Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Kiriman Pembaca

Oleh-Oleh dari Tanah Suci

Dikirim / ditulis oleh :
KH. DR. Mahfudin Arsyad, MA.
(Pengasuh Ponpes Man Ana Bogor)

Dilantai tiga masjidil haram, kuberdiri bersandar dipagar teras masjid menatap sekian banyak orang bertawaf mengelilingi ka'bah. Fikiranku kosong, namun mataku jeli memperhatikan setiap gelagat manusia yg berlomba dan saling berebut menyentuh hajar aswad. 
 

Hampir satu jam ku perhatikan tingkah ribuan manusia dari atas sana, namun tak satupun yg dapat mendekat apalagi dapat menciumnya, karena mereka saling desak dan saling dorong. Ditambah lagi beberapa orang polisi ikut menjaga batu hitam tersebut. 
 
Memori otakku mencoba menerawang sejarah tentang hajar aswad. Dahulu, umar bin khottob pernah ikut mencium hajar aswad itu seraya berkata; "andaikan saja rasulullah tidak mencium batu ini, maka akupun tak mau menciumnya". Akalku menganalisa, bahwa apa yg dilakukan umar hanya sebagai mahabbah kepada rasulullah, bukan kepada batu tersebut. Sedangkan untuk menunjukan mahabbah kepada rasulullah punya banyak cara, bukan hanya dengan mencium hajar aswad saja. Apalagi untuk menciumnya terasa sangat sulit dan berbahaya sekali. Tidak sedikit korban nyawa dalam upaya mencium hajar aswad. Oleh karenanya para ulama bersepakat, cukup kecupkan tangan dan arahkan tangan tersebut ke hajar aswad, itu sudah bernilai sama dengan langsung menciumnya. 
 
Alam rasionalku terus mencari cari alasan ada kehebatan apa dibalik ka'bah dan hajar aswad itu sehingga manusia dari seluruh penjuru dunia datang untuk sekedar mengelilinginya sebanyak tujuh kali. Karena saking penasaran, akhirnya aku turun untuk masuk kedalam arus manusia dibawah sana.  
 
Dari mulai pinggiran masjidil haram, aku berupaya masuk ke area tawaf. Sulit memang, karena sekian juta manusia berada disana. Aku sadar tubuhku yg sangat kecil ini dibandingkan dengan tubuh orang orang dari manca negara, tak dapat mengalahkan tenaga mereka yg luar biasa, membuat aku pasrah dan tidak berusaha keras untuk menerobos dinding dan arus manusia. Ku biarkan diriku terbawa arus himpitan jutaan manusia itu. 
 
Tubuh mungilku kian terbawa ketengah area tawaf. Makin ketengah dan terus ketengah. Terdesak dan terdorong semakin membuatku terhempas tak tahu arah.  Namun disaat ku sadari benar posisiku, ternyata sudah sngat dekat dengan dinding ka'bah. Entah karena apa, tiba tiba diriku terpental oleh desakan beberapa orang hitam yg bertubuh tinggi dan besar. Aku terjatuh diantara sela sela kaki polisi. Betapa terkejut saat ku tengadahkan kepala, ternyata hajar aswad persis berada diatas kepalaku. Aku bangun dan berdiri. Ketika aku hendak pergi meningglkan tempat tersebut, mendadak fikiranku tertuju kepada hajar aswad dan bermaksud untuk menciumnya. Beberapa orang polisi yg sibuk mencegah manusia untuk menyentuh hajar aswad tidak menyadari bahwa dibelakang punggung mereka ada aku yg sedang siap mencium hajar aswad. Sesaat sebelum bibir ini menyentuh batu hitam, masih belum muncul perasaan apapun dalam hatiku, namun begitu kecupan telah mendarat di permukaan hajar aswad, spontanitas seluruh tubuhku bergetar, hatiku mendidih, jiwaku berguncang sehebat hebatnya. Airmataku deras mengalir tak tertahankan. Allahuakbar…. Sungguh keadaan bathin yg luar biasa. Kendati akalku malah bertanya mengapa dan apa yg perlu kutangisi. Aku tetap menangis. Bahkan setiap akalku berusaha untuk mencegah airmata agar tidak keluar dari sarangnya, malah makin kencang tangisanku.
 
Allahuakbar, runtuhlah hati ini. Sungguh tidak semua yg ada di muka bumi ini dapat ditaklukan dengan akal. Musnahlah syetan syetan yg bertengger dalam relung bathinku karena mungkin terbakar oleh kuasa Allah melalui kecupan hajar aswad tadi. Tinggal ku berfikir bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari tempat yg penuh dengan himpitan jutaan manusia tersebut. Tiba tiba, seperti sebuah ilusi dalam hati, ia berkata, "wahai mahfudin, tak perlu kau khawatir. Orang orang yg berada dekat dengan ka'bah ini akan tertib berputar mengikuti arus untuk bertawaf mengelilingi ka'bah. Ikutilah arus mereka. Justru kamu harus berhati hati dikala telah mulai menjauh dari ka'bah ini. Sebab disana orang mulai semrawut. Ada yg tawaf, ada yg sholat bahkan ada yg duduk untuk membaca alquran. Hati hati kamu bisa menabraknya dan kemudian jatuh terinjak injak."
 
Perlahan lahan aku merapat kedalam  arus orang bertawaf. Sempit memang, tapi tertib dan rapih mereka membawaku untuk terus bergeser dan menelanku dalam arus putaran tawaf. Perlahan lahan aku menepi dari arus putaran. Keluar dan makin keluar. Bahkan kini aku mulai keluar dari masjidil haram. 
 
Sesampainya diluar masjidil haram, ada seseorang datang menghampiriku
"can you speak english?"
"yes…"
 
Kemudian ia bercerita bahwa seluruh dokumen dan uangnya baru saja hilang. Dan ia bermaksud meminta sedekah kepadaku sebagai perbekalan makan selama berhaji. Setelah beberapa ratus real kuberi dan kami berpisah, aku mulai berfikir tentang perjalanan yg baru saja ku alami. 
 
Ada sesuatu tentang Tuhan  yg tidak dapat di mengerti oleh akal manusia. Dan kewajiban manusia untuk menjalaninya tanpa interupsi. Sebagaimana akalku yg terus bertanya tanya tentang apa kehebatan hajar aswad, namun setelah kudekati dan kucium, ada sesuatu yg maha dahsyat menyeruak dalam jiwa dan hatiku. Namun yg lebih penting dari filosof perjalan tawafku ini, ku fahami, bahwa orang orang yg bertawaf dekat dengan ka'bah, mereka akan tertib dan rapih dalam putarannya. Hal ini mengandung filosofis, bahwa mereka yg dekat dengan Allah, hidupnya akan tertib, rapih dan aman serta sejahtera. Sedangkan mereka yg sudah mulai menjauh dari ka'bah, mulai terlihat sendiri sendiri. Ada yg sholat, ada yg zikir ataupun membaca alquran, atau malah sekedar duduk duduk. Meskipun dalam kategori ibadah, tapi mereka ibadah sendiri sendiri menurut apa yg mereka sukai. Begitu pula halnya dengan kehidupan. Disaat manusia sudah mulai jauh dari Allah, mulailah hidupnya akan semrawut. Pekerjaannya, rumahtangganya atau apapun yg sedang mereka jalankan. Meskipun dalam kategori ibadah, tapi mereka mulai berjalan menurut kehendaknya masing masing, sehingga kebersamaan mulai hilang. Adapun ketika sudah keluar dari masjidil haram, beraneka ragam kejahatan dan kenistaan terjadi. Nilai ibadah sudah mulai hilang. Orang saling sikut, saling tipu, bahkan saling tindas demi kepentingannya pribadi. Demikian pula dengan filosofis hidup. Disaat manusia sudah berada diluar aturan agama, maka mereka hanya akan saling zalim menzalimi. Sulit menemukan orang yg jujur dan baik. Memperkosa hak hak manusia. Menjadikan istri sebagai sapi perahan. Memperalat laki laki sebagai kuda binal pemuas nafsu syahwat dan lain sebagainya. 
 
Tawaf mengelilingi ka'bah mengandung makna bahwa apapun yg dilakukan manusia dalam kancah urusan dunia ini, jangan sampai terlepas dari koridor ilahi. Tetap Allah menjadi pusat perhatian hidup. Karena bagaimanapun hidup didunia ini akan kembali kepada Allah yakni kehidupan abadi. Dan perhatikanlah arah putaran tawaf yg melawan arah jarum jam, ini mengindikasikan bahwa hendaknya manusia melepaskan diri  atau bahkan sanggup melawan dari arus gemerlap kehihidupan dunia.
 
Salam hangat. []

 

Related posts

Ada yang Salah Dalam Bacaan Qur’an-ku

admin

Para Ulama Dari Zaman Ke Zaman Tentang Maulid Nabi Muhammad

admin

Menyelam Dalam Manaqib Habib Ali Alhabsy

admin

Makna Taqwa Menurut Imam Al Ghazali

admin

Ikhlas Dan Dimensinya Dalam Kehidupan

admin

Tathayyur, kesialan Tak Beralasan

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com