Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Hukum Air Muthlak Ketika Mengalami Perubahan Karena Sesuatu

MADINATULIMAN.COM – Hukum air multaq ketika mengalami perubahan karena sesuatu menjadi seperti air musta’mal, yaitu suci namun tidak boleh/bisa digunakan untuk bersuci dengan beberapa syarat, apabila ada satu saja syarat yang tidak terpenuhi maka air muthlak tersebut boleh/bisa dipergunakan untuk bersuci.

Syarat-syaratnya :

1. Terjadinya perubahan disebabkan oleh perkara yang suci, apabila disebabkan perkara yang najis maka air tersebut juga dihukumi najis.

2. Terjadinya perubahan disebabkan oleh “mukholith” (perkara yang mencampuri/larut), seperti kopi, sedangkan apabila disebabkan oleh “mujawir” (perkara yang berdampingan) seperti kayu ‘ud (gaharu), perubahan tersebut tidak membawa dampak pada hukum maka masih sah digunakan untuk bersuci.

Batas cakupan “mukholith” adalah perkara yang tidak mungkin dipisahkan dari air atau secara adat pandangan mata tidak bisa membedakannya. Sedangkan batas cakupan “mujawir” adalah perkara yang mungkin dipisahkan dari air atau secara adat pandangan mata bisa membedakannya.

3. Terjadi perubahan yang ekstrem, yaitu sekiranya nama air muthlak itu bisa berubah, seperti air sirup, air kuah dan air teh, maka tidak sah digunakan untuk bersuci. Kalau perubahan yang terjadi hanya sedikit saja, maka tidak masalah.

4. Penyebab perubahan adalah perkara yang bisa dihindari oleh air tersebut, maksudnya air bisa terjaga dari perkara tersebut. Berbeda dengan perkara yg tidak mungkin dihindari (secara alami) seperti lumut, maka air tersebut tetap sah digunakan untuk bersuci.

Kasus-kasus air yang mengalami perubahan :

1. Perubahan air disebabkan oleh kayu atau minyak itu tidak berbahaya/bermasalah, karena benda tersebut “mujawir” meskipun perubahan yang terjadi sangat ekstrem dan air bisa terhindar darinya.

2. Perubahan air yang disebabkan oleh sirup, zakfaron, cairan pewangi itu berbahaya/bermasalah (tidak bisa digunakan untuk bersuci) karena benda tersebut “mukholith”, (demikian ini) apabila memenuhi syarat-syarat yang lain.

3. Perubahan air yang disebabkan oleh berdiam pada suatu tempat dan tanah itu tidak berbahaya demikian juga perubahan yang disebabkan oleh benda yang ditempati dan dilewati oleh air. Oleh karena itu tidak berbahaya perubahan yang disebabkan oleh garam yang mencair, dedaunan yang rontok dari sebatang pohon tanpa di sengaja oleh seseorang, karena semua kasus ini tidak bisa dihindari serta sah digunakan untuk bersuci meski nama air sampai berubah.

Kasus-kasus jatuhnya najis ke dalam air :

1. Apabila airnya sedikit (kurang dari 2 qullah) maka dihukumi najis secara muthlaq dengan sebab murni masuknya najis ke dalamnya, meski air tidak mengalami perubahan.

2. Apabila airnya banyak (2 qullah atau lebih), maka tidak bisa dihukumi najis kecuali berubah warna, rasa dan baunya, meskipun perubahannya sedikit sekali

2 qullah secara etimologi: 2 bejana yang besar

2 qullah menurut ukuran syariat yaitu air yang timbangannya 500 rithel Baghdad (nama sebuah kota di Iraq) atau 575 rithel Tarim (nama sebuah kota di Yaman) dan menurut ukuran kontemporer kurang lebih 217 liter, yaitu setara dengan 10 jerigen

Permasalahan-permasalahan yang yang berkaitan dengan air mutanajjis :

1. Apabila air tersebut banyak dan kemasukan najis tetapi kita ragu apakah air tsb sudah masuk kategori berubah atau belum, apakah air tsb bisa digunakan untuk bersuci ?.

Jawabnya: Ya, air tsb bisa digunakan untuk bersuci karena asal air tsb adalah suci.

2. Apabila air tersebut banyak dan mengalami perubahan tetapi kita ragu-ragu apakah penyebab perubahannya itu perkara suci atau najis, bagaimana hukumnya ?

Jawab: Kami menghukumi dengan sucinya air tersebut, karena asal air tersebut adalah suci.

3. Apabila air tersebut banyak dan mengalami perubahan karena perkara najis, kemudian setelah beberapa selang waktu kemudian kita ragu-ragu apakah perubahan tsb sudah hilang atau masih ada ? Lalu bagaimana hukumnya ?

Jawab: Kami menghukumi dengan najisnya air tersebut, karena kita telah memastikan (mengetahui dengan nyata) atas kenajisan air tersebut.

(Namun menurut Imam Ibnu Hajar dan Ar Romli air tersebut kembali suci lagi, karena penyebab berubahnya kesucian air yaitu keyakinan atas perubahan ekstrem yang dialami air itu sekarang sudah hilang).

Penulis : Dodi ElHasyimi,
Referensi kitab At Taqriiraat As Sadiidah, 11 Maret 2019

Related posts

Hari Raya (‘Idul Adlha atau Idul Fithri) Bertepatan Dengan Hari Jum’at

admin

Bolehkah Berkurban dengan Sapi Betina Menurut Hukum Islam ?

admin

Hukum Main HP Saat Khutbah Jum’at

admin

Tadarus dan Mengeraskan Suara Ketika Membaca Al-Qur’an

admin

Hukum Non-Muslim Memasuki Masjid

admin

7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI