Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Ubudiyah

Hal-Hal Yang Dianjurkan (Sunnah-Sunnah) Ketika Hari Raya

Mandi untuk Shalat ‘Ied
 
Hukumnya sunnah mandi untuk shalat dua hari raya. Berdasarkan riwayat-riwayat mengenai hal ini. Juga karena pada hari raya banyak manusia berkumpul untuk melaksanakan shalat maka disunnahkan mandi untuk menghadirinya sebagaimana hari Jum’at. Diantara riwayat tersebut adalah 
 

 
عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ، قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى 
“Dari Nafi’, bahwa bin Umar mandi pada hari raya Fitri sebelum berangkat dipagi hari menuju al-Mushalla”. (HR. Imam Syafi’i dan Imam Malik, shahih)
 
عَنِ الْحَسَنِ «أَنَّهُ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Dari Al Hasan : bahwa ia mandi pada hari raya fithri dan hari raya kurban (al-adlha)” (HR. Ibnu Abi Syaibah didalam Al Mushannaf)
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam mandi pada hari raya fithri dan hari raya adlhaa”. (HR. Ibnu Majah ; disebutkan didalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa sanadnya dloif)
 
عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، «أَنَّ عَلِيًّا كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ
"Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mandi pada hari raya fithri dan adlhaa sebelum berangkat dipagi hari”. (HR. Abdul Razzaq dalam al-Mushannaf)
 
Dikatakan didalam Takmilah Al Majmu’ : “Imam Syafi’i beserta ashhab / para ulama syafi’iyah menganjurkan mandi untuk shalat hari raya, ini tidak ada perselisihan, dan yang muktamad mengenai dasar hal ini adalah atsar Ibnu Umar, qiyas pada shalat Jum’at”
 
Dalam hal waktu untuk mendapatkan fadlilah atau pun pahala kesunnahan mandi untuk shalat ‘ied, ada beberapa pendapat, diantaranya boleh mandi setelah terbit fajar, dan yang lebih shahih berdasarkan ittifaq (kesepakatan) ulama syafi’iyah adalah boleh mandi sesudah fajar atau pun sebelum fajar. Ada juga yang membatasi sebelum fajar boleh tapi setelah pertengahan malam (nishful lail) dan tidak sah bila sebelum pertengahan malam. Ada juga yang mengatakan tetap sah pada seluruh malam tersebut mandi untuk shalat ‘ied.
 
Memakai Pakaian Yang Paling Bagus dan Wangi-Wangian
 
Lebaran tidak harus serba baru, namun bila ada yang baru dan paling bagus maka hendaknya dipakai. Bila tidak ada, maka gunakan pakaian yang paling bagus. 
 
عَنْ جَعْفَر بْن مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةَ فِي كُلِّ عِيدٍ
“Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memakai pakaian budah hibarah pada setiap hari raya”. (HR. Asy-Syafi’i dan Al Baihaqi didalam As-Sunanul Kubro)
 
Hibarah merupakan salah satu jenis pakaian yang dikenal di negeri Yaman, termasuk salah satu jenis burdah.  Namun hadits tersebut dloif. Didalam Takmilah Al Majmu’ dikatakan :
 
“Telah sepakat ashhab/ ulama syafi’iyah beserta Imam Syafi’i mengenai anjuran mengenakan pakaian yang paling bagus pada dari raya”.
 
Dalil hal tersebut adalah hadits riwayat Al Bukhari pad Bab fi al-‘Idayni wat Tajammuli fiy (tentang Hari raya dan Berhias Didalamnya),
 
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ، فَأَخَذَهَا، فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالوُفُودِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ
 “Sungguh Abdullah bin Umar, ia berkata : “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual dipasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, beliah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di hari raya dan penyambutan. Rasulullah berkata kepada Umar : “sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian (akhirat)”. (HR. Al Bukhari)
 
Didalam Fathul Bari (li-Ibni Rajab Al Hanbali) dikatakan : “Dan sungguh hadits ini menunjukkan tentang berhias pada hari raya dan ini merupakan kebiasaan diantara mereka. Telah berlalu hadits tentang pakaian Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam yaitu burdah berwarna merah, hal in kebanyakan dipegang oleh ulama, yaitu pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i beserta ashhabnnya, dan ulama-ulama selain mereka”. 
 
Jika misalnya memiliki dua pakaian yang sama-sama bagus, sedangkan satunya berwarna putih, maka lebih utama (afdlal) mengenakan yang berwarna putih. Namun, jika ada yang lebih bagus dari warna putih, maka gunakan yang lebih bagus. Dianjurkan juga mengenakan sorban.
 
Dianjurkan juga membersihkan / merapikan diri dengan merapikan (memotong) rambut, mengetok kuku dan menghilangkan bau yang tidak enak, karena hari itu adalah hari raya, maka disunnahkan sebagaimana hari Jum’at. dan juga sunnnah memakai wangi-wangian, berdasarkan riwayat berikut ini,
 
عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدَ مَا نَجِدُ
“Dari Zaid bin Al Hasan bin Ali, dari ayahnya, radliyallahu ‘anhuma, ia berkata : Kami diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pada hari hari untuk memakai pakaian yang ada dan memakai wangi-wangi dengan apa yang ada”. (HR. Al Hakim didalam Al Mustadrak ‘alaa Al-Shohihain, Ath-Thabraniy didalam Al Mu’jam, dan Al Baihaqi)
 
Menghadirkan Wanita
 
Hari raya merupakan hari kebahagiaan seluruh umat Islam, oleh karena itu perempuan-perempuan yang tidak dzawat al-hai’at (memiliki kecantikan yang bisa membuat godaan) dianjurkan untuk ikut keluar menuju tempat pelaksaan shalat ‘ied. Hal berdasarkan sebuah riwayat Ummu ‘Athiyyah,
 
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ، وَالْحُيَّضَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ، وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا 
Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata : “Rasulullah telah memerintahkan kami agar kami (para wanita) keluar (pergi) pada ‘idul Fithri dan ‘idul Adlhaa yaitu para gadis-gadis (hampir / sudah baligh), wanita haidl dan wanita perawan yang biasa duduk di balik tirai rumah (tidak pernah keluar). Adapun wanita haidl hendaknya tidak mendekati (menjauh) dari shalat, melainkan menyaksikan kebaikan dan seruan orang-orang Islam. Aku bertanya : ya Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab , Rasulullah berkata : “hendaknya saudaranya meminjamkan jilbabnya”. (HR. Muslim)
 
Bagi wanita yang ingin hadir, hendaknya membersihkan diri namun tidak berwangi-wangian bahkan makruh memakai wangi-wangian, tidak memakai pakaian yang mencolok. Didalam Takmilah Al Majmu’ disebutkan : “Imam Syafi’I dan ashhab / ulama Syafi’i –rahimahumullah- menganjurkan wanita ghair dzawat al-hai’at menghadiri shalat ‘ied, adapuan dzawat al-hai’at yaitu mereka yang menggoda / mempesona karena kecantikannya maka dimakruhkan menghadiri, ini adalah madzhab”.
 
Dianjurkan juga menghadirkan anak-anak kecil yang mumayyiz pada pelaksanaan shalat ‘ied, dan boleh mendandani mereka pada hari raya. 
 
Mengumandangkan Takbir
 
Terkait dengan takbir, ada baiknya membaca artikel kami sebelumnya disini (Shighat (Bacaan) dan Hukum Takbir Hari Raya ('Idul Fithri dan 'Idul Adlha)). Diantara riwayat yang menuturkan tentang takbir ini adalah
 
عَنِ الزُّهْرِيِّ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ، فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ، قَطَعَ التَّكْبِيرَ
“Dari Az-Zuhri, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam keluar pada hari raya Fithri, dan mengumandangkan takbir hingga tiba di al-Mushalla, hingga selesai shalat, maka ketika shalat selesai, beliau menghentikan takbir”. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
 
عن نافع ، عن ابن عمر ، أنه « كان يغدو إلى المصلى يوم الفطر إذا طلعت الشمس ، فيكبر حتى يأتي المصلى يوم العيد ، ثم يكبر بالمصلى ، حتى إذا جلس الإمام ترك التكبير
“Dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa ia pergi pagi-pagi ke al-Mushalla (tempat shalat yaitu tanah lapang) pada ‘idul Fithri ketika terbit matahari, beliau bertakbir sampai tiba di al-Mushalla, kemudian tetap bertakbir ketika berada di-mushalla sampai ketika imam telah duduk menghentikan takbir”. (HR. Imam Al Baihaqi didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar)
 
ان ابن عمر كان يغدو إلى العيد من المسجد وكان يرفع صوته بالتكبير حتى يأتي المصلى ويكبر حتى يأتي الامام
“Sesungguhnya Ibnu Umar ketika pergi pagi-pagi untuk shalat ‘ied dari masjid dengan bertakbir nyaring sampai tiba di mushalla (tempat shalat), beliau bertakbir hingga imam datang”. (HR. Al Baihaqi didalam As-Sunanul Kubro)
 
Jalan Kaki dan Tidak Menggunakan Kendaraan
 
Sunnah menuju ke tempat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, tidak menggunakan kendaraan. Tapi bila menggunakan kendaraan, tidak apa-apa. Hal ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah didalam kitab Al Umm ;
 
أن الزهري قال " ما ركب رسول الله صلى الله عليه وسلم في عيد ولا في جنازة
“Bahwa Az-Zuhri berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam tidak berkendaraan pada hari raya dan tidak juga pada saat kematian”. 
 
Dalam riwayat lain disebutkan,
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا 
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam keluar menuju shalat ‘ied dengan berjalan kaki, dan kembalinya juga berjalan kaki” (HR. Ibnu Majah) 
 
عن الحارث الأعور عن علي رضي الله عنه قال " من السنة أن يخرج إلى العيد ماشيا
“Dari Al Haris al-A’war, dari Sayyidina Ali radliyallahu ‘anh, ia berkata : dan termasuk sunnah adalah keluar menuju shalat ‘ied dengan berjalan kaki”(HR. At-Turmidzi). 
 
Jalan Kaki Dengan Jalur Berbeda
 
Disamping dianjurkan jalan kaki, juga dianjurkan (sunnah) melewati rute / jalan yang berlainan ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘ied.
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
“Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu ‘anhuma, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam ketika hari raya berbeda rute perjalanannya” (HR. Al Bukhari)
 
Mengenai sebab kenapa Nabi melakukan hal ini, ada beberapa pandangan, karena untuk tabarruk terhadap penduduk dua jalan tersebut, ada juga yang mengatakan karena untuk ziarah kubur pada kerabat-kerabatnya di kedua jalur tersebut, untuk sambil menyaksikan penduduk di kedua jalur tersebut, untuk membuat orang-orang munafiq jengkel (marah), untuk semakin memperbanyak keramaian dan untuk semakin memperpanjang jalur sehingga semakin banyak pahalanya, ini pandangan yang lebih rajih. 
 
Makan Sebelum  Shalat ‘Idul Fithri, Tidak Makan Pada ‘Idul Adlha
 
Pada hari raya ‘Idul Fithri disunnahkan makan sebelum shalat. Sunnah juga memakan buah kurma dengan bilangan ganjil. Sedangkan pada saat ‘Idul Adlha, disunnahkan menahan diri dari makan hingga kembali dari shalat.
 
Imam Al Imraniy didalam kitab Al Bayan mengatakan : “dan mustahab (sunnah) makan pada hari raya fithri sebelum shalat. Imam Syafi’i berkata : {Jika tidak makan dirumahnya, maka boleh maka dijalan, atau di al-mushalla (tempat pelaksanaan shalat, yaitu tanah lapang) jika dimungkikan melakukan hal itu. Adapun hari raya Adlhaa, maka dianjurkan tidak makan sesuatu apapun hingga kembali dari shalat} ; berdasarkan riwayat Baridah {bahwa Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam tidak keluar shalat ‘ied fithri hingga beliau makan, sedangkan hari raya Adlhaa beliau tidak makan hingga kembali, maka makan dari sembelihannya”
 
Didalam Takmilah al-Majmu’ syarh Al Muhadzdzab dikatakan ; “Sunnah makan pada yaumul Fithri sebelum shalat, dan sunnah menahan dari makan pada yaumun Nahr / idul Adlha hingga setelah dari shalat, berdasarkan riwayat Baridah radliyallah ‘andh, ia berkata :
 
كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ويوم النحر لا يأكل حتي يرجع فيأكل من نسيكته
“Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam tidak keluar shalat ‘ied fithri hingga beliau makan, sedangkan hari raya Adlhaa beliau tidak makan hingga kembali, kemudian makan dari sembelihannya”
 
Juga sunnah makan buah tamr (kurma) dan jumlahnya ganjil, berdasarkan riwayat Anas radliyallahu ‘anh, 
 
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم " كان لا يخرج يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وترا 
“Bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alayhi wa Sallam tidak keluar shalat ‘Idul Fithri hingga makan beberapa tamr (kurma) dan makan dengan jumlah yang ganjil”.
 
Imam Al Imraniy didalam Al Bayan juga mengatakan : “Sunnah pada hari raya Fithri memakan kurma dengan jumlah ganjil ; bisa tiga, atau 5 atau 7, atau lebih banyak dari hal itu, berdasarkan riwayat Anas radliyallahu ‘anh”.
 
 
Wallahu A'lam
Penulis : Abdurraheem

 

Related posts

Mengangkat Tangan Didalam Shalat

admin

Risalah Ramadhan (4) ; Imam Syafi’i dan Generasi Salaf Ketika Khatmul Qur’an

admin

Fikih Shalat Dengan Posisi Duduk

admin

Hukum Menjaharkan Shalat-Shalat Sunnah

admin

Membaca Tasmi’ Tiap Bangun dari Ruku’

admin

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Amaliyah Didalamnya

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com