Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Puasa Tarwiyah dan Puasa ‘Arafah

MADINATULIMAN.COM – A. KEISTIMEWAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

Bulan Dzulhijjah termasuk bulan yang istimewa, bahkan sepuluh hari pertama bulan tersebut, Allah mempergunakannya untuk bersumpah sebagaimana didalam Surat Al-Fajr :

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْر
“Demi waktu fajar, dan malam-malam yang sepuluh”

Meskipun ada beberapa pandangan terhadap ayat diatas, namun Ibnu ‘Abbas sebagaimana di kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an, bahwa yang dimaksud adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّهَا الْعَشْرُ الْأُوَلُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ. وَهُوَ قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ والسدي والكلبي
“Dari Ibnu ‘Abbas : sesungguhnya malam-malam sepuluh tersebut adalah sepuluh pertama daripada bulan dzulhijjah, ini qaul Mujahid, Qatadah, al-Dlahhak, al-Sudi dan al-Kalbi”

Digunakannya oleh Alllah untuk bersumpah menunjukkan keistimewaan daripada hari-hari tersebut. Keistimewaannya juga disebutkan dalam beberapa hadits diantaranya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ» ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»
“Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hari yang mana amal shalih yang dilakukan didalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh (Dzulhijjah)”. Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?”, Rasulullah menjawab: “Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan membawa dirinya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan membawa sesuatu apapun (mati syahid)”. (HR.At-Tirmidzi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ القَدْرِ»
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah kepadanya didalamnya daripada sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah, dimana puasa setiap hari dari hari tersebut disamakan dengan puasa setahun, dan mendirikan shalat pada malamnya seperti shalat di malam al-Qadr”. (HR. al-Tirmidzi)

B. ANJURAN PUASA DAN IBADAH LAINNYA

Karena banyaknya keistimewaan yang ada didalamnya, maka dianjurkan memperbanyak dengan ibadah dan bentuk ketaatan lainnya untuk memperoleh keutamaan hari-hari tersebut seperti puasa, shalat, do’a, shadaqah,  dan lain sebagainya.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ ”
“Dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada hari-hari yang lebih agung disisi Allah dan lebih cintai oleh Allah dalam beramal didalamnya daripada hari-hari yang sepuluh, maka perbanyaklah kalian melakukan ibadah didalamnya seperti tahlil , takbir dan tahmid”. (HR. Ahmad)

Bila melakukan puasa, maka puasa yang dimaksud tentunya hanya sampai tanggal 9 atau sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah sebab hari kesepuluh merupakan hari raya (iedul adlha). Puasa di sembilan hari tersebut termasuk dalam keumuman hadits Rasulullah tentang keutamaan hari-hari tersebut untuk menjalankan ibadah sunah apapun bentuknya. Ulama Syafi’iyah berkata sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Nawawi didalam al-Majmu’ :

وَمِنْ الْمَسْنُونِ صَوْمُ شَعْبَانَ وَمِنْهُ صَوْمُ الْأَيَّامِ التِّسْعَةِ مِنْ أَوَّلِ ذِي الْحِجَّةِ وَجَاءَتْ فِي هَذَا كُلِّهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
“Termasuk puasa sunnah yaitu puasa Sya’ban dan puasa hari-hari sembilan daripada awal bulan Dzulhijjah, dan telah banyak hadits-hadits tentang hal tersebut”.

Apalagi didalamnya juga terdapat yaumu ‘Arafah tanggal 9 Dzulhijjah yang mana didalam hadits dianjurkan puasa dihari tersebut, sedangkan ditanggal 8 dikenal sebagai yaumu Tarwiyah. Meskipun haditsnya diperselisihkan namun kesunnahan puasa yaumu Tarwiyah masuk dalam kesunnahan puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Sementara ditanggal 10 Dzulhijjah dikenal sebagai yaumu Nahr (hari penyembelihan) atau iedul Adlha (hari raya korban), dimana dihari tersebut umat Islam melaksanakan shalat ied, berkorban, dan menggemakan takbir diberbagai tempat.

C. PUASA HARI TARWIYAH DAN ARAFAH

Puasa hari Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah sedangkan puasa hari Arafah dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijjah. Mengenai penamaan hari Tarwiyah ada beberapa sebab, diantaranya dinamakan Tarwiyyah dinisbatkan kepada pembicaraan Nabi Ibrahim ‘alahissalam mengenai mimpinya (perenungan Nabi Ibrahim) yaitu mimpi menyembelih anaknya Ismail alaihissalam. Kesunnahan puasa yaumu Tarwiyah masuk dalam kesunnahan puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah.

Sedangkan mengenai puasa Arafah terdapat didalam hadits Muslim:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالسَّنَةَ الْبَاقِيَةَ
“Dari Abu Qatadah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wallsam ditanya mengenai puasa hari Arafah, Rasulullah menjawab: “Bisa menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”.

Maksud dari menghapus setahun yang lalu atau yang akan datang didalam tersebut, sebagai berikut jelaskan didalam Al-Hawi al-Kabiir:

وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ ذُنُوبَ سَنَتَيْنِ.  وَالثَّانِي: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَعْصِمُهُ فِي هَاتَيْنِ السَّنَتَيْنِ فَلَا يَعْصِي فِيهِمَا،
“Didalam hadits tersebut ada dua takwilan (pengertian), Pertama, Allah Ta’ala memberikan ampun untuknya atas dosa-dosa yang dilakukan selama 2 tahun, Kedua, Allah Ta’ala menjaganya selama masa dua tahun tersebut sehingga tidak melakukan kedurhakaan (dosa) didalamnya”.

Kesunnahan puasa Arafah ini bagi orang yang tidak melaksanakan haji, sedangkan bagi yang melaksanakan haji disunnahkan berbuka (tidak puasa) agar bisa lebih maksimal berdo’a dihari tersebut karena pahala do’a dihari tersebut sangat dibesarkan oleh Allah.

Imam al-Nawawi secara panjang lebar menjelaskan sebagai berikut:

(أَمَّا) حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ لِغَيْرِ مَنْ هُوَ بِعَرَفَةَ (وَأَمَّا) الْحَاجُّ الْحَاضِرُ فِي عَرَفَةَ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْمُخْتَصَرِ وَالْأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ لَهُ فِطْرُهُ لِحَدِيثِ أُمِّ الْفَضْلِ وَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا يُكْرَهُ لَهُ صَوْمُهُ وَمِمَّنْ صَرَّحَ بِكَرَاهَتِهِ الدَّارِمِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَالْمَحَامِلِيُّ فِي الْمَجْمُوعِ وَالْمُصَنِّفُ فِي التَّنْبِيهِ وَآخَرُونَ وَنَقَلَ الرَّافِعِيُّ كَرَاهَتَهُ عَنْ كَثِيرِينَ مِنْ الْأَصْحَابِ وَلَمْ يَذْكُرْ الْجُمْهُورُ الْكَرَاهَةَ بَلْ قَالُوا يُسْتَحَبُّ فِطْرُهُ كَمَا قَالَهُ الشافعي
“Hukum masalah ini adalah Imam Asy-Syafi’i dan ashhab menyatakan: disunnahkan puasa hari Arafah bagi orang yang tidak berada di Arafah (tidak berhaji). Adapun bagi orang yang berhaji yang ada di Arafah, disunnahkan baginya berbuka (tidak puasa) berdasarkan hadits Ummu Fadlil. Sekelompok dari ulama kami berkata: dimakruhkan bagi orang yang berhaji berpuasa, diantara yang secara jelas memakruhkannya adalah al-Darimi, al-Bandaniji, al-Mahamili, mushannif, dan beberapa ulama lain. Ar-Rafi’i menaqal kemakruhannya dari banyak ashhab tanpa menyebut mayoritas memakruhkan, bahkan mereka (mayoritas) sebatas mensunnahkan berbuka seperti pendapat Imam Asy-Syafi’i”.

D. NIAT PUASA TARWIYAH DAN ARAFAH

Niat merupakan bagian penting didalam ibadah. Demikian pula dengan ibadah puasa. Niat puasa berarti menyengaja melakukan puasa dengan memenuhi unsur-unsur daripada niat. Didalam puasa wajib seperti puasa Ramadlan, niat harus dilakukan dimalam hari atau tabyitun niyyah (mulai terbenam matahari sampai terbitnya fajar) atau , berbeda dengan halnya puasa sunnah, niat boleh dilakukan disiang hari sebelum zawal (tergelincirnya matahari) sebelum belum memakan atau minum apapun mulai dari fajar. Demikian pula didalam puasa sunnah, tidak disyaratkan adanya ta’yin (menentukan jenis puasa sunnah yang dilakukan), namun selayaknya menyebutkan jenis puasanya.

Imam al-Nawawi menjelaskan didalam Al-Majmu’ :

(وَأَمَّا) صَوْمُ التَّطَوُّعِ فَيَصْحُ بِنِيَّةِ مُطْلَقِ الصَّوْمِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي أَنْ يُشْتَرَطَ التَّعْيِينُ فِي الصَّوْمِ الْمُرَتَّبِ كَصَوْمِ عَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ وَنَحْوِهَا كَمَا يُشْتَرَطُ ذَلِكَ فِي الرَّوَاتِبِ مِنْ نَوَافِلِ الصَّلَاةِ
“Puasa sunnah, sudah sah dengan niat mutlak puasa, sebagaimana didalam shalat, seperti inilah ashhab mempraktekkannya, dan selayaknya disyaratkan adanya ta’yin didalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura, puasa Ayyamul Biydl, puasa enam hari di bulan Syawal dan lainnya, sebagaimana disyaratkan hal itu didalam shalat sunnah rawatib”.

Sementar keterangan didalam al-Fiqhu al-Manhaji sebagai berikut:

أما صوم النافلة فلا يشترط في نيتها تبييت ولا تعيين، فيصبح بنية قبل الزوال، ويصح بنية مطلقة.  ودليل ذلك حديث عائشة رضي الله عنها أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال لها يوماً: ” هل عندكم من غداء؟ قالت لا. قال: فإني إذاً أصوم “. رواه الدارقطني.
“Adapun puasa sunnah, tidak disyaratkan didalamnya ada tabyit (menginapkan niat) dan ta’yin (menentukan jenis puasa), maka sah dengan niat asalkan belum tergelincir matahari dan sah pula dengan niat puasa mutlak. Dalilnya hadits Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya “Apakah ada makanan?”, ‘Aisyah menjawab “tidak ada”, Rasulullah berkata: “Jika demikian aku puasa”. (HR. Ad-Daruquthni).

Maka dari itu, niat puasa ‘Arafah sudah terpenuhi minimal dengan adanya unsur al-qashdu (menyengaja puasa) seperti lafadz Nawaitu (aku niat) kemudian selayaknya tambah dengan ta’yin (menentukan jenis puasa) seperti lafadz ‘Arafah.

Berikut contoh niat puasa Tarwiyah dan niat puasa ‘Arafah:

نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَّةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعالى
Nawaitu shaumat Tarwiyah Sunnatan Lil-lahi Ta’ala

Artinya: “Aku niat puasa Tarwiyah sunnah karena Allah Ta’ala”

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعالى
Nawaitu shauma Arafah Sunnatan Lil-lahi Ta’ala

Artinya: “Aku niat puasa Arafah sunnah karena Allah Ta’ala”

Related posts

Risalah Ramadhan (6) ; Komentar Ulama Mengenai Jumlah Raka’at Tarawih

admin

Hukum Menshalati Jenazah Teroris Menurut Hukum Fiqih Islam

admin

Risalah Ramadhan (3) ; 10 Pembatal Puasa Dalam Kitab Fathul Qarib

admin

Shalat Tahiyatul Masjid dan Hukumnya

admin

Cara Mewakilkan Haji Kepada Orang Lain

admin

Idul Yatama Sebagai Hari Menyantuni Anak Yatim

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami