Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Berita Internasional

Ikhwanul Muslimin Mesir Kritik Keras Militer, Al-Azhar, dan Gereja

MADINATULIMAN (Kairo) – Saat demo anti kekerasan pada Jumat lalu (21/6/2013), beberapa petinggi kelompok Islamiyyin memperotes sikap dan keputusan tiga instansi besar Mesir; Militer, Al-Azhar, dan Gereja. Sikap protes ini menimbulkan perpecahan di kalangan rakyat Mesir sebelum dilaksanakannya demo besar-besaran pada 30 Juni mendatang untuk menuntut lengser Presiden Mesir Mohamad Morsi dan sesegera mungkin diadakan pemilihan presiden baru.
 

Shafwat Hijazi, salah seorang petinggi Ikhwanul Muslimin, dengan tegas memprotes Grand Shaikh Al-Azhar, Prof. DR. Ahmad Tayyib, “Dia (Tayyib) mengeluarkan fatwa pada tahun 2011 bahwa mereka yang meninggal saat berdemo di bundaran Tahrir bukanlah mati syahid. Dan sekarang, kami juga berfikir demikian. Anda (Tayyib) melanggar fatwa lama Anda sendiri dan fatwa Anda tentang diperbolehkannya berdemo 30 Juni mendatang sebagai tindak protes kepada waliyul amri adalah fatwa yang batil.” Demikian pernyataan Hijazi, sebagaimana dikutip oleh harian asy-Syarqu al-Ausath.

“Wahai Thawdrous, Dr. Morsi adalah presidenmu dan ketua seluruh gereja di Mesir, serta presiden bagi semua warga Mesir. Kita akan selalu menjaga gereja dan tempat-tempat peribadatan,” lanjut Hijazi mengungkapkan ketidakpuasannya kepada pimpinan umat Koptik Mesir, Paus II Alexandria Thawdrous.

Merespon kritikan pedas tersebut, Kantor Grand Shaikh Al-Azhar (Masyikhah) segera mengeluarkan pernyataan resmi sebagai bantahan terhadap Hijazi, sebagaimana dikutip oleh harian Ahram. Di dalam pernyataan resmi tersebut ditegaskan bahwa Grand Shaikh Al-Azhar sama sekali tidak memihak kepada pihak tertentu dan tidak pula mengenyampingkan pihak lain. Semua keputusannya hanya untuk kemaslahatan agama. Grand Shaikh Al-Azhar melarang para pemuda turun berdemonstrasi pada 25 Januari 2011 lalu, karena takut terjadi pertumpahan darah. Sebab sudah jamak diketahui bagaimana tabiat Rezim saat itu. Dan semua juga tahu bahwa Al-Azhar merupakan instansi pertama yang memberikan gelar “Syahid” kepada mereka yang gugur saat revolusi 25 Januari. Adapun keterangan yang mengatakan bahwa Al-Azhar tidak menganggap korban revolusi 25 Januari sebagai Syuhada, hanyalah omong-kosong dan kebohongan belaka.

Setelah bertemu dengan Presiden Morsi dan Paus Thawdrous, Grand Shaikh Al-Azhar mengeluarkan fatwa bahwa, boleh hukumnya berdemonstrasi secara damai tanpa kekerasan sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasaan kepada pemerintah. Sependapat dengan Grand Shaikh Al-Azhar, Paus Thawdrous juga menyampaikan, bahwa umat Kristiani Koptik boleh mengikuti demonstrasi pada 30 Juni mendatang, sebab gereja juga ikut andil dalam kebaikan masyarakat. Menyampaikan pendapat dan pandangan adalah sebuah hak seperti halnya demonstrasi pada 25 Januari.

Fatwa ini membuat keresahan di kalangan kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok yang berkuasa di Mesir, karena salah satu hal yang diajukan pada demonstrasi 30 Juni mendatang adalah pemakzulkan Presiden Morsi.

Di pihak lain, Dewan Militer Mesir membantah pernyataan salah seorang pimpinan Partai Hurriyah wal Adalah, Mohamad Baltaji saat demo anti kekerasan lalu. Baltaji mengeklaim bahwa Dewan Militer ingin kembali menguasai Mesir. Dewan Militer menghimbau kepada seluruh masyarakat Mesir agar teliti dan berhati-hati dalam menerima informasi-informasi yang bersinggungan dengan keamanan warga Mesir. (aawsat,ahram/ay)

Source: mosleminfo

Related posts

Pernyataan Resmi Al Azhar Pasca Tragedi Berdarah di Mabes Paspamres

admin

Mufti Tatarstan : Memilih Imam Perlu Diperiksa Pendidikan Luar Negerinya

admin

3,5 Juta Pelajar Mesir Satu Barisan Bersama Al Azhar Lawan Para Pendengki

admin

Malaysia, Thailand, Singapura, Mesir Hingga Arab Saudi Puasa Rabu

admin

Krisis Mesir, Militer Siap Membela Rakyat Mesir

admin

Al Azhar Akan Buka Cabang Luar Negeri di Malaysia

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com