Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Berita Nusantara

MTQ Internasional Menggunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam

MADINATULIMAN (Pontianak) – Ada perbedaan antara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional VII Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) dengan yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ).

 

“Seluruh cabangnya sama. Tapi kini, di JQH, ada pengembangan cabang tambahan, yaitu qiroatul kutub, pembacaan kitab kuning dan ulumul Qur’an,” ujar anggota dewan juri MTQ JQH NU, Hj. Maslahah Zen.
 
Lalu, sambung dewan juri cabang tahfidh 5 juz ini, ada perbedaan dalam sistemnya. Dalam cabang tilawah dewasa misalnya, kalau di LPTQ, tidak ada cara pembaacaan Al-Quran imam-imam lain. 
 
“Kalau di JQH mengembangkan pembacaan Al-Qur'an dengan dengan tujuh riwayat. Bedanya di situ,” tambahnya.  
 
Selain itu, di JQH, ayat yang mesti dibaca peserta, iramanya sudah ditentukan panitia, “Peserta mengambil maqro melalui amplop. Di situ ditentukan oleh panitia. Kalau LPTQ peserta menentukan sendiri lagunya. Peserta bebas yang menenntukan,” tuturnya.
 
Hj. Rofiatu Sa’adah dari Kepulauan Riau menjelaskan lebih rinci, “Jadi begini, kalau di LPTQ, yang ditentukan ayatnya, lagunya terserah peserta. Tapi kalau di JQH, ayat sama lagunya sudah ditentukan bahwa kamu misalnya harus membawakan lagu hejaz, shaba. Sudah sepaket. Bisa, tidak bisa; suka, tidak suka, peserta otomatis harus menempilkannya,” tuturnya.
 
Contoh, sambung Rofiah yang juga pengurus JQHNU Kepri, peserta mendapat ayat riwayat Qolun yang bisa dibaca dengan tiga wajah. Ketiganya harus disertakan dengan lagu yang sudah ditentukan. Jadi, peserta berulang-ulang membaca satu ayat dengan cara membaca yang berbeda-beda.
 
“Menurut saya pribadi, peserta MTQ di JQH harus lebih siap dan berbobot karena tingkat keilmuannya juga harus lebih berbobot. Diterapkan seperti itu, dikarenakan pesertaJQH kan mayoritas dari pesantren,” ujarnya.
 
Tapi, menurut Rofiah, dengan sistem demikian, peserta banyak yang keberatan. Namun bukan berarti kualitas mereka yang kurang, tapi penguasaan keilmuan yang belun siap. (nuonline)

Related posts

Santri Indonesia Raih Emas pada Kompetisi Agribisnis di Thailand

admin

Musyarawah Nasional dan Konferensi Besar NU Terbagi 3 Komisi

admin

Kemenag ; Sidang Itsbat 19 Juli Jalan Terus Tanpa Muhammadiyah

admin

Presiden RI Ingin Dzikir dan Doa Jelang Peringatan Kemerdekaan Jadi Tradisi

admin

Singa Podium Dari Hadlramaut Yaman Akan Kembali Datang ke Indonesia

admin

Menag Imbau Google Turunkan Rating Konten-konten Negatif

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com