Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Melakukan I’tikaf di Masjid

MADINATULIMAN“Tidak ada ibadah yang dikhususkan dilakukan dimasjid kecuali dua hal yaitu thawaf dan i’tikaf”, demikian disebutkan oleh Abul Hasan Ibn al-Mahamili dalam kitab Al Lubab. Makna i’tikaf sendiri secara bahasa (lughah) adalah menetapi dan mendiami sesuatu, baik maupun buruk.
 

Imam al-Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir berkata: “Ditetapkan makna I’tikaf adalah menetapi (berdiam diri) atas kondisi tertentu pada tempat yang tertentu”.

Al-‘Allamah Muhammad al-Zuhri al-Ghamrawi didalam As-Sirajul Wahaj berkata: “I’tikaf secara bahasa adalah menjalani sesuatu secara terus-menerus baik perbuatan baik maupun buruk. Sedangkan pengertian secara syara’ adalah berdiam diri di masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan disertai niat. I’tikaf hukumnya mustahab (sunnah) kapan pun, sedangkan pada 10 terakhir Ramadlan lebib utama untuk menemukan lailatul qadar”.

Dasar Hukum

Dasar hukum disyariatkannya i’tikaf adalah al-Qur’an, As-Sunnah, kemudian adanya Ijma’ ulama. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Janganlah kalian    mencampuri  mereka (Istri), sedang kalian sedang   I’tikaf di masjid". (QS. Al Baqarah 2 : 187)

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. Al Baqarah 2 : 125)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alayhi wa aallam beri’tikaf pada 10 terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya, kemudian istri-istrinya pun i’tikaf setelah itu. (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim)

Zainuddin Zakariyya al-Anshori dalam Fathul Wahab berkata : “Dasar hukum i’tikaf sebelum adanya Ijma’ adalah firman Allah SWT surah al-Baqarah ayat 187 dan 125 serta ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam berdasarkan riwayat Syaikhan (Al Bukhari dan Muslim)”.

Hukum i’tikaf adalah sunnah. Imam al-Nawawi berkata : “I’tikaf hukumnya sunnah berdasarkan riwayat Ubay bin Ka’ab dan ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam melakukan “I’tikaf pada 10 terakhir Ramadlan”, dan dalam hadits Aisyah “Rasulullah rutin beri’tikaf hingga beliau wafat”. I’tikaf juga hukumnya jika berupa nadzar berdasarkan riwayat ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ
“Barangsiapa yang telah bernazar untuk mena'ati Allah, maka hendaklah ia mena'ati-Nya. Barangsiapa yang telah bernazar untuk maksiat kepada Allah, maka janganlah ia memaksiati-Nya” (HR. Al Bukhari)

Rukun I’tikaf

Imam al-Nawawi didalam al-Majmu’ berkata : “Tidak sah i’tikaf kecuali bagi seorang muslim yang aqil (beraqal) dan suci. Sedangkan orang kafir tidak sah melakukan i’tikaf karena itu bagian dari cabang keimanan dan tidak sah pula bagi orang kafir seperti berpuasa. Adapun orang yang hilang aqalnya seperti gila, tidak sah baginya karena bukan termasuk ahli ibadah (bukan orang yang dituntut melakukan ibadah) maka tidak sah melakukan i’tikaf seperti halnya orang kafir”.

Adapun rukun I’tikaf disebutkan oleh Imam al-Nawawi didalam kitabnya Raudlatuth Thalibin : “Rukun i’tikaf ada 4 : berdiam di masjid, niat (i’tikaf), mu’takif (orang yang beri’tikaf), dan mu’takaf fih (tempat melakukan i’tikaf)”

Waktu I’tikaf

Imam al-Nawawi didalam Raudlatuth Thalibin berkata: “I’tikaf sunnah muakkad, dan disunnahkan pada waktu kapan pun, sedangkan pada 10 terakhir ramadlan lebih ditekankan, sebagai bentuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan mencari malam kemulyaan (lailatul qadar). Barangsiapa yang menginginkan kesunnahan ini, maka hendaknya ia mulai memasuki masjid sebelum terbenam matahari pada malam 21 Ramadlan, hingga tidak ada waktu yang terlewat sedikitpun, dan keluar setelah terbenam matahari pada malam hari raya. Seandainya masih berdiam pada malam hari raya sampai waktu untuk mengerjakan shalat ‘Ied atau keluar sampa shalat ‘ied, maka itu lebih utama (afdlal)”.

Jadi, waktu i’tikaf itu diwaktu kapanpun namun di 10 terakhir bulan ramadlan sangat dianjurkan. Adapun lama waktunya paling sedikit sekedar waktu yang disebut berdiam (sesaat) kira-kira melebihi kadar orang yang melakukan thuma’ninah didalam shalat. Imam al-Nawawi didalam Raudlatuth Thalibin juga mengatakan : “Imam al-Syafi’i rahimahullah menganjurkan i’tikaf selama sehari untuk khuruj minal khilaf (keluar dari perselisihan pendapat). Sebab Imam Malik dan Imam Abu Hanifah rahimahumallah tidak membolehkan beri’tikaf kurang dari sehari. Al-Shaidalaniy menukil satu pandangan: bahwa tidak sah i’tikaf kecuali sehari atau kira-kira yang mendekati sehari. Aku (al-Nawawi) berkata: “Seandainya pun masuk hanya sesaat dan keluar sesaat, dan setiap kali masuk berniat i'tikaf, maka itu sah menurut pendapat madzhab (Syafi’i), dan diceritakan oleh al-Ruyani terkait perselisihan tersebut sebagai khilaf yang dloif. Wallahu a’lam”.

Wallahu A’lam
Penulis : AR

 

Related posts

Shighat (Bacaan) dan Hukum Takbir Hari Raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlha)

admin

Menyetel Murattal atau Tilawah Sebelum Adzan di Masjid dan Mushalla

admin

Risalah Ramadhan (2) ; Perkembangan & Perubahan Dalam Shalat Tarawih

admin

Qunut Didalam Shalat Witir Pada Pertengahan Akhir Ramadhan

admin

Shalat Hari Raya Boleh di Masjid Atau al-Mushalla (Shohra’)

admin

Anjuran Menghidupkan Malam Hari Raya dan Komentar Ulama

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com