Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Hukum Daging Kambing Yang Menyusu pada Anjing, Halalkah ?

MADINATULIMAN.COM – Pertanyaan ini seakan tak habis-habis selalu ditanyakan dari tahun ke tahun. Inti bahasannya terletak pada hal berikut ini :

1. Hewan halal yang memakan barang najis biasanya disebut Jallalah. Bisa berupa unta, kambing, sapi, ayam dan lain-lain.

2. Nabi Muhammad melarang makan Jallalah. Tapi apakah lantas maknanya haram? Tidak sesederhana itu menyimpulkan hadis.

3. Ulama berbeda pendapat tentang larangan Nabi Muhammad itu. Yang masyhur dari Hanabilah adalah memaknainya sebagai keharaman seluruh jenis Jallalah. Sebagian Syafi’iyah juga berpendapat sama seperti itu dengan alasan ada percampuran antara yang halal dan yang haram. Namun, kebanyakan ulama tidak menganggapnya haram sebab dagingnya hanya bisa berubah sedikit saja, takkan berubah banyak sehingga dari daging kambing berubah ke daging anjing misalnya.

4. Ulama yang tak menganggap Jallalah haram tadi memaknai larangan Nabi Muhammad sebagai kemakruhan belaka. Itupun makruh hanya apabila dagingnya berubah rasa atau aromanya. Untuk terjadi perubahan daging semacam ini biasanya hewan itu memakan barang najisnya lama, tak hanya sesekali.

5. Bila dagingnya tak mengalami perubahan rasa dan aroma meski makanannya najis, maka tidak makruh melainkan mubah. Ingat, makruh sama sekali bukan haram (dibenci Allah dan Rasulullah) melainkan halal (tidak dibenci) yang bila dihindari maka dapat pahala. Hewan yang demikian oleh para ulama biasanya tak dimasukkan pada kategori Jallalah lagi. Makanya, hukumnya halal-mubah seperti hewan normal lain.

6. Hewan yang masuk kategori Jallalah sehingga dihukumi makruh tadi, kemakruhannya bisa hilang apabila dijauhkan dari makanan najis dan diberi makanan yang normal selama beberapa hari hingga diyakini sifat dagingnya sudah berubah seperti daging normal kembali (bukan Jallalah).

7. Hewan halal yang menyusu pada anjing mulutnya berstatus najis berat. Bila disembelih, maka mulut hewan tadi disucikan dahulu dengan cara menyucikan najis berat (7 kali basuhan yang salah satunya dicampur debu).

Ust. Abdul Wahab A.
Referensi: Majmu’ Syarh Muhaddzab, Al- Aziz Syarh al-Wajiz, dll.

Related posts

Fiqh Fauna: Air Bekas Jilatan Kucing Itu Suci

admin

Cara Mewakilkan Haji Kepada Orang Lain

admin

Oase Khilafah : Memahami Khilafah Dengan Benar dan Tepat

admin

Tradisi-Tradisi Sunnah yang Dilakukan Umat Islam di Hari Raya

admin

Risalah Ramadhan (3) ; 10 Pembatal Puasa Dalam Kitab Fathul Qarib

admin

Memahami Maksud Mencantumkan Nama Suami Dibelakang Nama Istri

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI