Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Jika Gerhana Tertutup Awan (Mendung) dan Hujan

MADINATULIMAN.COM – Shalat gerhana disunnahkan apabila terjadi gerhana. Oleh karena itu shalat gerhana termasuk shalat yang disunnahkan karena sebab tertentu.  Oleh karena itu, bila tidak ada gerhana atau gerhana tidak terlihat, maka tidak/belum diperbolehkan melaksanakan shalat.

Dasarnya adalah sabda Nabi Saw berikut ini:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفَهُمَا فَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
"Apabila kalian melihat gerhana maka shalatlah kalian sampai (matahari dan bulan) nampak kembali"

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا وَكَبِّرُوا
"Apabila kalian melihat gerhana maka shalatlah kalian, bershadaqahlah dan bertakbirlah"

GERHANA MATAHARI

Perlu diketahui bahwa waktu shalat gerhana matahari dan bulan adalah sejak dimulainya gerhana sampai matahari / bulan kembali seperti sedia kala. Oleh karena itu, ulama mengatakan bahwa shalat gerhana matahari dinyatakan terlambat/habis waktunya apabila terjadi dua hal:

Pertama, Injila' (matahari telah nampak kembali). Dalam hal ini, ulama merincikan sebagai berikut:

– Apabila matahari telah nampak keseluruhannya maka tidak melaksanakan shalat karena waktunya sudah habis. Namun, bila matahari baru nampak sebagiannya, maka tetap disyariatkan melaksanakan shalat gerhana karena masih terjadi gerhana.

– Apila matahari sudah nampak seluruhnya namun masih dalam kondisi melaksanakan shalat gerhana (belum selesai melaksanakan shalat), maka sempurnakan shalatnya sampai selesai.

– Seandainya belum melaksanakan shalat gerhana sedangkan gerhana matahari telah dimulai beberapa waktu sebelumnya, tetapi tidak diketahui apakah gerhana sudah berakhir atau tidak, disebabkan ada awan tebal yang menghalangi dan ragu-ragu apakah matahari sudah nampak lagi atau belum, maka tetap melaksanakan shalat gerhana matahari karena asalnya tetap ada/terjadi gerhana.

– Namun seandainya matahari terhalang awan (mendung) dan ragu-ragu apakah matahari sudah mulai gerhana atau belum, maka belum diperbolehkan melaksanakan shalat gerhana matahari karena asalnya belum terjadi gerhana. Imam ad-Darimi dan ulama lain bahkan pernah berkata: "Tidak perlu melaksanakan shalat gerhana dengan berdasarkan qaul Munajjimin (pendapat ahli astronomi/astrolog)". Artinya, walaupun misalnya dalam hitungan pakar astronomi jam 08.00 sudah mulai gernaha, namun gerhana belum terlihat karena tertutup awan, maka belum diperbolehkan shalat gerhana.

Kedua, lenyap/hilangnya gerhana matahari. Tidak perlu melaksanakan shalat gerhana matahari setelah terbenamnya matahari dalam keadaan gerhana. Namun, jika waktu lenyap gerhana matahari masih dalam keadaan melaksanakan shalat, maka tetap disempurnakan shalatnya sampai selesai.

Uraian diatas, dijelaskan secara singkat dalam Fathul Qarib sebagai berikut:

وتفوت صلاة كسوف الشمس بالانجلاء للمنكسف وبغروبها كاسفة
Telah habis/berakhir shalat gerhana matahari sebab gerhana telah selesai (sudah nampak lagi) dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana.

GERHANA BULAN

Shalat gerhana bulan dinyatakan habis waktunya disebabkan dua hal berikut;

Pertama, al-Injilaa' (bulan sudah nampak kembali seperti semula), sepertinya halnya matahari.

Kedua, terbitnya matahari jika pada saat matahari terbit, bulan masih dalam kondisi gerhana. Dalam kondisi seperti ini, tidak perlu memulai shalat gerhana bulan, karena sudah dinyatakan siang.

Sedangkan apabila sudah melaksanakan shalat gerhana bulan kemudian matahari terbit, maka sempurnakan shalat gerhana bulan yang sedang dilaksanakan.

Seandainya gerhana bulan terjadi setelah matahari terbit maka tidak disyariatkan shalat gerhana bulan. Ulama tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Namun, seandainya saat terjadi gerhana bulan tetapi bulan lenyap (disebakan sesuatu hal) maka tetap disyariatkan shalat gerhana bulan karena waktunya bulan (malam) masih tetap. Kondisi ini seperti halnya awan mendung yang menutupi gerhana bulan maka tetap disyariatkan melaksanakan shalat.

Kondisi lain yang mungkin saja terjadi yaitu seandainya saat gerhana bulan kemudian terbit fajar, atau gerhana bulan terjadi setelah terbit fajar namun sebelum terbit matahari. Pendapat yang lebih shahih dari ulaama adalah tetap disyariatkan melaksanakan shalat. Seandainya saat shalat dalam kondisi tersebut lalu terbit matahari, ulama mengatakan tidak batal shalatnya, dan shalatnya disempurnakan sampai selesai. 

Wallahu A'lam

Penulis : Abdur Rohim

Ref: Fathul Qarib, Syarh al-Muhadzdzab

Related posts

Gerhana Bukan Tontonan

admin

Cara Mewakilkan Haji Kepada Orang Lain

admin

Khilafah Hanya 30 Tahun: Wajibkah Mendirikan Khilafah?

admin

Qunut Didalam Shalat Witir Pada Pertengahan Akhir Ramadhan

admin

Tradisi-Tradisi Sunnah yang Dilakukan Umat Islam di Hari Raya

admin

Hari Raya (‘Idul Adlha atau Idul Fithri) Bertepatan Dengan Hari Jum’at

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami