Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Kiriman Pembaca

Jati Diri Islam dan Umat Islam di Maroko

Oleh : Muannif Ridwan (Mahasiswa Jurusan Islamic Studies di Univ. Imam Nafie, Tanger-Maroko, PIN BB: 26ADE27C)

Maroko banyak dikenal orang sebagai negara Islam yang bernuansa sufi. Memang sekilas kesimpulan itu benar, terutama bagi mereka yang melihat Maroko hanya sekilas atau berkunjung beberapa hari saja. Bagi saya yang hampir tiga tahun menetap di Maroko, tentu akan melihat Maroko dengan sisi lain yang sangat berbeda.
 

Simbol-simbol kesufian itu memang ada, bahkan seperti jamur yang tumbuh dimusim hujan. Tapi jamur-jamur itu kini layu kekeringan bak di musim kemarau, dan ada kemungkinan memang sengaja tidak disirami dengan ruh keislaman yang rahmatan lil alamin.

Walhasil ruh sufi itu kering kerontang, zawiyah (tempat dzikir Sufi) itu kini tinggal puing-puing yang menjadi obyek wisata turis mancanegara dan devisa Negara. Tentu ini semua tak lain akibat pengaruh pemikiran ulama yang baru datang belakangan dengan membawa jargon “salafi”, dengan slogan “kembali kepada al Quran dan as Sunnah”.

Kalau anda berkunjung ke Maroko, pasti akan banyak menemui Zawiyah-zawiyah yang bercereran hampir diseluruh kota di Maroko, bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Tapi disana anda akan mendapatinya seperti rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Yang tak lain kini hanya sebagai tempat sholat lima waktu bagi warga terdekat atau wisatawan yang sedang berkunjung.

Ganasnya Virus salafi wahabi yang berhembus dari ulama kalangan bawah (non jabatan pemerintah) yang mayoritas jebolan Haramain (Makkah-madinah) itu, telah mengubah religiusitas (keberagamaan) masyarakat Maroko yang notabenenya tradisionalis (menjaga dan menghargai tradisi yang berkembang) dan moderat sebagaimana pernah diungkapkan oleh penyair terkenal Maroko, Ibnu ‘Asyir yang wafat pada tahun 1040 H. dalam syairnya; “Fil aqdi al Asy’ari wa Fiqhi malik wa fi Thariqah al Junaidi al Saliki”, yang artinya kurang lebih; “Masyarakat Maroko itu Aqidahnya Asy’ariyah, fiqihnya imam Malik dan tarekat sufinya mengikuti Al Junaid”.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya religiusitas masyarakat Maroko ini mirip sekali dengan konsep islam yang diusung oleh warga Nahdliyyin yang kita kenal dengan Islam Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA). Tentu ini ada hubungannya dengan salah satu wali penyebar Agama Islam di tanah jawa, Maulana Malik Ibrahim yang dikalim berasal dari tanah Maghrib (Maroko).

Secara tegas, pihak Raja dan jajarannya, termasuk majlis Ilmi (MUI-nya Maroko) telah menyatakan Aqidah Asy’ariyah dan Fiqh Maliki sebagai ciri khas keberagamaaan mereka. Tapi lain halnya dengan ulama-ulama kalangan bawah yang background-nya salafi wahabi, mereka justru mengusung paham salafinya dengan mengkritik paham Aqidah Asy’ariyah yang konon menurut mereka masih ada kerancauan. Tentu pemandangan seperti ini tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di kalangan kaum muslimin di Indonesia.

Pengaruh salafi wahabi Maroko ini menjadi perhatian serius bagi Majlis Ilmi, mengingat kelompok wahabi ini mudah sekali memberikan label “kafir” atau “musyrik” kepada sesama muslim yang berbeda pendapat dengan mereka. Bahkan kelompok wahabi ini sengaja menutup rapat-rapat dan mengubur dalam-dalam pemikiran-pemikiran ulama Sufi Maroko.

Namun Majlis Ilmi tidak tinggal diam, berbagai cara telah dilakukan untuk menangkal virus wahabi ini, seperti seminar-seminar dan penerbitan buku-buku yang bertemakan dakwah Islam secara moderat. Cara lain yang dilakukan Majlis Ilmi untuk membendung virus wahabi ini, yaitu dengan membatasi tema-tema pengajian para da’i masjid. Semisal dilarang untuk membicarakan perkara Jihad.

Kalau kita kembali membaca sejarah islam Maroko, disana banyak kita temukan tokoh-tokoh sufi besar yang tidak asing lagi dikalangan ulama sufi dunia, seperti syeikh Ahmad Tijani, pendiri tarekat Tijaniyah yang banyak diikuti umat islam di Indonesia, begitu juga dengan syeikh Ahmad bin al-Ghumari, ahli hadits yang juga ahli tasawuf, beliau juga memiliki beberapa murid dari Indonesia. Disana juga kita kenal dengan syeikh Hasan As-Syadily, guru besar sufi yang sangat terkenal, dan masih banyak lagi tentunya. []

Foto 1: Tabarruk di Zawiyah syeikh Talidi di kota Tanger, Maroko
Foto 2: Zawiyah Syeikh Tijani di Kota Fez, Maroko

Related posts

Tathayyur, kesialan Tak Beralasan

admin

Fenomena Adzan Jum’at 3 Kali di Maroko (Maghribi)

admin

Ikhlas Dan Dimensinya Dalam Kehidupan

admin

Ada yang Salah Dalam Bacaan Qur’an-ku

admin

Para Ulama Dari Zaman Ke Zaman Tentang Maulid Nabi Muhammad

admin

Oleh-Oleh dari Tanah Suci

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami