Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Ubudiyah

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Amaliyah Didalamnya

MADINATULIMAN – Diantara bulan yang istimewa adalah bulan Dzulhijjah, didalam juga ada 10 hari yang memiliki keutamaan atau keagungan yakni 10 awal dari bulan Dzulhijjah.  Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa nas-nas baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :
 

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr : 1-2)
 
Sebagian mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah 10 awal bulan Dzuhijjah. Imam al-Baghawi didalam Ma’alimut Tanzil menyebutkan : “{wa Layalin ‘Asyr} diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa itu adalah 10 awal dari bulan Dzulhijjah, ini adalah qaul Mujahid, Qatadah, Adl-Dlahak, As-Sudiy dan Al-Kalbiy”. 
 
Sebagian lainnya memiliki bermacam-macam pandangan mengenai hal ini, ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah 10 awal bulan Ramadlan, 10 akhir bulan Ramadlan dan 10 awal bulan Muharram yang didalamnya ada hari ‘Asyura. 
 
Menurut Ibnu Katsir didalam Tafsirul Qur’an, “Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah 10 awal Dzulhijjah, sebagaimana qaul Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, serta tidak hanya satu ulama dari kalangan Salaf maupun Khalaf. Dan telah tsabat didalam Shahih Al Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’ :   “Tidak ada hari-hari dimana amal shalih pada hari tersebut lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari tersebut – yakni 10 hari Dzulhijjah -. Sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, apa tidak juga jihad fi sabilillah ?”. Rasulullah menjawab : “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwanya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. Pendapat lain mengatakan ; yang dimaksud adalah 10 awal bulan Muharram, ini dihikayatkan oleh Ibnu Jarir namun tidak dijumpai pada seorang pun, dan juga Abu Kudainah meriwayatkan dari Qabus bin Abu Dhibyan, dari Ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas : {wa Layalin ‘Asyr} ia berkata : “adalah 10 awal bulan Ramadhan”. Namun dari qaul-qaul tersebut, yang shahih adalah yang pertama (10 awal bulan Dzulhijjah)”.
 
Allah Subhanahu wa Ta’alaa juga berfirman :
 
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“ dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(QS. Al-Haj : 28)
 
Sebagian ulama menafsiri bahwa yang dimaksud adalah 10 hari bulan Dzulhijjah, sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbas. Meskipun sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud adalah hari-hari Tasyriq, dan sebagian lainnya berpendapat yaumun Nahr (hari raya) dan hari Tasyriq.
 
Didalam 10 awal bulan Dzulhijjah tersebut, juga merupakan waktu yang didalamnya terdapat pelaksanaan manasik, ihram, thowaf, wukuf di arafah dan lain sebagainya. 
 
Amaliyah Didalam 10 Awal Bulan Dzulhijjah
 
Telah dinyatakan bahwa amal-amal shalih yang dikerjakan pada 10 awal bulan Dzulhijjah lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :
 
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ» يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ 
“Tidak ada hari-hari dimana amal shalih didalam hari tersebut lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini yakni hari-hari 10 pertama bulan Dzulhijjah-. Sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, apa tidak juga jihad fi sabilillah ?”. Rasulullah menjawab : “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwanya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. (HR. Abu Daud, At-Turmidzii dan Ibnu Majjah).
 
Amal shalih (amal kebajikan) yang disebutkan didalam hadits bersifat umum. Oleh karena itu, dapat berupa apa saja seperti memperbanyak dzikir, shalawat, shadaqah, puasa, berbuat baik kepada orang lain, taubat kepada Allah, shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Pahala amal shalih yang dikerjakan didalamnya pun dilipat gandakan oleh Allah, bahkan puasa disiangnya sama dengan puasa selama 1 tahun dan shalat malamnya sama dengan shalat pada malam al-Qadr. 
 
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ القَدْرِ
 “Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah yang digunakan untuk beribadah kepada Allah didalamnya daripada 10 hari-hari Dzulhijjah, nilai puasa setiap hari darinya sama dengan puasa 1 tahun, sedangkan nilai shalat setiap malam darinya sama dengan shalat pada lailatul Qadr” (HR. At-Turmidzi, Ibnu Majjah)
 
Namun, perlu diketahui bahwa yang dimaksud puasa dihari-hari tersebut, tidak termasuk didalamnya tanggal 10 Dzulhijjah (‘Idul Adlha), karena haram hukumnya berpuasa pada hari raya. Oleh karena itu, hubungannya dengan puasa, hanyalah pada 9 dari hari-hari awal bulan Dzuhijjah saja.
 
Didalam hadits lain juga disebutkan agar memperbanyak beberapa amaliyah seperti bacaan Tahlil, Takbir dan Tahmid, sebagaimana riwayat Imam Ahmad :
 
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ، وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّحْمِيدِ 
“Tidak ada hari yang agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebaikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu Tahlil, Takbir dan Tahmid”.
 
Amaliyah diatas merupakan amaliyah yang masih bersifat umum. Ada juga beberapa amaliyah khusus yang dianjurkan, seperti :
 
– Puasa tanggal 9 Dzuhijjah, bersamaan dengan wukuf di Arafah. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab :
 
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
“..puasa dihari tersebut menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan yang akan datang”. (HR. Imam Muslim)
|
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ 
“Puasa hari 'Arafah itu, aku berharap kepada Allah agar dapat menebus dosa dari tahun sebelumnya dan tahun se sudahnya” (HR. Muslim)
 
– Menghidupkan syi’ar malam hari raya. Menurut Imam Al-Syafi’i rahimahullah, do’a malam hari raya akan di dijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Didalam hari raya (malam 10 Dzulhijjah) dianjurkan juga melakukan takbir mutlaq, baik di masjid, rumah-rumah maupun di jalan-jalan. (Tentang menghidupkan malam hari raya, silahkan membaca disini “Anjuran Menghidupkan Malam Hari Raya dan Komentar Ulama”)
 
– Shalat 'Idul Adlha. Hukum shalat hari raya adalah sunnah yaitu sunnah muakkad. (Baca : Landasan dan Hukum Shalat Hari Raya)
– Berkorban. Allahu Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :
 
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al-Kautsar : 2)
 
Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah berkorban setelah shalat ‘Ied pada hari raya.  Hukum korban dihari raya adalah sunnah muakkad, kecuali korban karena nadzar maka hukumnya wajib. Adapun waktunya adalah setelah shalat ‘Ied sampai hari-hari Tasyriq. Bila telah keluar dari hari tasyriq namun belum berkorban, maka jika itu korban sunnah, tidak perlu ditunaikan korban, namun jika itu korban wajib maka tetap ditunaikan korban. [] Wallahu A’lam.
 

Redaktur : AR

Related posts

Ternyata Adzan Tidak Hanya Dikumandangkan Untuk Panggilan Shalat

admin

Salam Dengan Isyarat dan Salam Untuk Orang Bisu Tuli

admin

Waktu Shalat Tarawih, Bolehkah Tarawih Sebelum Shalat Isya’ ?

admin

Risalah Ramadhan (4) ; Imam Syafi’i dan Generasi Salaf Ketika Khatmul Qur’an

admin

Membaca Tasmi’ Tiap Bangun dari Ruku’

admin

Mengucapkan Selamat (Tahniah) Pada Hari Raya

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com