Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Konsultasi

Kafarat Pelaku Onani dan Hukum Mengenai Puasa Mutih

MADINATULIMAN – Pertanyaan via SMS Center Islam Balikpapan berasal dari +62899557xxxx : Apakah onani di Ramadlan kena kafarat tdk ? Bila ya,apa kafaratnya ?  Bagaimana ada keterangan islam ngenai soal puasa mutih ? Trimakasih.

 

Jawab : Sdr/I yang dimulyakan Allah. Onani untuk melampiaskan nafsu birahi adalah haram, berdosa, apalagi dilakukan dibulan Ramadhan, dosanya lebih besar dan membatalkan puasa. Puasanya wajib diqadla'. Namun tidak ada kafarat, berbeda  halnya dengan jima’ (bersetubuh). Akan tetapi, pelaku onani harus diberi teguran dan peringatan keras.

 
Ada pun mengenai puasa mutih, sebenarnya hanyalah semata-masa sebuah istilah. Dijawa, setidaknya dikenal dua jenis puasa mutih :
 
Pertama, puasa mutih yang seperti puasa sunnah mutlak yaitu menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, namun ketika berbuka puasa tidak makan daging (alias vegetarian), sebagian mengatakan hanya makan nasi putih dan air putih saja.
 
Kedua, puasa mutih yang sifatnya wishal yaitu puasa yang bersambung, puasa yang dilakukan dua hari berturut-turut tanpa makan dan minum, atau lebih dari dua hari. 
 
Untuk yang pertama, tidak apa-apa, sebab pelaksanaannya sama halnya seperti puasa sunnah mutlak, niatnya pun dilakukan niat puasa mutlaq. Imam Zakariyya Al-Anshoriy didalam kitabnya Asnal Mathalib fiy syarhi Raudl ath-Thullab mengatakan,
 
“Dan sudah mencukupi niat mutlak (umum) didalam melaksanakan puasa sunnah mutlaq (puasa yang tidak terikat dengan puasa wajib dan puasa sunnah, penj) sebagaimana niat didalam shalat sunnah mutlaq, meskipun niatnya sebelum tergelincir matahari namun bukan setelah tergelincir matahari, karena Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pernah berkata kepada ‘Aisyah : “Apa ada sarapan pagi?” Aisyah menjawab: “Tidak ada.” Nabi berkata: “Kalau begitu saya puasa.” Aisyah menyebutkan: Suatu hari yang lain Nabi bertanya pada saya: “Apa ada sarapan pagi? Saya menjawab:“Ada.” Nabi berkata: “Kalau begitu saya tidak puasa, meski saya perkirakan berpuasa.” Ath-Thabaraniy meriwayatkannya dan sanadnya shahih”
 
Namun, untuk yang kedua (sifatnya wishal) maka itu dilarang. Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pernah bersadda :
 
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «لاَ تُوَاصِلُوا، فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ، فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ» ، قَالُوا: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ إِنِّي أَبِيتُ لِي مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِي، وَسَاقٍ يَسْقِينِ
“Dari Sa’id radliyallahu ‘anh, bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu bersabda : “Janganlah kalian melakukan puasa wishal, barangsiapa diantara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hinggga waktu sahur (sehari semalam saja, penj). Para sahabat bertanya : “Apa engkau juga melakukan wishalat wahai Rasulullah ?”, Rasulullah menjawab : “Aku tidak sama dengan kalian. Disaat malam ada yang member makan dan minum kepadaku” (HR. Muslim).
 
Wallahu A'lam

Related posts

Bolehkah Keramas Ketika Sedang Berpuasa (Dibulan Ramadhan)

admin

Berenang Ketika Puasa dan Ketut Didalam Air

admin

Transaksi Didalam Masjid dan Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang

admin

Shalat Jum’at Kurang dari 40 Orang Dalam Madzhab Syafi’i

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com