Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Aqidah

Memahami Keberadaan Allah, Semisterius Apa Allah Itu?

MADINATULIMAN.COM – Jangan memikirkan Allah, tapi pikirkanlah makhluk Allah!. Nasehat Nabi Muhammad ini sungguh bijak sebab Allah itu ghaib, Dzat-nya tak terjangkau, tak bisa diteropong, tak bisa diteliti, bahkan tak bisa dibayangkan. Segala bayangan tentang Allah bukanlah Allah, demikian para ulama menegaskan. Allah itu misterius sebab info tentang Dzat-nya tak ada yang mendetail. Jangan bahas Allah sebab kita tak tahu betul. Puncak pengetahuan (makrifat) tentang Allah adalah kita tak tahu apa-apa, demikian sebagian ulama menegaskan.

Tapi seberapa misterius Allah itu? Apakah itu berarti kita tak tahu apa-apa sama sekali tentang Allah? Sebelum menjawabnya, perhatikan contoh kasus berikut:

Ada sebuah dompet tak bertuan yang tampak montok berisi. Ukurannya kecil sebagaimana dompet biasanya dan bahannya dari kulit. Tetapi dompet tersebut tak bisa kita akses, tak bisa disentuh, hanya bisa dilihat dari jarak tertentu. Pertanyaannya: apa isi dompet itu? Ini adalah sebuah misteri yang tidak pernah bisa diterka tanpa kita membukanya. Uang, KTP, SIM, Kartu nama atau kesemuanya atau hal lainnya? Semua penjelasan tentang isi dompet itu hanyalah dugaan dan terkaan. Tak ada yang valid sebab kita tak punya info lebih. Ini adalah bagian misteri yang percuma dibahas sebab semua hanya mentok pada terkaan.

Tapi ketika ada yang berkata bahwa dompet itu kosong sebab isinya tak bisa diidentifikasi, maka bisa kita pastikan ia orang bodoh sebab sudah jelas kemontokan dompet itu menunjukkan dengan pasti bahwa dompet itu berisi. Sebut saja orang ini sebagai Jahil 1.

Demikian juga ketika ada yang mengatakan bahwa dompet itu berisi meja makan berikut piring dan gelasnya. Kita dapat memastikan dengan yakin bahwa orang ini bodoh sebab tak mungkin benda-benda itu muat dalam sebuah dompet kecil. Kita sebut orang ini sebagai Jahil 2.

Ketika ada orang lain yang berdalih bahwa justru kitalah yang bodoh sebab berani memastikan kesalahan Jahil 1 dan Jahil 2, padahal isi dompet itu misterius tak ada satu pun yang tahu sehingga tak pantas ada yang merasa yakin bahwa isinya bukan kosong dan bukan pula kursi makan, maka kita tahu bahwa level kebodohan orang ini sudah parah betul dan akut sebab ia merasa logis dalam hal yang tak masuk akal. Orang ketiga ini tak bisa membedakan antara mana pendapat yang masuk akal dan mana yang tidak, tetapi merasa dirinya sudah sangat masuk akal dan kitalah yang bodoh. Kita sebut orang ketiga ini sebagai Jahil 3.

Sekarang kita kembali pada kemisteriusan Tuhan. Meskipun Tuhan itu misterius hingga tak bisa dibayangkan sosok-Nya, namun kita masih bisa tahu beberapa hal tentang-Nya dan kita yakin itu pasti benar. Sama dengan kasus dompet itu, kita bisa tahu bahwa dompet itu ada isinya, bahwa dompet itu dimensinya sekian dan apa saja yang bisa muat di dalamnya. Dalam kasus Tuhan, kita tahu dengan yakin bahwa Tuhan itu ada sebab semua keberadaan makhluk sedunia ini menjadi bukti keberadaan penciptanya. Ateis yang mengingkari keberadaan Tuhan itu tak ubahnya Jahil 1 dalam kasus dompet di atas. Selain bersifat pasti ada, Allah juga dipastikan memiliki 19 sifat lainnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

Ketika kita mendapatkan info wahyu bahwa Tuhan berbeda (secara mutlak) dari semua makhluk dan bahwa tak ada satupun yang menyamainya, maka dari situ kita juga tahu dengan pasti bahwa Tuhan itu tak mungkin berupa jisim (susunan materi) sebab semua hal di dunia ini adalah di semesta ini tidak ada yang betul-betul berbeda dari semua yang lain kecuali apabila ia bukan jisim (susunan materi). Setiap jisim pasti berbagi sifat yang sama; sama-sama bisa diukur, dilihat komposisinya, dibagi, dipetakan, diklasifikasi, ada awal mula terbentuknya, ada perubahan yang dialaminya dan ada akhir keberadaannya. Tak ada jisim yang betul-betul unik di semesta ini, semuanya terbentuk dari susunan elektron dan proton. Susunan yang berbeda dapat membentuk unsur yang berbeda pula. Unsur yang berbeda dapat membentuk entitas fisik (jisim/materi) yang berbeda, baik berupa benda atau makhluk hidup. Hingga saat ini, manusia mengenal kurang lebih 118 unsur, 93 di antaranya adalah unsur alami sedangkan selebihnya adalah buatan. Meski seolah berbeda, namun semuanya memiliki sifat dasar yang sama sebagai jisim. Unsur-unsur tersebut selengkapnya dapat dilihat dalam tabel periodik unsur kimia.

Sekedar contoh: Air terdiri dari dua unsur Hidrogen dan satu unsur Oksigen. Sedangkan manusia lebih kompleks, terdiri dari lebih banyak unsur yaitu: oksigen, hidrogen, karbon, nitrogen, kalsium, fosfor, kalium, sulfur, natrium, klor, magnesium, besi, fluor, seng, tembaga, yodium, selenium, kroium, mangan, molibdenum dan cobalt. Adapun matahari yang begitu hebat sampai pernah dipertuhankan oleh sebagian manusia itu, ia terdiri dari unsur Hidrogen, helium, oksigen, carbon, besi, neon, nitrogen, silikon, magnesium dan belerang. Semua unsur itu ada dalam takaran yang pas sehingga membentuk jisim/materi yang kita lihat setiap hari.

Kembali ke masalah Tuhan, apakah Tuhan yang misterius itu jisim? Jelas bukan sebab tak ada jisim yang betul-betul misterius. Berhala, Matahari, Api, Gunung, Alam dan seterusnya yang pernah dianggap Tuhan dalam peradaban manusia semuanya adalah jisim. Semuanya sama tak layak disembah dan bahkan semuanya punya keterbatasan. Kalau Allah adalah jisim juga, maka untuk apa disembah dan dipertuhankan? Sehebat apapun sebuah jisim, ia dijadikan objek penelitian saja lebih pantas. Setakjub apapun manusia modern dengan Galaksi yang begitu luasnya, dengan Black Hole yang begitu kuat daya tariknya, dengan ledakan Supernova yang begitu dahsyatnya, tetapi tak ada manusia modern yang tertarik menyembahnya sebab itu semua hanyalah jisim.

Sebab itulah para ulama mu’tabar (yang keilmuannya bisa dijadikan pedoman) dari masa salaf hingga khalaf sepakat bahwa Allah pasti bukan jisim. Mana ada jisim yang مخالفة للحوادث (berbeda dari hal yang punya awal mula)?, mana ada jisim yang tak punya awalan (qidam)?, mana ada jisim yang tak punya akhir (baqa’)? Tak ada. Yang namanya jisim ya pasti punya awal, mengalami perubahan dan punya akhir. Orang yang berkata bahwa Allah yang misterius itu adalah jisim, di antaranya adalah mujassimah, adalah semisal dengan Jahil 2 dalam kasus dompet di atas. Menyifati dengan sifat yang tidak masuk akal. Sedangkan orang yang mengatakan “jangan memastikan bahwa Allah itu jisim atau bukan jisim sebab Allah itu misterius, hanya Allah yang tahu”, maka orang ini sama dengan Jahil 3 dalam kasus dompet itu. Jahil 3 ini merasa paling rasional padahal ia sama sekali tak rasional. Di antara golongan Jahil 3 ini ada yang disebut sebagai syaikhul islam oleh sebagian orang yang punya kualitas jauh di bawahnya.

Lalu pertanyaan selanjutnya, kalau Allah bukan jisim, maka ada di mana ia? Jawabannya, Allah berada di luar ruang dan waktu. Allah pasti telah ada saat semua ruang/tempat tercipta dan sebelum waktu dimulai dan terus seperti itu hingga waktu tak terbatas. Serangkaian ayat dan hadis mendukung kesimpulan ini, namun saya tak akan membahas itu sekarang. Percuma diberi ayat dan hadis kalau kemampuan memahami keduanya masih seperti Jahil 2 dan 3 dalam contoh di atas.

Dalam sejarah, ada dua aliran yang levelnya masih seperti Jahil 2 dan 3 itu, mereka bukan tak membaca al-Qur’an dan hadis, mereka menghafal dan berargumen berdasarkan keduanya. Aliran pertama adalah Jahmiyah yang meyakini Allah bertempat di bumi ini, bersama manusia tapi tak terlihat. Sedangkan Aliran kedua adalah mujassimah yang mengaku pengikut salaf yang meyakini bahwa Allah itu bertempat di Arasy sana dan berada di arah atas manusia. Keduanya berdebat sengit tentang tempat Allah tanpa sadar bahwa dengan meyakini Allah bertempat merupakan penghinaan terhadap Allah sebab bertempat adalah sifat dari jisim dan hanya bisa dilakukan oleh jisim. Begitu pula dengan naik dan turun, itu juga gerakan jisim. Bertempat berarti ada satu jisim yang berada di dalam atau di atas jisim lainnya. Demikian pula turun dan naik merupakan gerakan satu jisim yang mendekat atau menjauh dari dua jisim yang berada di atas dan di bawahnya.
Kalau masih dipaksakan bahwa Allah pasti bertempat dan berada dalam arah tertentu, maka akan muncul sederetan hal mustahil sebagai konsekuensinya yang tak mungkin dijawab oleh level Jahil 2 dan 3 itu. Berikut ini contoh pertanyaannya:

Kalau Allah memang di arah atas, maka manakah atas itu sedangkan bumi itu bulat sehingga arah atas dari bumi itu menuju ke semua arah? Apakah Allah bulat juga sehingga bisa dikatakan bahwa Allah di atas semua manusia di bumi yang bulat ini? Sebelum planet bumi beserta manusia tercipta, sebelah mana atas itu? Kalau kita melihat peta alam semesta dengan letak berbagai planet dan galaksi di dalamnya, sebelah mana atas itu?

Kalau Allah memang bertempat di Arasy, maka lebih dulu mana adanya antara Allah dan Arasy? Kalau lebih dahulu Allah dari Arasy, maka di mana Allah ketika Arasy belum tercipta dan di mana Allah ketika Arasy hancur nanti? Kalau dianggap Allah dan Arasy selalu bersama tanpa awal dan akhir, bukankah itu bid’ah yang tak berdasar satu ayat atau hadispun? Kalau Allah bertempat di atas Arasy bukankah berarti Arasy itu ukurannya lebih besar dari Allah dan Allah lebih kecil ukurannya dari Arasy? Kalau demikian, bukankah berarti unsur Arasy pasti lebih kokoh daripada unsur Allah sebab yang namanya tempat pasti lebih kokoh daripada yang menempati? Bukankah kalau demikian berarti Allah itu punya ukuran, berat, dan massa tubuh tertentu sehingga muat dan dapat ditopang Arasy?

Kalau betul bahwa Allah itu turun di waktu sepertiga malam dan kembali di waktu subuh, maka Allah sekarang sedang di atas Arasy atau sedang turun? Bukankah setiap detik ada daerah yang mengalami sepertiga malam sehingga berarti Allah tak naik-naik? Apa gunanya Allah naik turun demikian setiap hari? Kalau untuk menyampaikan bahwa saat itu waktunya bertaubat dan meminta, maka apa gunanya naik turun, apalagi tak ada siapa pun yang mendengar suara-Nya. Bukankah itu percuma?

Semua pertanyaan di atas tak mungkin dijawab secara ilmiah oleh orang dengan kemampuan berpikir level Jahil 2 dan 3 itu. Yang ada mereka hanya akan marah, menghujat, mengeluarkan sumpah serapah, memvonis kafir, ingkar, jahmiah, ahli bid’ah, gila, sesat, atau bahkan halal dibunuh. Kalau mereka masih punya akhlak sehingga enggan mengeluarkan perangai buruk seperti itu, maka pasti menyampaikan jurus andalan bahwa ini pertanyaan bid’ah, kita dilarang membahas ini, tak ada yang tahu soal Allah dan seterusnya dengan dibumbui nukilan dari ini dan itu yang sama sekali tak menjawab masalah. Sejatinya, mereka hanya mengajak taklid buta, beriman tanpa berakal, menyuruh diam seperti diamnya anak Jahiliyah yang disuruh menyembah patung yang dibikin bapak/kakeknya.

Agar terlihat tidak menyamakan Allah dengan makhluk dan seolah lebih ilmiah, level Jahil 2 dan 3 ini biasanya berkata bahwa bertempatnya Allah di Arasy tidak nempel (بغير المماسة)! Kalau makhluk kan nempel. Anda boleh tertawa, saya pun tersenyum ketika menulis ini, tapi itulah fakta argumen mereka. Padahal mau nempel atau tidak, apa bedanya? Ada juga yang tak kalah konyolnya, mengatakan bahwa Allah itu duduk di Arasy dengan cara misterius yang tak diketahui siapapun yang tidak sama dengan duduknya manusia, monyet, gajah atau apapun sebab Allah itu berbeda dari semuanya. Dikiranya perbedaan cara duduk dapat menghilangkan kesamaan Allah dengan jisim. Mau tegak, miring, jengking, atau duduknya seperti apapun, selama itu duduk ya berarti sifatnya jisim yang tak layak bagi Allah. Wajar bila Imam Syafi’i sebagaimana diriwayatkan oleh Qadli Husain mengafirkan orang yang berkata bahwa Allah duduk di Arasy.

Kalau memang hendak menyucikan Allah dari hal yang tak layak atau hendak membuat orang tak bertanya yang aneh-aneh, maka seharusnya sejak awal mereka—manusia level jahil 2 dan 3— berhenti mengatakan yang aneh-aneh dan tak layak tentang Allah. Mereka harus belajar untuk tafwidh, memasrahkan makna teks yang mereka baca kepada Allah semata tanpa berusaha menerjemah atau menjelaskan dengan penjelasan tak masuk akal. Apalagi melempar berbagai vonis sesat kepada orang yang menolak terjemahan dan tafsirannya itu dengan dalih menolak al-Qur’an dan hadis. Dikiranya dia representasi Al-Qur’an dan hadis yang tak mungkin salah.

سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Maha suci Allah, Tuhan banyak langit dan bumi, Tuhan Arasy, dari apa yang merrka sifati. (Surat Az-Zukhruf: 82)

Ust. Abdul Wahab Ahmad

Related posts

Kisah Lahirnya Sebuah Madzhab Aqidah Terbesar Aswaja Asy’ariyah

admin

Peristiwa-Peristiwa Diluar Kebiasaan Manusia (Khariqul Adat)

admin

Maksud Hadits Shahih Allah SWT Turun Ke Langit Dunia Sepertiga Malam Terakhir

admin

Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI