Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Tausiyah

H Sugianto (Ketua Komisi Dakwah MUI Balikpapan) ; Rahasia Shaum

Rahasia Shaum
Oleh: Drs.H.Sugianto,MM (Ketua Komisi Dakwah MUI Balikpapan)

 
Sebagai muslim yang sejati, menyambut kedatangan dan kehadiran Ramadhan 1433 H pastilah dengan penuh rasa kesyukuran dan kegemnbiraan serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah shaum (puasa) Ramadhan dengan rangkaian ibadah lainnya yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW dengan ikhlas, khusyu’, istiqamah dan kesungguhan semata-mata untuk meraih ridha dan karunia Allah SWT, sehingga dapat terpancar dalam jiwa , sikap dan tingkah laku sehari-hari yang mencerminkan kepribadian muttaqin yang utuh dan kokoh.
 
Jika setiap muslim, baik sebagai individu maupun kolektif benar-benar berkepribadian muttaqin yang utuh dan kokoh, maka selain akan menjadi benteng ruhani dan moral yang kuat dalam menjalankan kebaikan (amar ma’ruf) serta mencegah keburukan (nahi mungkar), pada saat yang sama akan menjadi kekuatan besar dalam ikhtiar membangun karakter bangsa di kota Balikpapan menuju Madinatul Iman.
 
Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia shaum (puasa) yang dii wajibkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di bulan Ramadhan.
 
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.
 
1.Menguatkan Jiwa.
 
Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadii keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam artii berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan melawan hawa nafsu ini, manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23).
 
Ibadah puasa melatih manusia mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanyamenjadi kuat, bahkan manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).”
 
2.Mendidik Kemauan.
 
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginan yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.
 
3.Menyehatkan Badan.
 
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar sesuai dengan sunnah juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
 
4. Mengenal Nilai Kenikmatan.
 
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menyebutkan berkali-kali dalam Qur’an surah Ar-Rahman yakni:”Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan?”, tapi memang tidak banyak manusia yang bersyukur dengan nikmat itu karena hawa nafsunya lebih mendominasi. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah lebih dari cukup karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
 
Dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh untuk memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah.
 
Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur akan nikmatKu, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur/mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).
 
5.Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.
 
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, yakni pada saat berbuka. Sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita yang taraf hidupnya masih dibawah garis kemiskinan, yang untuk makan saja memerlukan pengorbanan besar untuk mendapatkannya.
 
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, kita diwajibkan membayar zakat karena zakat itu tidak hanya penting bagi penerimanya tapi juga bagi para mustahik dalam rangka menghilangkan kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, karena dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).
 
Sambut dengan gembira.
 
Rahasia puasa merupakan hal yang patut kita renungkan, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.Rasulullah saw bersabda bahwa setiap Ramadhan tiba malaikat turun kedunia sembari menyeru kepada manusia: Yaabagil khoiri absir, wayaabagissari aqsir ( wahai orang-orang yang suka berbuat kebaikan berbahagialah, dan wahai orang-orang yang suka berbuat keburukan berhentilah, HR.Ahmad dan Nasai)
 
Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan dan pemantapan ketaqwaan kepada Allah Swt. Jadikan Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang paling baik buat kita. Mudah-mudahan Allah SWT memasukkan kita ke dalam orang-orang yang bertaqwa.(*han/BALIKPAPANPOS)

Related posts

KH. Moh. Anas Muchtar : Pentingnya Sertifikasi Halal Melalui LPPOM dan MUI

admin

HM Roem Arbain ; Segera Tunaikan Zakat, Infaq dan Shadaqah

admin

Ustadz NU Balikpapan Ajak Umat Kawal Pilpres dengan Damai, Pilihan Soal Selera

admin

Ust. Imam Warosyi ; Jika Membayar Zakat Fitrah Berupa Uang

admin

Esensi Makna dan Hikmah Idul Fitri

admin

H. Abdul Muis (Ketua MUI Balikpapan) ; Puasa Ramadhan & Loyalitas Keimanan

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami