Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Tausiyah

H Abdussamad (Ketua MUI Balikpapan) ; Menuju Insan yang Muttaqien

Oleh : Drs H Abdussamad Abdullah MM (Ketua MUI Kota Balikpapan Bidang Pemberdayaan Ekonomi Ummat dan Pembinaan Seni Budaya Islam)
 
Kereta kencana Ramadhan dari langit meluncur ke bumi persis pada malam ini , Jumat 20 Juli 2010.   Ia  akan membawa manusia  ke alam malakut, tempat bersemayam jiwa-jiwa yang tenang dan batin yang memancarkan keseimbangan hidup. Ia juga akan membawa manusia lepas dari dominasi kekuatan materi  yang selama ini telah melunturkan dan  bahkan telah merampas  hak-hak jiwa manusia sampai  ia  menjadi  lemah dan kurang berdaya.
 
Bumi dengan segala keadaannya sungguh  seringkali menyeret umat manusia ke lembah kenikmatan yang tak pernah puas,  sehingga segala hidupnya hanya berorientasi pada kesenangan semata dan tak ada kesempatan sejenak untuk berfikir tentang hakikat penciptaannya,  bilapun ada tak ubahnya seperti suara-suara senyap yang mampir ditelinganya. Keadaan ini tentu akan membahayakan dirinya dan keluarganya. Mengapa? Ya bukankah hidup ini akan dipertangung jawabkan dihadapan Tuhan?
 
Beruntung kemudian Allah Yang Maha Penyayang mengirim sekali setahun berupa kereta kencana Ramadhan  yang indah nan agung ke bumi  untuk umat manusia dan khususnya mereka yang beriman. Masalahnya kemudian, adakah manusia yang mau menumpangi kendaraan itu ? Sungguh beruntung mereka yang memberi respon namun alangkah ruginya bagi mereka yang menolaknya.
 
Setiap kerja dan hasil yang dicapai manusia dalam hidup ini merupakan sebuah perjuangan yang amat melelahkan, namun bila itu hanya untuk memenuhi hasrat rendahnya, yakni perut dan hawa napsunya, maka apa bedanya ia dengan makhluk Tuhan lainnya. Padahal penciptaan manusia itu dengan maksud yang amat mulia dan luhur. Ia harus lebih tinggi dari segala makhluk yang ada di jagad ini bahkan harus melebihi malaikat. Untuk tujuan yang agung itu,  maka Tuhan menempatkan manusia sebagai khalifah-Nya dengan Sang Penciptanya  selaku  Komisaris dan manusia Ia posisikan sebagai meneger dan eksekutor.
 
Dapatkah manusia menggemban tugas mulia itu bila dalam hidupnya hanya diorientasikan  untuk kesenangan hidupnya, sementara hidup selaku wakil Tuhan itu tidak lepas dari pengorbanan yang menggudang, bahkan terkadang membuat dirinya jauh dari kesenangan atau dengan perkataan lain sangat miskin karena terlalu banyak berkorban untuk orang lain. Tidak dimaksudkan menyengsarakan dirinya namun ia menyadari bahwa orang yang hidup di sekelilingnya jauh lebih menderita sehingga ia merasa tidak pantas bersenang-senang dimata mereka. Ia baru akan menikmati bila orang disekitasnya tidak lagi susah dan menderita.
 
Sosok manusia sejenis itu akan sampai pada maqom kemanusiannya  bila ia  telah mengisi,  mengasah jiwanya dan  melatihnya dengan senantiasa menaklukan hasrat perut dan hawa napsunya. Mustahil manusia yang mengumbar hawanapsunya bisa menjadi wakil Tuhan dan mengawal kehidupan ini,  apalagi akan menebar kebaikan, yang terjadi bukan kebaikan tapi bencana dan kemudhorotan. Seorang rohaniawan kaliber dunia pernah berkata : “  Dunia ini tidak cukup untuk seorang yang rakus “.
 
Insan Mutaaqin adalah sosok yang telah melakukan proses penempaan jasmani dan ruhani. Dan, ibadah Ramadhan adalah salah satu metode Islam yang ditawarkan dalam rangka membentuk insan-insan muttaqin.
 
Islam bertujuan melahirkan sebanyak-banyaknya insan muttaqin itu untuk mengawal bumi ini dan sekaligus memlihara amanah Allah Swt. Mengapa Tuhan memilih-Nya ? Ya, insan muttaqin itu telah teruji dengan kesanggupannya yang telah menempatkan semua hidupnya bukan untuk tujuan materi dan kesenangan semata. Sosok ini telah mampu menaklukkan diri dan telah membebaskan dirinya dari perbudakan hasrat perut dan hawanapsu. Ia bukan lagi sebagai hamba harta benda dan kekuasaan tapi harta benda dan kekuasaan itu ia jadikan sebagai kuda yang akan membawanya pada kemaslahatan umat manusia.
 
Ibadah Ramadhan dengan seperangkat nilai yang terkandung di dalamnya, akan mampu menghantarkan kita menjadi insan yang cerdas, akan lahir insan-insan yang bergerak maju untuk mengawal kedamaian dan kenyamanan, terlebih ketika Kota Balikpapan ini terus melalaju dengan konsep-konsep pembangunan yang tidak lepas dengan nilai-nilai religius, sebuah Kota yang akan tampil dengan kekuatannya sendiri senantiasa  menggandeng nilai-nilai spiritual didalamnya, sehingga cita-cita seluruh masyarakat dapat terakomodir dengan tujuan yang mulia Balikpapan Menuju Kota Madinatul Iman, semoga dengan insan yang muttaqien, yang dilahirkan oleh Ramadhan akan dapat meraih semua harapan ini. Amiin.(*/han/BALIKPAPANPOS)
 

Related posts

Esensi Makna dan Hikmah Idul Fitri

admin

Berdakwah dan Berfatwa hanya dengan “Sampaikan Walau Satu Ayat” ?

admin

Menyikapi Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

admin

Redaksi Khutbah Idul Adlha untuk Para Khatib

admin

KH Anas Muchtar (Ketua MUI Bidang Fatwa) ; Ramadan Bulan Pertaubatan

admin

KH. Moh. Anas Muchtar : Pentingnya Sertifikasi Halal Melalui LPPOM dan MUI

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami