. Agar dakwah yang dilakukan bisa diterima 100 persen oleh masyarakat. Karena tujuan utama memang mengubah pola pikir masyarakat untuk berjalan ke dalam trek Islam yang murni.
 
“Terutama dakwah yang menyentuh kepada anak-anak muda. Ini kami usahakan. Sebab, mereka lebih akrab dengan teknologi dan informasi,” sebutnya.
 
Dengan jiwa muda Muhammadiyah juga, generasi muda diajak melalui sarana yang mereka kuasai. Dengan begitu, apa yang disampaikan akan lebih akrab di telinga dan diterima oleh akal dan hati. Ini juga sebagai upaya perbaikan moral. Mengingat serbuan budaya dan tradisi di luar konteks Islam semakin berkembang pesat. “Semoga MPI ini yang diisi oleh anak-anak muda yang paham teknologi informasi bisa mengembangkan dakwah dan syiar kepada sesama generasi muda,” jelasnya. (timkp/KALTIMPROKAL)

Related posts

BAZNAS Balikpapan Beri Bantuan Daging Sapi di wilayah Pinggiran

admin

Fatayat NU Balikpapan Gelar Konferensi di Hotel Mega Lestari

admin

Musda MUI Kecamatan di Balikpapan Usung Tema Implementasi Islam Moderat

admin

Santri Ponpes Nurul Khaerat Balikpapan Juara LSN Regional Kalimantan 1

admin

Malam Pertama Tarawih Masjid At-Taqwa Dipenuhi Ribuan Umat Islam

admin

Balikpapan : I’tikaf Dengan Membaca Al-Qur’an, Shalat Tasbih hingga Shalat Mutlaq

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami