Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
hadits puasa Arafah
hadits puasa Arafah
Fikih Puasa Ubudiyah

Puasa Arafah 9 Dzulhijjah Bukan Didasarkan Wukuf Orang yang Berhaji

MADINATULIMAN.COM – Hari Arafah adalah hari dimana semua jamaah haji melakukan puncak ritual haji dengan melakukan wukuf di Arafah. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW bahwa “Al-Hajju Arofah”; Haji itu Arafah, dan hari Arafah itu bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah.

Jadi wukuf di Arafah itu harus bertepatan dengan dua hal; waktu & tempat. Waktunya pada tangal 9 Dzulhijjah, & tempatnya adalah di Arafah. Sedang puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan oleh mereka yang tidak sedang melaksanakan wukuf, waktunya bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah.

Waktu dimana mereka yang sedang menunaikan ibadah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Jadi ada titik temu antara dua jenis ibadah ini (wukuf dan puasa) yaitu waktunya bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah.

Dan yang perlu diketahui bahwa dua ibadah ini tidak saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Dimana ibadah wukuf akan tetap sah walaupun orang-orang diluar Mekkah sana tidak sedang melaksanakan ibadah puasa, dan sebaliknya ibadah puasa sunnah tanggal 9 itu tetap sah walaupun orang yang sedang berhaji itu tidak wukuf.

Karena sangat mungkin bahwa mereka yang berhaji itu berhalangan untuk wukuf, karena dihadang musuh misalnya, bencana alam atau kendala lainnya, atau mereka wukuf tapi waktunya salah, atau mereka wukuf pada waktunya tapi tempatnya salah, dan seterusnya.

Jadi sekali lagi bahwa puasa Arafah bukan karena mereka wukuf, tapi puasa itu dilakukan karena ia bertetepan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Pun begitu sebaliknya, wukuf itu dilakukan bukan karena orang diluar sana puasa, tapi karena ia bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Karena standar ibadah kita adalah waktu.

Sekarang, bagaimana menentukan tanggal 9 Dzulhijjah?

Disinilah letak permasalahannya, yaitu pada cara kita menentukan kapan jatuhnya tanggal 9 Dzulhijjah. Dan semua ulama menyepakati bahwa standar perhitungan ibadah ini adalah peredaran bulan. Maka cara menentukannya sudah pasti dengan terlebih dahulu mengetahui kapan jatuhnya tanggal 1 dzulhijjah.

Maka dalam hal ini kita akan kembali diingatkan dengan bagaimana cara penentuan 1 Ramadhan, caranya sama persis, dan perbedaan ulama dalam hal ini juga sama persis. Penentuannya bisa dengan metode rukyat ataupun hisab; hisab wujud al-Hilal atau juga Hisab Imkan ar-Ru’yah, atau gabungan dari keduanya.

Hingga akhirnya kita akan menemukan perbedaan ulama pada masalah rukyat lokal atau Internasional. Apakah setiap masyarakat harus mengikuti hasil perhitungan lokal, atau boleh juga mengikuti hasil dari negara Islam lainnya?. Yang dalam bahasa fikihnya dikenal dengan sebutan wihdah al-Mathali’ wa ikhtilaf al-mathali’.

Lebih kurang ini adalah hasil dari perbedapatan ulama dalam masalah penentuan awal bulan baru. Kita tidak boleh menafikan bahwa banyak juga para ulama yang meyakini bahwa setiap negeri boleh untuk memutuskan sendiri waktu ibadah mereka, tentunya keputusan ini bukan dengan semuanya, tetap harus melalui metode yang benar.

Hal ini disandarkan dengan hadits Kuraib yang sudah masyhur ditelinga kita, diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dari hadits Kuraib bisa kita ambil pelajaran, bahwa walaupun pada waktu itu ummat Islam masih berada dalam satu kepemimpinan (khilafah) namun memungkin bagi Ibnu Abbas untuk berbeda dengan keputusan khalifah, dan tidak terdengar bahwa Ibnu Abbas adalah bagian dari mereka yang ‘membangkang’ dari kepemimpinan Muawiyah.

Jadi jika kita tarik ke zaman sekarang maka sebagaimana pemerintah Saudi Arabiyah boleh memutuskan sendiri perihal puasa, Idul Fitri dan Idul Adha, maka hal sama bahwa pemerintah Indonesia juga boleh untuk menetapkan sendiri waktu puasa, Idul Fitri dan Idul Adhanya.

Memang ada pendapat lainnya yang menjelaskan kebolehan untuk mengambil satu kesaksian dengan alasan wihdah al-Mathali’, namun perlu diketahui juga bahwa yang dimaksud dengan satu kesaksian bukanlah milik orang Saudi saja, karenanya memungkinkan bagi kita juga untuk mengambil keputusan negeri tetangga lainnya, walaupun bukan Saudi.

Sebagaimana kita boleh mengikuti Saudi, namun hal yang sama juga sebenarnya orang Saudi boleh mengikuti keputusan negeri kita. Ulama terkemuka Saudi sendiri malah menyarankan untuk tetap mengikuti hasil keputusan lokal dan tidak harus mengikuti keputusan Saudi. (Lihat Majmu’ Fatawa-nya Ibn Utsaimin dalam pembahasan ini).

Untuk mereka yang sekarang berada di Saudi Arabia, dari manapun asalnya, maka mereka terikat dengan waktu Saudi dalam hal apa saja; shalat, puasa, berbuka, wukuf, dan Idul adha. Namun untuk mereka yang berada di luar Saudi, mereka juga baiknya mengikut penjadwalan waktu setempat. Walaupun khusus untuk perkara puasa ramadhan, puasa 9 dzulhijjah dan dua lebaran boleh-boleh saja mengkuti keputusan Saudi.

Keutamaan Puasa Arafah

Diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية
Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)

Selain puasa Arafah, disunnahkan pula puasa dihari-hari 10 terakhir bulan Dzulhijjah, kecuali Idul Adlha. Didalamnya juga terdapat puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء
“Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid)”. (HR Bukhari)

Ust. Awy’ A. Qolawun

Related posts

Salam Dengan Isyarat dan Salam Untuk Orang Bisu Tuli

admin

Membaca Al-Qur’an untuk Orang Mati

admin

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Amaliyah Didalamnya

admin

Bacaan Shalat Gerhana Setiap Berdiri (Qiyam)

admin

Ibadah Para Ulama Ahli Hadits Yang Menakjubkan

admin

Ucapan Salam Untuk Keluar Dari Shalat

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami