Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Pilihan Utama Ubudiyah

I’tikaf Boleh Kapan Saja, 10 Terakhir Ramadhan Lebih Ditekankan

MADINATULIMAN.COM – Pengertian I’tikaf secara bahasa adalah berdiam/tinggal, bertahan, dan menetapi. Imam Syafi’i berkata: “I’tikaf adalah menetapinya seseorang pada sesuatu, bertahannya diri diatasnya, baik maupun buruk (dosa)”.

Secara syara’, I’tikaf adalah berdiam/menetap didalam masjid daripada orang tertentu dengan niat tertentu. Maka makna I’tikaf hanya dialihkan (digunakan) didalam syari’at pada kebaikan dan kebaktian.

A. Dalil I’tikaf
Umat Islam telah bersepakat (ijma’) atas disyariatkannya i’tikaf. Dasar tentang i’tikaf sebelum adanya Ijma’ adalah Firman Allah SWT:

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid” (QS. Al Baqarah: 187)

Kemudian hadits riwayat ‘Aisyah radliyallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Nabi SAW melakukan i’tikaf pada 10 terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkannya, kemudian para istrinya beri’tikaf setelahnya”. (HR. Al-Bukhari)

I’tikaf merupakan ibadah yang sudah dikenal didalam syariat umat terdahulu sebelum Islam, sebagaimana Firman Allah SWT berikut ini :

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
” Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al Baqarah: 125)

B. Hukum I’tikaf
Hukum I’tikaf ada dua :

1. Istihbab (anjuran).
I’tikaf adalah sunnah hasanah yang tsabit, hukumnya mustahabb (sunnah) disetiap waktu sepanjang tahun, dan dibulan Ramadhan lebih disunnahkan, karena bulan Ramadhan adalah bulan paling mulya, didalamnya terhimpun ibadah puasa dan i’tikaf. Dan i’tikaf lebih ditekankan lagi pada 10 terakhir bulan Ramadhan, sebagai bentuk iqtida’ (mencontoh) prilaku Rasulullah SAW, serta dalam rangka mencari Lailatul Qadr yang merupakan malam paling utama.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

وَمَنْ أَرَادَ الِاقْتِدَاءَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اعتكاف الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ منه لكيلا يفوته شئ منه ويخرج بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْعِيدِ سَوَاءٌ تَمَّ الشَّهْرُ أَوْ نَقَصَ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَمْكُثَ لَيْلَةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ صَلَاةَ الْعِيدِ أَوْ يَخْرُجَ مِنْهُ إلَى الْمُصَلَّى لِصَلَاةِ العيد ان صلوها في المصلى
“Siapa yang ingin mencontoh Nabi SAW didalam hal I’tikaf pada 10 terakhir bulan Ramadhan, maka sepatutnya masuk ke masjid sebelum terbenam matahari pada malam 21 Ramadhan supaya tidak terlewatkan sedikit pun darinya dan keluar dari masjid setelah terbenam matahari pada malam hari raya, dan lebih utama tetap berdiam didalam masjid pada malam hari raya hingga dilaksanakan shalat ied didalam masjid tersebut atau keluar dari masjid menuju mushalla (tempat shalat berupa lapangan) untuk melaksanakan shalat Ied jika orang-orang shalat ied di lapangan”.

2. Wajib.
I’tikaf hukumnya wajib sebab nadzar. Jika bernadzar untuk i’tikaf maka hukum i’tikaf tersebut menjadi wajib, berdasarkan riwayat ‘Aisyah radliyallahu ‘anha:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ»
“Nabi SAW bersabda: siapa yang bernadzar untuk ta’at kepada Allah maka ta’atlah kepada-Nya, dan siapa yang bernadzar untuk berma’siat kepada Allah maka janganlah berma’siat pada-Nya”. (HR. Al Bukhari)

C. Rukun dan Syarat I’tikaf
Rukun I’tikaf terdiri dari: mu’takif (orang yang beri’tikaf), masjid, niat, dan al-lubts (berdiam).

Setiap rukun diatas ada syarat-syaratnya:

1. Syarat Mu’takif
Orang yang beri’tikad disyaratkan adalah Islam, beraqal, dan suci dari hadats besar (janabat, haidl dan nifas).

Tidak sah orang kafir asli dan murtad beri’tikaf karena i’tikaf bagian dari cabang keimanan sehingga tidak sah bagi orang kafir seperti halnya puasa. Tidak sah pula orang yang hilang aqal sebab gila, pingsan, sakit atau mabuk melakukan i’tikaf. Tidak sah pula i’tikafnya anak kecil (shabiy) yang belum mumayyiz, karena tidak ada niat bagi mereka, sementara niat adalah rukun didalam i’tikaf, dan karena mereka bukan ahlil ibadah (terkena kewajiban syariat). Tidak sah i’tikafnya wanita haidl dan nifas karena berdiamnya (muktsu) mereka didalam masjid adah ma’siat.

Sah i’tikafnya anak kecil (shabi) yang mumayyiz, wanita yang bersuami dan wanita lainnya tetapi disyaratkan ada izin suami. Haram bagi wanita tersebut i’tikaf tanpa izin suami.

2. Masjid
Tidak sah i’tikaf selain di masjid, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Sah i’tikaf disemua masjid, dan masjid jami’ yang didalamnya didirikan shalat Jum’at itu lebih utama (afdlal dan aula), karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’, juga karena jama’ah shalatnya lebih banyak, dan juga dalam rangka khuruj minal khilaf daripada ulama yang mewajibkan i’tikaf di masjid jami’.

Sah i’tikaf diatas masjid, serambi/rahbah, dan dinding masjid karena masih bagian dari masjid.

3. Niat
Wajib berniat diawal memulai i’tikaf, dengan niat berdiam (al-muktsu) didalam masjid untuk waktu tertentu dalam rangka beribadah kepada Allah. Keharusan ini karena sabda Rasulullah SAW :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amal-amal apapun berdasarkan dengan niat, dan sesungguhnya setiap perkara berdasarkan apa yang diniatkan” (HR. Al Bukhari)

Juga karena i’tikaf adalah ibadah mahdlah (murni) sehingga tidak sah tanpa adanya niat sebagaimana shalat dan puasa. Jika masuk masuk masjid untuk tujuan apapun dan tidak berniat i’tikaf maka tidak dianggap diamnya didalam masjid sebagai i’tikaf sesuai syariat.

Wajib niat didalam i’tikaf, baik i’tikaf sunnah maupun nadzar, baik ditentukan waktunya atau tidak ditentukan, tetapi jika i’tikaf sunnah maka cukup dengan niat i’tikaf secara mutlak. Tetapi jika i’tikaf nadzar maka wajib berniat fardlu i’tikaf untuk membedahkan dengan i’tikaf sunnah, dan tidak perlu menyebutkan / menentukan sebab wajibnya.

Pada dasarnya niat i’tikaf cukup sekali meskipun berdiamnya didalam masjid sangat lama (berbulan-bulan atau setahun), tetapi jika keluar masjid kemudian kembali lagi kedalam masjid maka perlu memulai niat baru lagi, sama saja baik keluarnya dari masjid itu karena qadlaul hajah (buang air) atau alasan lainnya. Hal itu karena i’tikaf sebelumnya itu adalah ibadah tersendiri yang sudah sempurna (mustaqillah tammah) dan tidak mencukupi niat i’tikaf yang sebelumnya untuk selainnya (untuk i’tikad yang kedua), maka wajib niat i’tikaf kembali, sebab itu sudah ibadah tersendiri lagi. Kecuali, bila saat keluar masjid sudah ada tekad (‘azm/niat) untuk kembali kedalam masjid maka adanya tekad ini menempati posisi niat, sehingga menjadi seolah-olah berniat dua waktu/periode dengan satu niat, sebagaimana seandainya shalat sunnah niat dua raka’at kemudian sebelum salam berniat menambah lagi dua raka’at atau lebih, maka tetap sah shalatnya sebanyak 4 raka’at sebagaimana berniat shalat 4 raka’at diawal shalatnya.

Seandainya berniat i’tikaf dengan menentukan waktunya, seperti berniat i’tikaf sehari atau sebulan, niat i’tikaf sunnah, atau i’tikaf nadzar dan tidak mensyaratkan tatabu’ (berturut-turut) maka jika keluar masjid untuk qadlaul hajah (kecing, BAB) kemudian kembali lagi, maka tidak wajib memperbaharui niat, karena sebab keluarnya niat sesuatu yang tidak bisa ditahan, maka tidak wajib mengulangi niat, meskipun lama buang airnya. Jika keluar masjid bukan sebab qadlaul hajah, maka wajib mengulangi niatnya untuk ke-sah-an i’tikaf jika menginginkan i’tikaf kembali, meskipun waktunya tidak lama, karena terputusnya i’tikaf yang pertama sebab keluar masjid bukan karena qadlaul hajah.

Jika sudah masuk dalam i’tikad kemudian berniat keluar, maka tidak batal i’tikafnya karena ibadah i’tikaf ini berkaitan dengan tempat, maka tidak bisa keluar darinya dengan niat keluar, seperti halnya ibadah haji.

4. Berdiam di Masjid (al-Lubtsu fil Masjid)
Tidak sah i’tikaf kecuali orang beri’tikaf berdiam didalam masjid, seukuran dalam kebiasannya disebut berdiam, kira-kira lebih lama daripada waktu thuma’ninah dalam ruku’ atau semisalnya. Tidak mencukupi bila sekedar thuma’ninah. Tidak wajib diam tenang tanpa gerakan didalam masjid, bahkan bisa mencukupi taraddad/ mondar-mandi didalam masjid. Tidak mencukupi sekedar murur (berjalan / melintasi masjid) tanpa berdiam (muktsu) dengan cara masuk melalui suatu pintu kemudian keluar pintu lainnya.

Keluar Dari Masjid
Bila I’tikaf sunnah maka boleh keluar dari masjid kapapun dia mau, dan i’tikafnya dianggap terputus.

Adapun bila i’tikaf nadzar dan mensyaratkan tatabu’ (berturut-turut) maka tidak boleh keluar dari masjid tanpa ada udzur. Jika tetap keluar masjid tanpa udzur maka batal i’tikad nadzarnya. Tetapi jika keluarnya karena qadlaul hajah seperti kencing, buang air besar, dan mandi ihtilam (sebab mimpi basah), maka tidak batal i’tikaf nadzarnya, karena keluarnya tersebut tidak boleh tidak (tidak bisa ditahan).

Yang dimaksud keluar dari masjid disini adalah keluar seluruh badannya dari seluruh bagian masjid tanpa udzur. Jika yang keluar tangannya saja, kakinya, atau kepalanya sja, maka tidak batal i’tikafnya, baik karena ada hajat/keperluan atau tidak ada keperluan, karena sekedar tangan atau kaki yang keluar tidak terhitung keluar masjid.

[4bd] Bacaan: Al-Mu’tamad 

Related posts

Konser Shalawat Nissa Sabyan di Ballroom Swiss Belhotel Balcony Balikpapan

admin

Harmoni Indonesia, Malam Budaya 73th di Gedung KNPI Balikpapan

admin

Siapa Bacalon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Balikpapan 2020-2025? Ikuti Survey Berikut

admin

Khutbah Idul Adlha : Rahasia Kesuksesan Nabi Ibrahim as atas Ujian dari Allah

admin

Tabligh Akbar Sayyid Seif Alwi di Islamic Centre Balikpapan Dibatalkan

admin

MUI Minta Hasil Ijtimak Ulama Komisi Fatwa MUI Dijadikan Pedoman Umat Islam

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI