Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Tausiyah

Redaksi Khutbah Idul Adlha untuk Para Khatib

KHUTBAH IDUL ADHA
MEMAKNAI WASIAT NABI IBRAHIM

* اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ * اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ * اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ * وَللهِ الْحَمْدُ * اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ. لاَ اِلَهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ َلا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ الله! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Di pagi Idul Adha yang penuh barokah ini, Marilah kita tingkatkan iman taqwa kita kepada Allah سبحانه وتعالى. yang telah memberikan beribu-ribu karunia-Nya kepada kita. Nikmat yang telah ditaburkan pada kita, tentu kita tidak akan pernah mampu untuk menghitungnya satu persatu

وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها.

Itulah sebabnya maka kita wajib mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Ribuan tahun yang lalu, di tanah kering dan tandus, di atas bukit-bukit bebatuan yang ganas, sebuah cita-cita universal ummat manusia dipancangkan. Nabi Ibrahim Alaihissalam, telah memancangkan sebuah cita-cita yang kelak terbukti melahirkan peradaban besar. Cita-cita kesejahteraan lahir dan batin. Suatu kehidupan yang secara psikologis aman, tenteram, dan sentosa dan secara materi subur dan makmur.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS, al-Baqarah: 126)

Pada hari ini jutaan manusia, dengan kesadaran keagamaan yang tulus, kembali mengenang peristiwa keagamaan yang sangat bernilai itu. Mereka coba merefleksikan maknanya pada berbagai bentuk ritual yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Maka jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah Ta’ala. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia yang menghambakan diri kepada Rabb Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.”

Kaum muslimin…………………………

Sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan tata kehidupan yang telah dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itulah yang terbukti melahirkan cita-cita ketenteraman dan kemakmuran hidup manusia. Itulah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan jelas. Tidak ada yang membencinya kecuali orang yang menzhalimi, memperbodoh, dan merendahkan diri sendiri.

Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada sistem kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. “Ketika Allah berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah (Islamlah),” maka ia tidak pernah menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik rasa keraguan sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah itu dengan seketika dan dengan penuh ketulusan.

Ternyata keislaman Ibrahim tidak hanya untuk dirinya sendiri, ketundukannya kepada ajaran-ajaran dan syari’at Allah bukan hanya buat dirinya sendiri, bahkan tidak hanya untuk generasi sezamannya, melainkan untuk seluruh generasi ummat manusia. Atas dasar itulah beliau wariskan Islam dan sikap ketundukan kepadanya untuk anak cucu sepeninggalnya, untuk generasi berikutnya sampai akhir masa.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS, al-Baqarah [2]: 132)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Allahu Akbar 3x Allahu Akbar wa lillahi al-hamd

Apa yang diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub tersebut jelas mengisyaratkan agar anak cucu mereka, agar generasi sesudahnya menerima dan menegakkan Islam secara utuh serta konsisten dalam merealisasikan cita-cita kesejahteraan. Ketulusan dalam menerima dan menegakkan Islam serta konsistensi pada cita-cita luhur adalah jaminan untuk memperoleh kesejahteran hidup. Sebaliknya, ketidakpatuhan dan tidak konsisten kepada Islam dapat menjermuskan kehidupan kaum muslimin ke dalam lembah yang penuh nestapa dan akan menjerembabkan manusia ke dalam krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Maka dari itu apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim tersebut perlu kita renungkan dan kita pegang teguh. Karena islam adalah jalan keselamatan baik keselamatan di dunia maupun di akherat. Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh para nabi mulai dari nabi Adam sampai nabi kita Muhammad. Sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhori:

وَاْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ

“ Para Nabi Saudara seayah, ibu mereka berbeda-beda sedangkan agama mereka satu.” Yaitu islam.

Islam adalah satu-satunya agama yang hak menurut Allah

إن الدين عند الله الإسلام

Dan barang siapa yang memeluk agama selain islam maka Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan ia termasuk orang-orang yang merugi di akherat kelak.

ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين

Ma’asyirol muslimin…….

Dari penjelasan di atas Nampak jelas sekali bahwa nabi Ibrahim seorang muslim yang paripurna. Beliau tidak pernah ragu sedikitpun kepada kebenaran islam. Beliau adalah seoarang nabi yang ma’shum (yang dijaga oleh Allah dari kekufuran, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang mengandung kerendahan jiwa) sebagaimana nabi-nabi yang lain. Nabi ibrahim dan para nabi yang lain ma’shum (dijaga oleh Allah dari kekufuran, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang mengandung kerendahan jiwa) baik sebelum mereka diangkat menjadi nabi maupun setelah mereka diangkat menjadi nabi, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Muhammad al-Dasuqi, dalam kitabnya, Hasyiyah ‘ala Ummi al-Barahin, hal. 163. Maka dari itu tidak benar apabila dikatakan bahwa nabi ibrahim pernah bingung mencari Tuhan. Tidak benar bahwa nabi ibrahim pernah menyangka matahari, bulan dan bintang sebagai Tuhan. Adapun perkataan nabi ibrahim di dalam al-Qur’an ketika melihat matahari, bulan dan bintang:

هذا ربي ,

maksudnya adalah: apakah ini Tuhanku sebagaimana yang kalian sangka? Jadi kalimat itu mengandung istifham ingkari (pertanyaan pengingkaran) , bukan itsbat (menetapkan), sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir, seperti tafsir Jalalain. Kemudian dalam peristiwa itu, nabi ibrahim dalam posisi menjelaskan kepada kaumnya tentang Tauhid. Bahwa matahari, bulan dan bintang tidak berhak disembah, karena benda-benda itu berubah-rubah, setelah terbit kemudian tenggelam.

Ma’syirol muslimin………

Apabila dikatakan bahwa ibrahim pernah menyangka matahari, bulan dan bintang sebagai Tuhan berarti ini menisbatkan kekufuran dan kesyirikan kepada Nabi Ibrahim, padahal Allah telah membebaskan Ibrahim dari kesyirikan. Allah berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67)

67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus[201] lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.

Yang dimaksud dengan:

[201] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (51)

51. Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum ia baligh, dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah, semoga kita ditetapkan iman dan islam kita sampai akhir hayat kita, dan semoga kita mendapatkan taufiq untuk menerima dan menegakkan Islam secara utuh serta tetap konsisten terhadap ajaran-ajaran islam sehingga kita mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan.

بارك الله لي و لكم في القرءان العظبم و نفعني و إياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم
و تقبل الله منا و منكم تلاوته إنه حميد مجيد. أقول قولي هذا وأستغفر الله لي و لكم و استغفروا ربكم إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH II

الله أكبر – الله أكبر- الله أكبر- الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر
الحمد لله ذي العز المجيد، والبطش الشديد، المبدئ المعيد، الفعال لما يريد، وسبحان من جعل الناس فريقين فمنهم شقي ومنهم سعيد، والصلاة والسلام على محمد الداعي الى التوحيد، المبشر للمؤمنين بدار لا يفنى نعيمها ولا يبيد، المنذر للعصاة بنار تلظى بدوام الوقيد.
عباد الله… أوصيكم ونفسي بتقوى الله مَن لا شريك له ولا كفوَ ولا مثل ولا ضد ولا ند، أما بعد،
قال الله عز وجل في كتابه العزيز: من عمل صالحًا فلنفسه ومن أساء فعليها وما ربك بظلام للعبيد، فسارعوا إلى الطاعات وصلة الأرحام والتحلل من المظالم والتبعات مع إخلاص النية لله تعالى، فالدنيا ساعة، اجعلها طاعة، والنفس طماعة، عوّدها القناعة.
عباد الله… إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليمًا، اللهم صلّ على سيدنا محمد وعلى ءال سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى ءال سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعلى ءال سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى ءال سيدنا إبراهيم إنك حميد مجيد، ،اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات وارفع لهم الدرجات برحمتك يا أرحم الراحمين، اللهم فرج كربات المسلمين وانصرنا على القوم الكافرين، وأرنا ثأرنا فيمن ظلمنا، اللهم إنا نجعلك في نحورهم ونعوذ بك من شرورهم، اللهم اجعلنا هداة مهديين غير ضالين ولا مضلين ،ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.
عباد الله اذكروا الله يذكركم واشكروه يزدكم واتقوه يجعل لكم من أمركم مخرجًا، وتقبل الله طاعاتكم وكل عام وأنتم بخير

(Ust. M. Idrus Ramli)

Related posts

H. Abdul Muis (Ketua MUI Balikpapan) ; Puasa Ramadhan & Loyalitas Keimanan

admin

HM Roem Arbain ; Segera Tunaikan Zakat, Infaq dan Shadaqah

admin

Berdakwah dan Berfatwa hanya dengan “Sampaikan Walau Satu Ayat” ?

admin

KH Jailani Mawardi (Ketua Komisi Fatwa) ; Introspeksi Diri di Bulan Ramadhan

admin

KH Anas Muchtar (Ketua MUI Bidang Fatwa) ; Ramadan Bulan Pertaubatan

admin

Menyikapi Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com