Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Islam Balikpapan Pesantren

Perjuangan Ponpes Nurul Khaeraat Al Muhibbiin Balikpapan dalam Pendidikan

MADINATULIMAN.COMSEAKAN berkaca pada fenomena masyarakat yang cenderung lebih memilih sekolah negeri, tentu harus diakali sekolah swasta guna menarik peserta didik. Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Khaeraat Al Muhibbiin Balikpapan, misalnya. Berbagai kisah menarik tercatat dalam pergerakannya.

RAYI ENDAH MACHMUD rayi@balikpapanpos.co.id

PANGGILAN hati. Itulah yang dialami Habib Mahdar bin Abubakar Al-Qadri MA. Pria berperawakan tubuh tinggi ini adalah pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes)  Nurul Khaeraat Al-Muhibbiin yang terletak di Jalan Baru II RT 46 Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan.

Habib Mahdar—akrab disapa sebenarnya bukanlah pendiri asli Ponpes tersebut. Melainkan menggantikan peran adiknya, Habib Farid bin Abubakar Al-Qadri sejak 2009 silam. Habib Farid pun sebenarnya bukanlah juru dakwah tetapi seorang pengusaha yang banyak tinggal di Batam.

Tidak begitu lama setelah mendirikan ponpes tersebut, Habib Farid sering sakit-sakitan. Karena fisik yang lemah, Habib Farid merasa tak kuat lagi memimpin Ponpes Nurul Khaeraat Al-Muhibbiin. Dan ia meminta Habib Mahdar untuk menggantikan perannya. Semula Habib Mahdar sudah memiliki kehidupan sendiri di Jakarta serta menolak permintaan sang adik.

Jebolan Universitas Al Azhar-Mesir tersebut melanjutkan, tak lama setelah itu, Habib Farid wafat dan tongkat kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan Habib Mahdar.Habib Mahdar menceritakan bahwa pondok pesantren ini semula adalah tempat bagi warga sekitar menggelar majelis taklim awal tahun 2000.

Sejak saat itu banyak permintaan untuk mendirikan pondok. Di penghujung 2006, sebuah bangunan musala berdiri. Tempat ini dijadikan tempat pembelajaran bagi para santri. Meski telah memiliki musala, namun selama 2 tahun pertama listrik dan air tidaklah dapat dirasakan para santri dan pengajar.

Selama itu pula dirinya dan santri harus saling bahu-membahu mencoba mengangkut air dari sumur yang terletak di permukiman warga yang cukup jauh. Sedangkan malam hari hanya diterangi kerlipan bintang dan sorotan cahaya rembulan. Dan berangsur-angsur mencoba menggunakan lilin dan bahkan lampu teplok.

Mengingat niatan besar sang adik membangun pondok pesantren, Habib Mahdar terus bertekad untuk mewujudkan impian itu. Sekalipun ia sadari tidaklah mudah mendirikan sebuah pondok pesantren.

Terlebih lagi jika lingkungan sekitar tidak mendukung. Sebab, terkadang ada saja tukang palak dan preman yang datang mengganggu. “Di sekitar pondok sini dulu banyak preman dan pemabuk suka datang kemari.

Saya coba ajak mereka diskusi, dan dekati secara perlahan saya berikan tausiyah. Dan mencoba mencegah mereka minum-minuman keras dan memalak orang hingga akhirnya mereka tersadar,” kisahnya.

Kini, jumlah  pengajar dan santri di Pondok Pesantren Nurul Khaeraat Al-Muhibbiin sebanyak 60 orang dengan tingkatan SMP dan SMK. Di pondok ini terdapat 3 ruang kelas, sebuah lab komputer, dan  sebuah ruang perpustakaan.

Keunikan Ponpes Nurul Khaeraat Al-Muhibbiin terletak pada bangunannya. Sebagian berupa kotak-kotak yang berasal dari kontainer bekas. Setelah dimodifikasi, kontainer ini dimanfaatkan sebagai ruang tidur bagi para pengajar dan pimpinan pondok.

Sebagian lagi dijadikan dapur, gudang, dan kamar mandi. Agar tidak pengap terdapat satu buah kipas angin guna menghindari udara panas. Dan sudah diberi pintu dan jendela khusus.

Kontainer-kontainer itu merupakan hasil sumbangan H Pramono, seorang pengusaha asal Balikpapan. Sebelumnya terdapat sebanyak 15 kontainer di atas tanah seluas 7.680 meter persegi ini. Itu semua digunakan sebagai asrama santri putra dengan kapasitas 8 santri untuk satu kontainer. Namun, setelah kebakaran pada 2009, jumlahnya sisa 9 kontainer.

Sistem pembelajaran di pondok ini menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Para santri diharuskan menghafal pelajaran dengan cara berteriak.“Jika diucapkan dengan pelan mereka tidak akan tahu di mana letak kesalahannya.

Sehingga bila diteriakkan mereka dapat kembali mengulang dan mengulang kembali hingga benar,” paparnya. Jam pembelajaran di pondok dimulai sekira pukul 03.30 Wita. Para santri juga diajak berolahraga untuk menjaga ketahanan mental dan fisik. Cara ini, diakui mampu membantu santri untuk lebih percaya diri.

Beberapa pengajar kebanyakan orang Arab yang juga kawan dari Habib Mahdar. Salah satunya ialah Habib Muhammad Husein, pria Arab asal Yaman yang mengajar bahasa Arab dan Alquran.(*/balikpapanpos)

ilustrasi foto Thai Muslims Attend Islamic School In Southern Thailand

Related posts

Pelatihan Standarisasi Guru Tilawati di Masjid Al-Amin AURI Berjalan Sukses

admin

Sambut Idul Adlha, MUI Balikpapan Agendakan Pelatihan Pemotong Hewan Qurban

admin

HCoB Akan Gelar Buka Bersama di Panti Asuhan Bakti Haji Yayasan PJHI Batakan

admin

Walikota Balikpapan Lepas 75 Orang Kafilah MTQ

admin

Polsek Balikpapan Utara Silaturahmi ke Ponpes Raudhatul Ulum

admin

Bimbingan Teknis Pengurus UPZ Masjid dan Mushalla se-Kota Balikpapan Ditunda

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami