Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Ilustrasi
Fatwa Ulama Islam

Hukum Memperingati Hari Besar Islam menurut Ulama

MADINATULIMAN.COM Umat Islam di Kota Balikpapan (Madinatul Iman) banyak yang merayakan Isra’ Mi’raj dengan ceramah-ceramah agama (majelis taklim atau tabligh akbar) yang di isi oleh para Habaib, Ulama (Kiyai) dan sebagainya. Tidak hanya Isra’ Mi’raj namun juga hari-hari besar Islam lainnya. Dan kebiasaan syi’ar semacam ini tidak hanya di Madinatul Iman, namun juga diseluruh Indonesia dan di seluruh dunia.

Terkait kegiatan semacam ini, Mufti Agung Al-‘Allamah Syaikh Prof. Dr. ‘Ali Jumu’ah pernah memberikan fatwanya yang isinya sebagai berikut :

Memperingati hari-hari besar Islam merupakan hal yang baik selama tidak disertai dengan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Karena, terdapat dalil dalam Al-Qur’an yang menyuruh agar kita mengingatkan orang-orang akan hari-hari Allah. Allah SWT berfirman,

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ

“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. (QS. Ibrahim 14 : 5).

Di dalam Sunnah juga terdapat anjuran untuk melakukan hal tersebut. Dalam Shahîh Muslim diriwayatkan bahwa Nabi SAW melakukan puasa pada hari Senin, dan beliau bersabda,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ
“Itu adalah hari dimana aku dilahirkan.”

Dalam hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dia berkata, “Ketika Rasulullah saw. datang ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Lalu beliau bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah. Maka kami pun berpuasa karenanya.” Maka Rasulullah saw. pun bersabda, “Jika demikian, kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Nabi saw. pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.”

Dengan demikian, mengadakan perayaan hari-hari besar Islam seperti yang dipaparkan dalam pertanyaan adalah perbuatan yang dianjurkan, bukan bid’ah ataupun makruh. Justru hal itu adalah termasuk dalam bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar agama Islam. Allah SWT berfirman,

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj 22 : 32).

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Source : Darul Ifta Mesir

Related posts

Hukum Memperingati Hari Ibu adalah Dibolehkan

admin

Fatwa Seputar Memfoto dan Memajang Foto

admin

Do’a dan Shadaqah Bermanfaat bagi yang Hidup maupun Mayyit

admin

Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia

admin

Larangan Menganggap Sesuatu Sebagai Pembawa Sial

admin

Pelecehan Mubtadi’ terhadap Manhaj, Aqidah dan Ulama Al Azhar

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami