Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Tausiyah

H. Abdul Muis (Ketua MUI Balikpapan) ; Puasa Ramadhan & Loyalitas Keimanan

Oleh Drs. H. Abdul Muis Abdullah (Ketua MUI Kota Balikpapan)

 

Puasa di bulan ramadhan adalah salah satu dari lima pilar rukun islam. Digolongkannya ibadah ini sebagai salah satu syarat tegaknya keislaman seseorang menjadi poin penting dalam membangun kecerdasan rohani.

 

Puasa yang dalam bahasa arab disebut shiyam atau shaum, mengandung makna menahan atau mencegah diri melakukan sesuatu dalam rentang waktu tertentu  (al-imsaak walkaffu `an asy-syai'). Sedangkan puasa dalam istilah syar'i menurut Dr.Wahbah AlZuhaily, adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh suami isteri (jima') serta berbagai hal yang merusaknya atau membatalkannya dari terbitnyafajar hingga terbenamnya matahari.

 

Dalam konteks firman Allah SWT surat Al Baqarah ayat 183, Allah menyeru "Ya ayyuhalladziina Aamanuu"; "Wahai orang-orang yang beriman". Salah satu sahabat Nabi, seorang mufassir terkenal Abdullah ibnu Mas'ud mengatakan, bahwa apabila suatu ayat dimulai dengan panggilan kepada orang yang terpercaya, sebelum sampai ke akhirnya, kita sudah dapat memastikan bahwa ayat ini akan mengandung perihal yang penting atau suatul arangan yang berat.

 

Karena Allah Yang Maha Tahu (Al `Aliim) telahmemperhitungkan bahwa yang bersedia memikul perintah Tuhannya hanya orang -orang yang beriman. Buya Hamka dalam karyanya tafsir Al Azhar mengatakan bahwa orang yang merasa dirinya ada benih keimanan bersedia menunggu, apa perintah yang akan dipikulnya itu. Dan dia akan bersedia merubah kebiasaannya, menahan nafsunya dan bersedia pula bangun di waktu sahur serta menahan seleranya membatasi diri melakukan latihan yang agak berat, demi mencapai keridhaanTuhannya.

 

Kata "Kamaa kutiba `alalladziina min qoblikum" ; "Sebagaimana telahdiperintahkan kepada umat-umat sebelum kamu", mengindikasikan bahwa perintahpuasa telah ada sejak dahulu, sebelum diutusnya Muhammad saw dalam risalahkenabian.

 

Sebagaimana Nabi Musa a.s pernah berpuasa 40 hari. Begitu pula orang-orangYahudi masih tetap melakukan puasa pada hari-hari tertentu, seperti puasa satuminggu sebagai peringatan hancurnya Jerussalem dan diambilnya kembali. Begitu juga, puasa umat Kristen yang terkenal yaitu Puasa Besar sebelum hari paskah.

 

Dalam agama Mesir purbakalapun juga ada peraturan puasa, terutama pada kaum perempuan. Demikian halnya bangsa Romawi sebelum masehipun berpuasa. Begitupun dahulu, Nabi Zakaria a.s dan Maryam, ibunda nabi Isa a.s berpuasa dari tidak makan, tidak minum, tidak bersetubuh dan juga tidak berbicara pada rentang waktu tertentu.

Adapun hikmah dan faedah dari menunaikan ibadah puasa adalah menciptakan kepribadian yang bersendikan taqwa ("la'allakum tattaquun"). Takwa yang dihasilkan dari menahan dua syahwat yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu syahwat faraj atau sex, dan syahwat perut. Seandainya keduanya tiada terkendali, maka tidak mustahil kemanusiaan (humanity) darimanusia akan merosot, runtuh, dan hancur bertukar menjadi kebinatangan.

 

Dalam hal ini, puasa memberikan kendali bagi manusia dalam meningkatkan harga dirinya.Tiada yang berarti dari nilai puasa itu selain dari kesabaran yang tinggi,sebagaimana Rasulullah saw bersabda: "Ash- shiyamu nishfu shabr";"Puasa adalah separuh dari kesabaran" (HR.Ibnu Majah).

 

Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, bertabur berkah , bersemi didalamnya suasana hari bernuansakan keindahan, kesejukan dan kedamaian yang tiada terkira keutamaannya dibandingkan dua belas bulan lainnya. Bulan yang penuh dengan kenangan-kenangan bersejarah. Diturunkannya al Qur'an sebagai kitab suci petunjuk bagi ummat manusia, diutusnya seorang Rasulullah  Muhammad saw, manusia suci yang sarat kesempurnaan, sebagai Nabi dan RasulNya.

 

Terjadinya kemenangan terbesar umat islam dalam sejarah peperangan pada medan badar. Dimuliakannya satu malam  Qodar, yang memiliki keutamaan berlimpah pahala, yang mana nilai ibadah padamalam itu sebanding dengan ibadah dalam seribu bulan. Semua peristiwa itu terjadi dalam bulan yang sama, yaitu bulan suci ramadhan.

 

Allah SWT telah memilih bulan ini sebagai bulan puasa. "Ayyaaman ma'duudaat",yaitu puasa pada hari-hari yang terbilang. Bulan yang membimbing hamba-hambaNya larut dalam ketekunan beribadah, menahan diri dari kenikmatan makan, kesegaran air minum pengentas dahaga, serta kepuasan berjima' suami dan istri pada siang hari. Ada dimensi kedisiplinan, ada pula aspek ketaatan. Tiada hal yang dapat menjamin utuhnya ketaatan dan kedisiplinan itu, selain berpangkal dari niat ikhlas dan sabar yang tak lekang dengan bertumpu pada loyalitas keimanan.

 

Maka dari itu, bersamaan dengan hadirnya kembali bulan ramadhan ini, mari kita mulai luruskan tujuan, kita pertahankan nilai suci dari ibadah dengan memurnikan niat semata karena Allah `Azza wa Jalla, untuk kemudian kita raih bersama predikat takwa. Yakni takwa dalam koridor makna sebenar-benarnya takwa, yang tidak hanya tersekat dalam ruang dan waktu yang bernama ramadhan, namun berlanjut seterusnya selepas bulan ini berlalu.

 

Memulai suatu kebaikan adalah mudah, namun menjaganya dalam kontinuitas dan istiqomah (konsistensi) membutuhkan niat ikhlas dan kesabaran. Tulus dan ikhlas adalah awal dari kebaikan, sedangkan kesabaran akan terus mengiringi berjalannya kebaikan itu. Allahu A'lam bish-shawaab. (*/balikpapanpos)

Related posts

Ust. Imam Warosyi ; Jika Membayar Zakat Fitrah Berupa Uang

admin

Menyikapi Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

admin

Berdakwah dan Berfatwa hanya dengan “Sampaikan Walau Satu Ayat” ?

admin

KH. Moh. Anas Muchtar : Pentingnya Sertifikasi Halal Melalui LPPOM dan MUI

admin

KH Anas Muchtar (Ketua MUI Bidang Fatwa) ; Ramadan Bulan Pertaubatan

admin

H Sulaiman Ismail ; Memahami Makna Lailatul Qadar

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami