Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Syariah

Landasan dan Hukum Shalat Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adlhaa)

MADINATULIMAN – Islam merupakan agama yang benar-benar memahami fitrah dan naluri umat manusia. Hal ini sangat nampak sekali dengan adanya hari yang dijadikan sebagai ‘Ied. Dimana umat Islam diperbolehkan bersuka ria (bergembira) pada hari-hari tersebut. Disebutkan dalam sebuah riwayat,
 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، قَالَ: " كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ الْأَضْحَى 
“Dari Anas bin Malik, ia berkata : Masyarakat jahiliyah dulu memiliki 2 hari pada setiap tahunnya, mereka bersuka ria pada dua hari tersebut, tatkala Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam tiba di Madinah, ia berkata : Kalian (para sahabat) dahulu memiliki 2 hari yang kalian bersuka ria di dua hari tersebut, dan sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dengan 2 hari yang lebih baik dari keduanya yaitu hari Al-Fithri dan hari Al-Adlhaa”. [HR. Imam Nasaa-i, shahih]
 
Hadits ini menunjukkan kepada kita tentang kearifan Islam terhadap nilai-nilai budaya (kebiasaan) masyarakat, sehingga kedatangan Islam tetap melestarikannya namun mengganti nilai-nilai nya dengan keislaman. 
 
Makna Hari Raya (‘Ied)
 
Imam Al Bujairami didalam Tuhaful Habib mengatakan : “Al-‘Ied merupakan isim musytaq yang berasa dari al-‘Awdu (العود) karena berulang-ulangnya seriap tahun. Ada juga yang mengatakan, karena banyaknya kemurahan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya pada hari itu. Dan ada juga yang mengatakan, karena kembali merasa gembira dengan kembali datangnya hari raya. Jama’nya adalah A’yadun (أَعْيَادٌ)”.
 
Shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlhaa merupakan bagian dari hal-hal khusus untuk umat Nabi Muhammad, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Munawi, sedangkan menurut Imam Al-Suyuthiy, diantara hal-hal khusus umat Islam adalah shalat dua hari raya, shalat Istisqa’, shalat khusuf dan Kusuf. Ketika misalnya dibandingkan, manakah yang lebih utama antara shalat ‘Idul Adlhaa dan shalat ‘Idul Fithi, maka yang lebih utama adalah shalat ‘Idul Adlhaa. Sebab tsabitnya nas mengenai shalat ‘Idul Adlhaa didalam Al-Qur’an.
 
Landasan Hukum Hari Raya
 
Imam Al-Imraniy didalam kitabnya Al Bayan mengatakan : “Asal penetapan hukum shalat dua hari raya (shalatul ‘idain) adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma”.
 
Didalam Al-Qur’an, surah Al-Kautsar ayat 2 disebutka,
 
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”
 
Menurut sebagai mufassir, shalat yang dimaksud pada ayat tersebut adalah shalat yang mengiringi pelaksanaan kurban, yakni shalat ‘Idul Adlha. Sedangkan untuk ‘Idul Fithri, telah disebutkan didalam hadits bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam berjalan ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka gunakan bermain-main (bersuka ria), Nabi kemudian bertanya :
 
فقال: "ما هذان اليومان؟ "، فقالوا: يومان كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال: "إن الله قد أبدلكم بخير منهما: يوم الفطر، ويوم الأضحى
“Nabi bertanya : “Dua hari apakah ini ?”. Mereka menjawab : “Dua hari yang kami bermain-main didalamnya ketika masa jahiliyah dahulu”. Nabi kemudian bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dengan yang lebih baik, yaitu hari Fithri dan Adlhaa”.
 
Hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat hari raya sangatlah banyak, sehingga ulama dan umat Islam pun ber-ijma’ atas ketetapan disyariatkannya shalat hari raya. 
 
Hukum Shalat Hari Raya
 
Hukum shalat hari raya adalah sunnah yaitu sunnah muakkad. Ada juga yang mengatakan fardlu kifayah. Namun didalam madzhab Syafi’i yang dipegang sebagai fatwa madzhab dan yang shahih adalah hukumnya sunnah. Sehingga apabila ada orang yang meninggalkannya, maka tidak dibunuh berdasarkan pendapat yang ashoh (lebih shahih).
 
Imam Nawawi rahimahullah didalam Al Majmu’ mengatakan : “Shalat hari raya adalah sunnah, dan Abu Said Al-Ashthakhriy berkata : hukumnya fardlu ala kifayah. Adapun madzhab (pendapat yang dipegang) adalah yang pertama. Berdasarkan riwayat Thalhah bin Ubaidillah radliyallahi ‘anh
 
أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يسأله عن الاسلام فقال صلي الله عليه وسلم خمس صلوات كتبهن الله علي عباده فقال هل علي غيرها قال لا إلا أن تطوع
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah menjawab : “Shalat 5 waktu yang telah Allah tetapkan kepada hamba-Nya”. Laki-laki tersebut bertanya laki : “Apakah ada yang lainnya ?”. Rasulullah menjawab : “Tidak ada, kecuali shalat tathawwu’ (shalat-shalat sunnah)”.
 
Dan juga karena shalat ied adalah shalat yang memiliki waktu yang tidak disyariatkan adanya iqamah, sehingga tidak diwajibkan berdasarkan syariat, sebagaimana shalat ‘Idul Adlhaa. Jika semua penduduk sebuah negeri sepakat meninggalkan shalat hari raya maka mereka semua dihukum qital (bunuh) berdasarkan pendapatnya Al-Ashtakhriy, namun apakah didalam madzhab (syafi’i) mereka juga dibunuh ?. Dalam hal ini, ada dua pandangan : Pertama, mereka tidak dibunuh karena itu hukumnya hanya sunnah, maka mereka tidak dibunuh jika meninggalkannya sebagaimana shalat-shalat sunnah yang lainnya. Pendapat kedua, mereka tetap dibunuh karena hari raya merupakan bagian dari syiar-syiar Islam, perbuatan meninggalkan shalat hari raya merupakan perbuatan meremehkan (kelalaian / bentuk pengabaian) berdasarkan syariat, berbeda halnya dengan seluruh shalat sunnah lainnya sebab ia dikerjakan secara sendirian sehingga perbuatan meninggalkannya tidak tampak, (berbeda dengan shalat ‘Ied) perbuatan meninggalkan shalat ‘Ied sangat nampak. [Penjelasan] hadits Thalhah diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, dan telah berlalu penjelasannya, kevalidan lafadz serta maknanya pada awal Kitab Shalat : dan kaum muslimin telah ber-ijma’ bahwa shalat ‘Ied adalah masyru’iyah (disyariatkan). Dan atas hal tersebut, shalat ‘ied bukanlah fardlu ‘ain, dan nash Imam Syafi’i beserta juhmur ulama Syafi’iyah menyatakan hukumnya sunnah. Al-Ashthakhriy berkata : hukumnya fardlu kifayah. Jika kita berkata (mengambil pendapat) yang menyatakan fardlu kifayah, maka mereka yang meninggalkan shalat ‘ied dihukum bunuh, namun jika kita berkata (mengambil pendapat) yang menyatakan sunnah maka mereka tidak dibunuh menurut dua pendapat yang ashoh (lebih shahih)”.
 
Imam Al-Syairaziy didalam Al-Mudzdzhab fil Fiqhi Imam Al-Syafi’i berkata ; “Shalat dua hari raya hukumnya sunnah. Abu Sa’id Al-Ashthakhriy berkata : hukumnya fardlu kifayah. Namun madzhab (pendapat yang dipegang sebagai fatwa madzhab syafi’i) adalah yang pertama yaitu sunnah”.
 
Imam Al Ghazali didalam Al-Wasith fil Madzhab berkata : “Hukum shalat dua hari raya adalah sunnah muakkad bagi setiap umat Islam yang lazim (berkewajiban) menghadiri shalat Jum’at, dan asal penetepan hukum shalat ‘ied adalah Ijma’ serta perbuatan yang mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam serta firman Allah {wa Shalli li-Rabbika wanHar}, dikatakan bahwa yang dimaksud shalat pada ayat tersebut adalah ‘Idul Adlhaa”.
 
Perkataan Imam Syafi’i 
 
مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْجُمُعَةِ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْعِيدَيْنِ 
"Barangsiapa yang wajib baginya hadir Jum’at maka juga wajib baginya hadir shalat dua hari raya”
 
Perkataan ini disebutkan didalam kitab Mukhtashar al Muzanniy. Menurut Imam Mawardi didalam kitabnya Al Hawi Al Kabir fil Fiqhi Madzhab Al-Imam Al-Syafi’i, perkataan tersebut dinukil dari qaul Qadim (jadi bukan qaul Jadid), dan ulama Syafi’i memiliki beberapa penafsiran.
 
“Adapun ucapan Imam Al-Syafi’i “Barangsiapa yang wajib baginya hadir Jum’at maka juga wajib baginya hadir shalat dua hari raya”. Ini dinukil oleh Imam Al-Muzanniy dari kitab Ash-Shaid dan Ad-Dabaih. Dalam hal ini, terdapat dua takwilan yang berbeda bagi ulama kami. Pertama ; pendapat Abu Ishaq, barangsiapa yang wajib baginya hadir jum’at sebagai kefardluan maka wajib baginya hadir shalat hari raya sebagai nadb (kesunnahan). Kedua; pendapat Abu Sa’id, barangsiapa yang wajib baginya menghadiri shalat jum’at didalam ‘ain-nya (fardlu ‘ain) maka wajib baginya menghadiri shalat hari raya didalam sisi yang lainnya (fardlu kifayah, penj)”.
 
Imam Nawawi rahimahulah terkait perkataan Imam Al-Syafi’i memberikan komentar : “Ulama kami berkata, ini bukan makna dhahirnya, sebab jika dhahirnya ‘ied dihukumi fardlu ‘ain bagi setiap orang yang lazim shalat jum’at, ini menyelisihi Ijma’ kaum muslimin, maka telah ditentukan takwilannya ; Abu Ishaq berkata : barangsiapa yang lazimnya shalat Jum’at merupakan kemultakan maka kelaziman shalat ‘ied adalah nadb (sunnah) dan prioritas. Al-Ashtakhriy berkata : maknanya barangsiapa lazimnya shalat jum’at sebagai kefardluan maka kelaziman shalat ‘ied adalah kifayah. Ulama kami berkata : yang dikehendaki oleh Imam Al-Syafi’I adalah bahwa shalat ‘Ied lebih ditekankan bagi haq orang yang telah lazim (memiliki kewajiban shalat Jum’at)”.
 
Dari sini dapat diketahui bahwa perkataan Imam Al-Syafi’i merupakan bentuk penekanan (ta’kid), bukan dimaksudkan sebagai kefardluan. Imam Zakariyya Al Anshoriy pun didalam Al-Ghurrar Al Bahiyyah mengatakan :
 
“Dan dinukil dari Imam Al-Syafi’- radliyallahu ‘anh- barangsiapa yang wajib baginya hadir shalat Jum;at maka wajib baginya hadir shalat ‘ied, ulama membawa pengertian perkataan ini pada sebuah bentuk ta’kid (penekanan)”.
 
Syihabuddin Ar-Ramli berkata didalam Nihayatul Muhtaj : “Dan ulama membawa pengertian yang di naql Al Muzanniy dari Imam Syafi’i bahwa barangsiapa yang wajib baginya hadir shalat Jum;at maka wajib baginya hadir shalat ‘ied, sebagai bentuk ta’kid (penekanan), sehingga tidak berdosa dan tidak pula dihukum qital bila meninggalkannya”. 
 
Imam Mawardi didalam Al Hawi Al Kabiir berkata : “Tidak ada perselisihan pendapat Imam Syaf’i dan seluruh ashhab syafi’i bahwa shalat ‘ied bukan bagian dari fardlu-fardlu ‘ain, tetapi mereka berbeda pandangan apakah itu sunnah atau termasuk bagian dari fardlu kifayah”.
 
Didalam Ma'rifatus Sunani wal Atsar, Imam Al Baihaqi menyebutkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan setelah meriwayatkan hadits tentang seorang laki-laki yang bertanya mengenai Islam kepada Rasulullah, sebagai berikut :
 
قال الشافعي: ففرائض الصلوات خمس، وما سواها تطوع، وقد مضى هذا الحديث بإسناده 
“Imam Syafi’i berkata : “shalat-shalat fardlu ada 5, dan selain yang 5 tersebut adalah tathawwu (shalat-shalat sunnah), telah berlalu hadits ini berserta sanadnya”.
 
Perbedaan Pendapat Diantara Ulama
 
Terkait dengan beberapa perbedaan diantara madzhab-madzhab lainnya, Imam Al-Nawawi rahimahullah didalam Al Majmu’ juga telah menyebutkanya. Dan didalam madzhab Syafi’i tetap hukumnya adalah sunnah. 
 
“Sungguh telah kami sebutkan bahwa hukumnya adalah sunnah muakkad menurut kami (Syafi’iyyah), ini juga pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Daud Adl-Dhahiri, dan Juhmur ulama. Sebagian ashhab Abi Hanifah berkata : hukumnya fardlu kifayah. Sedangkan dari Imam Ahmad ada dua riwayat seperti dua pendapat tersebut (yaitu ada riwayat yang menyatakan sunnah, ada juga riwayat yang menyatakan fardlu kifayah)”.
 
 
Wallahu A'lam
Redaktur : AR

Related posts

Tadarus dan Mengeraskan Suara Ketika Membaca Al-Qur’an

admin

Bolehkah Shalat Tarawih Sendirian (Munfarid)

admin

Apakah Memanah Itu Hukumnya Sunnah ?

admin

Shalat Tahiyatul Masjid dan Hukumnya

admin

Ketika Utusan Kristen Najran Melakukan Kebaktian di Masjid

admin

Pembahasan Tentang Qurban dan Kriteria Hewan Qurban

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com