Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Fikih Shalat Pilihan Utama

Hukum Shalat Isya’ Bermakmum kepada Imam Shalat Tarawih

MADINATULIMAN.COM – Shalat Isya’ merupakan shalat ruba’iyyah (4 raka’at) yang hukumnya wajib, sementara shalat tarawih merupakan shalat yang dilaksanakan dua raka’at yang hukumnya sunnah.

Dari segi hukum dan jumlah raka’at, kedua shalat ini berbeda. Namun, memiliki sisi kesamaan yaitu af’al dhahir (format gerakan) kedua shalat tersebut sama. Yaitu berdiri, satu kali ruku’ setiap satu raka’at, i’tidal dan lain seterusnya. Berbeda halnya bila dibandingkan dengan shalat jenazah yang posisinya hanya berdiri, tanpa ruku’, sujud dan seterusnya.

Kesamaan semacam ini memungkinkan adanya iqtida’ (mengikuti), shalat dibelakangnya/ bermakmum. Oleh karena itu, ulama memperbolehkan praktik semacam itu.

Imam Al-Imrani (w. 558 H) didalam Al-Bayan fi Madzhabil Imam al-Syafi’i berkata :

يجوز للمفترض أن يأتم بالمتنفل، مثل: أن يصلي العشاء خلف من يصلي التراويح، فإذا سلم الإمام قام المأموم، فأتم صلاته.
“Boleh bagi orang yang shalat fardlu bermakmum dengan orang yang shalat sunnah, seperti shalat isya’ dibelakang orang yang shalat tarawih, sehingga bila seorang imam tarawih telah salam (selesai shalatnya) maka makmum berdiri menyempurnakan shalatnya”.

Demikian pula Imam An-Nawawi (w. 676 H) didalam Al-Majmu’ Syarh al-Mudzdzab :

وَلَوْ صَلَّى الْعِشَاءَ خَلْفَ التَّرَاوِيحِ جَازَ فَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ قَامَ إلَى رَكْعَتَيْهِ الْبَاقِيَتَيْنِ وَالْأَوْلَى أَنْ يُتِمَّهَا مُنْفَرِدًا فَلَوْ قَامَ الْإِمَامُ إلَى أُخْرَيَيْنِ مِنْ التَّرَاوِيحِ فَنَوَى الِاقْتِدَاءَ بِهِ ثَانِيًا فِي رَكْعَتَيْهِ فَفِي جَوَازِهِ الْقَوْلَانِ فِيمَنْ أَحْرَمَ مُنْفَرِدًا ثُمَّ نَوَى الِاقْتِدَاءَ الْأَصَحُّ الصِّحَّةُ
“Seandainya seseorang shalat Isya’ dibelakang shalat tarawih maka itu boleh. Bila imam telah salam maka ia berdiri melanjutkan dua raka’at sisanya, dan lebih utama menyempurnakan jumlah raka’atnya secara munfarid (shalat sendirian). Seandainya pun imam berdiri shalat tarawih lagi kemudian ia berniat iqtida’ (mengikuti) untuk kedua kalinya pada dua raka’at sisanya, maka dalam hal kebolehannya ada dua pendapat tentang orang yang shalat sendirian (munfarid) kemudian niat iqtida’ (bermakmum) yang mana pendapat yang ashah (lebih shahih) itu sah saja”.

Didalam madzhab Syafi’i, praktik shalat Isya’ mengikuti / bermakmum kepada orang yang shalat tarawih itu tidak hanya sah, bahkan seandainya dalam menyempurnakan raka’at sisanya ia berniat bermakmum lagi maka itu pun sah, walaupun yang lebih utama adalah melanjutkan shalat secara munfarid (sendirian).

Kebolehan praktik shalat fardlu bermakmum kepada shalat sunnah diatas, berdasarkan riwayat berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ: «أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ، فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ»
“Dari Jabir, bahwa Mu’adz bin Jabal shalat isya’ yang terakhir bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia kembali kepada kaumnya, maka shalat dengan kaumnya (sebagai imam) pada shalat tersebut (shalat isya’ juga)”. (HR. Muslim)

Didalam hadits diatas, shalat yang dilakukan bersama Rasulullah adalah shalat wajib yaitu shalat Isya’, dan ketika Mu’adz mengulangi shalat Isya’ bersama kaumnya, maka bagi Mu’adz itu hukumnya sunnah sedangkan kaumnya tetap shalat fardlu Isya’. Maka jadilah, imamnya shalat sunnah dan makmumnya shalat wajib. Praktik mengulangi shalat semacam ini (shalat i’adah) diperbolehkan dalam rangka mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah, tetapi tidak boleh mengulangi secara shalat sendirian.

Pendapat Ulama Lainnya
Praktik seperti diatas berdasarkan daripada madzhab Syafi’i, yang mana dipegang pula oleh ulama lain seperti ‘Atha’, Thawus, Al-Auza’i, Imam Ahmad dan Ishaq. Memang, tidak semua ulama sepakat dengan praktik shalat fardlu dibelakang shalat sunnah, atau bermakmum dengan disertai perbedaan niat tersebut.

Misalnya seperti yang disebutkan oleh Imam al-Imrani didalam kitab Al-Bayan berikut:

وقال الزهري، وربيع، ومالك، ويحيى الأنصاري: (إذا اختلفت نية الإمام والمأموم لم يصح أن يأتم به) . وقال أبو حنيفة وأصحابه: (يجوز للمتنفل أن يصلي خلف المفترض، ولا يجوز للمفترض أن يصلي خلف المتنفل، ولا للمفترض أن يصلي خلف المفترض، إذا اختلف فرضاهما) .
“Az-Zuhri, Rabi’, Malik dan Yahya al-Anshari berkata : “Apabila berbeda niat seorang imam dan makmum maka tidak sah mengikuti atau bermakmum padanya”. Sementara Imam Abu Hanifah beserta ashhabnya berkata: “Boleh bagi orang yang shalat sunnah bermakmum kepada orang yang shalat fardlu, namun tidak boleh bagi orang yang shalat fardlu bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, tidak boleh pula bagi orang yang shalat fardlu bermakmum kepada orang yang shalat fardlu apabila keduanya berbeda shalat fardlunya”.[]

Penulis : Abdurrohim

Related posts

Harlah ke-69, Fatayat NU Balikpapan Lantik Pengurus Ranting Baru

admin

Pelatihan Standarisasi Guru Tilawati di Masjid Al-Amin AURI Berjalan Sukses

admin

PTUN Sahkan Pembubaran HTI, Resmi Partai Terlarang

admin

Multaqa Ulama, Habaib dan Cendikiawan Muslim di Kutai Kartanegara Sukses Digelar

admin

Siapa Pencetus Kota Balikpapan Madinatul Iman ?

admin

Suasana Istighatsah HUT ke-73 TNI di Lapangan Merdeka Balikpapan

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI