Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Hukum Memakan dan Memasak Ikan yang Masih Hidup

MADINATULIMAN.COM – Ikan merupakan makanan yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Ada berbagai macam ikan, baik yang hidup di air tawar maupun air asin (laut).

Bagaimana kiranya jika ikan yang baru diperoleh dalam kondisi hidup itu langsung dimakan atau dimasak (segera dimatangkan) dengan cara dipanggang (dibakar), digoreng, dipepes maupun dimasak dalam air. Demikian pula memotongnya dalam kondisi masih hidup.

Baca : Peristiwa-Peristiwa Diluar Kebiasaan Manusia (Khariqul Adat)

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja mengatakan:

يجوز قلي السمك حيا وكذا ابتلاعه إذا كان صغيرا ويعفى عما في باطنه
“Boleh menggoreng ikan hidup-hidup. Demikian juga boleh menelannya bilamana ikan itu kecil. Dan dimaafkan mengenai najis yang ada di dalam perutnya.”

Namun, ulama juga ada yang memakruhkannya karena termasuk daripada prilaku menyiksa ikan. Sebagaimana dijelaskan didalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (5/131) :

وَإِذَا أُخِذَ السَّمَكُ حَيًّا لَمْ يَجُزْ أَكْلُهُ حَتَّى يَمُوتَ أَوْ يُمَاتَ ، كَمَا يَقُول الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ . وَيُكْرَهُ شَيُّهُ حَيًّا ، لأِنَّهُ تَعْذِيبٌ بِلاَ حَاجَةٍ ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ سَرِيعًا فَيُمْكِنُ انْتِظَارُ مَوْتِهِ ” انتهى .
“Bila mengambil ikan yang masih hidup, maka tidak boleh memakannya hingga ia mati dengan sendirinya atau dimatikan, sebagaimana pendapat Hanafiyah dan Hanabilah, dan dimakruhkan menggorengnya dalam kondisi hidup karena menyiksa tanpa ada hal yang urgen (kebutuhan), sementara ia bisa mati dengan cepat maka masih memungkinkan untuk menunggu kematiannya”.

Sementara Imam An-Nawawi rahimahullah didalam Al-Majmu’ (9/81) :

وَلَوْ ابْتَلَعَ سَمَكَةً حَيَّةً أَوْ قَطَعَ فِلْقَةً مِنْهَا وَأَكَلَهَا أَوْ ابْتَلَعَ جَرَادَةً حَيَّةً أَوْ فِلْقَةً مِنْهَا فَوَجْهَانِ (أَصَحُّهُمَا) يُكْرَهُ وَلَا يَحْرُمُ
“Andai menelan ikan hidup-hidup, memotong bagian ikan dan memakannya, atau menelan belalang hidup-hidup, atau bagian dari belakang, maka dalam hal ini ada dua pendapat, pendapat yang lebih shahih (ashah) adalah dimakruhkan, tidak haram”.

Related posts

Hukum Forex, Emas, dan Indeks di Pasar Berjangka dalam Islam

admin

Hukum Berbicara Saat Wudlu’

admin

Shighat (Bacaan) dan Hukum Takbir Hari Raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlha)

admin

Bacaan Shalat Maghrib, Isya dan Shubuh Sendirian, Nyaring atau Lirih?

admin

Hukum Menulis Nama Jenazah di Nisan Kuburan menurut Fikih Islam

admin

Mengapa Indonesia Bukan Khilafah ? Kajian Khilafah dan Indonesia

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami