Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Islam Balikpapan

Ketua MUI Balikpapan: Penutupan “Km17” Tidak Ada Tawar Menawar

MADINATULIMAN – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan, KH Syarwani Zuhri memberikan dukungan penuh terhadap keputusan wali kota yang telah menetapkan tanggal 5 Juni sebagai batas akhir beroperasinya lokalisasi Km 17. “Kami mendukung penuh, komitmen wali kota menutup lokalisasi Km 17 tanggal 5 Juni,” tegas KH Syarwani di sekretariat MUI Balikpapan.
 

Didampingi pengurus MUI lainnya, HM Jailani, M Idris, KH Anas Mochtar, Samad Bullah, ia meminta wali kota untuk tidak menunda penutupan lokalisasi sebagaimana tanggal yang telah ditetapkan.

Disinggung adanya pihak yang menyoal surat keputusan (SK) wali kota serta meminta Pemkot belajar soal penutupan lokalisasi ke Surabaya, Syarwani Zuhri menyatakan pihak tersebut memang sengaja mencari berbagai alasan agar penutupan batal. Dirinya memuji langkah Pemkot yang mempersilakan pihak yang menolak penutupan Km 17 untuk menempuh jalur hukum.

“Langkah Pemkot sudah betul, kalau ada yang protes silakan ajukan ke jalur hukum. Dewan bahkan mendukung langkah penutupan Km 17. Jadi apa lagi mau mereka (yang menolak, Red),” tuturnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Banjari ini meminta agar saat penutupan nanti tidak lagi terjadi penolakan apalagi perlawanan terhadap aparat gabungan. Jika itu terjadi, dirinya memastikan masyarakat terutama masyarakat muslim akan mengambil sikap untuk menunjukkan bahwa penutupan lokalisasi Km 17 merupakan kehendak masyarakat Kota Beriman.

“Beberapa waktu lalu mau pasang plang ditolak, kalau nanti tanggal 5 Juni terjadi lagi penolakan apalagi secara terang-terangan seperti dulu, masyarakat pasti tidak akan diam. Saya mengajak khususnya umat muslim untuk mengawal pelaksanaan penutupan Km 17. Ayo kita dukung wali kota,” ujar KH Syarwani.

Terkait tahap-tahapan penutupan, Syarwani mengaku heran mengapa terus-terusan disoal. Wacana penutupan prostitusi Km 17 sudah dilakukan sejak Balikpapan dipimpin Imdaad Hamid, kemudian berlanjut ke Rizal Effendi. Sejak dinyatakan ditutup, Pemkot terus melakukan sosialisasi, memberikan kompensasi terhadap wanita tuna susila (WTS) yang memilih pulang maupun tetap tinggal di Balikpapan asalkan tidak lagi menjadi pelacur.

Studi banding penutupan lokalisasi di daerah luar juga sudah dilakukan. Aksi turun ke jalan yang dilakukan berbagai komponen masyarakat Islam, ungkap KH Syarwani, terpaksa dilakukan karena tidak ada kepastian kapan batas waktu penutupan ditetapkan. Setelah keluar surat wali kota yang menyatakan 5 Juni “Km 17” ditutup, maka masyarakat menerima dan sangat mendukung keberanian pemimpin Kota Balikpapan.

“Jadi intinya, tidak ada lagi penundaan, 5 Juni nanti, lokalisasi Km 17 harus ditutup,” pungkas dia. Sebelumnya diberitakan, SK Wali Kota Balikpapan No.188.45/2013  tentang penutupan lokasi prostitusi Lembah Harapan Baru (LHB) Km 17 Jl Soekarno- Hatta Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara,  ditolak sebagian warga dan penghuni lokalisasi Km 17.

“Di lokalisasi Km 17 ada penduduk, pedagang serta aktivitas masyarakat lainnya. Jadi bukan hanya WTS (Wanita Tuna Susila, Red). Untuk itu kami minta dalam SK itu harus jelas objek yang ditutup,” kata  Juru bicara sekaligus kuasa hukum warga penghuni Km 17,  Rukhi Santoso SH dalam keterangan pers di Hotel Pacifik,  Sabtu (19/5) lalu. Seorang praktisi hukum, Hilman Samsi meminta Pemkot belajar dari Surabaya yang dinilainya sukses menutup tempat prostitusi Doli.(yud/balikpapanpos)

Related posts

Yayasan Al-Farohi Balikpapan Menggelar Pelatihan Metode Tahfidzul Qur’an

admin

Pelatihan Standarisasi Guru Tilawati di Masjid Al-Amin AURI Berjalan Sukses

admin

Pemuda Muhammadiyah Kota Balikpapan Gelar Kajian Intensif

admin

Kuliah Umum STAI Balikpapan, Kakanwil Kaltim Beri Pesan ke Mahasiswa

admin

Lomba Kaligrafi Festival Muharam 1434 Hijriyah

admin

Dukung Pemilu Damai, Para Da’i Balikpapan Ikuti Acara Silaturahmi┬áDa’i Kamtibnas

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami