Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Risalah Ramadhan (1) ; Syarat-Syarat Wajibnya Puasa

MADINATULIMAN – Kewajiban Puasa dibebankan kepada orang Islam (muslim), baligh, ‘aqil (beraqal), thahir (suci), qadir (mampu berpuasa) dan muqim (menetap atau bukan dalam keadaan safar). Rinciannya sebagai berikut :

 

1. Muslim. 
 
Jika kafir asli, maka tidak sah berpuasa disebabkan kekafirannya. Tidak wajib pula meng-qadla' jika suatu saat ia masuk Islam. Jika kafir sebab murtad, ia tidak sah berpuasa namun ia tetap berdosa karena meninggalkannya. Apabila masuk Islam maka wajib meng-qadla' puasanya.
 
Jika orang kafir masuk Islam (muallaf) pada pertengahan siang hari, maka dianjurkan baginya untuk imsak (menahan dari dari makan, minum dan hal yang membatalkan puasa) pada separuh siang berikutnya, untuk menghormati waktu waktu (li-hurmatil waqti), namun itu tidak wajib baginya. Selanjutnya muallaf tersebut apakah harus meng-qadla’ puasa di siang itu atau kah tidak ?. Ia tidak wajib meng-qadla’nya berdasarkan sabda Nabi SAW :
 
الْإِسْلاَمُ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ مِنَ الذُّنُوبِ
“Islam itu menghapus dosa-dosa yang sebelumnya”
 
Dan karena ia juga tidak mendapati waktu yang memungkinkan untuk mengerjakan puasa. Sedangkan sebagian pendapat  ada yang menyatakan wajib mengqadla’ nya, karena ia mendapati sebagian waktu tersebut namun tidak mungkin puasa setengah hari melainkan harus sehari sehingga ia wajib meng-qadla’ puasa hari itu.
 
2. Baligh
 
Shobiy (anak kecil) tidak wajib puasa. Berdasarkan sabda Nabi SAW :
 
رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتى يبلغ، وعن النائم حتى يستيقظ، وعن المجنون حتى يفيق
“Pena diangkat (hokum tidak dikenakan) terhadap 3 hal,  yaitu; anak kecil (shobiy) hingga ia baligh, orang tidur sampai ia bangun, dan orang gila sampai ia sembuh”.
 
3. Beraqal
 
Majnun (orang gila) tidak wajib puasa sebab ke-majnun-annya. Apabila ia sembuh setelah bulan Ramadhan, tidak wajib meng-qadlo’ puasa yang ditinggalkan sebab ke-majnun-annya tersebut. 
 
Apabila majnun itu sembuh pada pertengahan siang Ramadhan, tidak wajib baginya imsak pada separuh siang berikutnya dan tidak wajib meng-qadla’nya. Sedangkan pendapat Abu Hanifah dan Sufyan al-Tsauriy mengatakan wajib mengqada’nya. 
 
4. Thahir (suci)
 
Perempuan yang haidl dan nifas tidak sah berpuasa dan tidak boleh imsak (menahan diri dari makan dan minum) dengan niat puasa. Nabi SAW bersabda :
 
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا
“Bukankah apabila seorang wanita mengalami haidl, dia tidak shalat dan tidak berpuasa. Itulah (bentuk) kurangnya diennya (agamanya)”
 
Jika keduanya (wanita haidl dan nifas) telah suci kembali, maka wajib mengqadla’ puasa yang ditinggalkan, berdasarkan riwayat dari Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha.
 
كنا نؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة
“Kami (para wanita) diperintahkan mengqadla’ puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat”
 
Apabila keduanya suci pada pertengahan siang ramadlan, tidak wajib imsak (menahan diri dari makan dan minum) bagi keduanya, namun hanya dianjurkan. Sebab keduanya boleh berbuka sebab karena ‘udzur sehingga tidak wajib imsak. Berbeda halnya dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan Sufyan al-Tsauriy, wajib imsak pada separuh siang berikutnya.
 
5. Qadir (mampu berpuasa)
 
Imam Syafi’i rahimahullah berkata 
 
وأما الشيخ الكبير، والعجوز الكبيرة اللذان لا يقدران على الصوم: فيجوز لهما الإفطار 
“Orang tua renta dan wanita tua renta yang keduanya tidak mampu berpuasa maka boleh berbuka bagi keduanya”.
 
Bagi keduanya wajib membayar fidyah setiap hari sebanyak 1 mud atau 6,7 ons kepada fakir miskin. Berbeda halnya dengan pendapat Malik dan Abu Tsur, yaitu tidak wajib membayar fidyah karena kewajiban puasa gugur pada keduanya (orang tua renta), jadi hukumnya seperti anak kecil dan majnun (orang gila). 
 
Orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka hukumnya seperti orang tua renta yaitu hanya membayar fidyah. 
 
Jika sakitnya ringan atau dapat diharapkan kesembuhannya, maka wajib meng-qadla’nya, bukan membayar fidyah.
 
Orang yang jika berpuasa ia menjadi lemah dan bisa membahayakan dirinya, maka boleh membatalkan puasanya, namun hanya diperbolehkan makan dan minum seperlunya saja. Demikian juga boleh tidak puasa bagi seseorang yang penyakitnya tambah parah jika berpuasa atau membuat sakitnya semakin lama untuk sembuh. 
 
Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :
 
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.
 
6. Muqim (bukan musafir)
 
Musafir boleh berbuka puasa, jika perjalanannya mencapai 48 mil (sekitar 89-90 km), bukan perjalanan untuk maksiat, dan perjalanan sudah dimulai sebelum shubuh, ini pendapat yang shahih. Dan ia wajib meng-qada’ puasa yang ditinggalkan.
 
Jika perjalanannya kurang dari 48 mil, tidak boleh berbuka. Jika musafir berniat tinggal di tempat tujuan (berniat menetap), maka tidak dihukumi sebagai musafir.
 
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anhaa :
 
أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – : أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ ؟ – وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ – فَقَالَ : إنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ
“Sesungguhnya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Apakah saya boleh berpuasa ketika bepergian (safar)?. Maka beliau Shallallahu ‘alayhi wa Sallam menjawab: ‘Jika engkau mau berpuasalah, dan jika engkau mau berbukalah (tidak berpuasa).”
 
Dan juga diriwayatkan dari Sayyidina Anas radliyallahu ‘anh, ia berkata :
 
سافرنا مع رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فمنا من صام، ومنا من أفطر، فلم يعب الصائم على المفطر، ولا المفطر على الصائم
“Kami melakukan safar bersama Rasulullah, diantara kami ada yang puasa dan ada yang tidak, orang yang berpuasa tidak mencela yang tidak berpuasa, dan tidak pula sebaliknya”
 
 
Wallahu A’lam

Oleh : Abdur Rohim

Disarikan dari Al Bayan lil-Imraniy al-Yamani al-Syafi'i

Related posts

Daftar Istilah Ukuran Dalam Kitab Fiqh

admin

Ternyata Adzan Tidak Hanya Dikumandangkan Untuk Panggilan Shalat

admin

Karakteristik-Karakteristik Dalam Ahlussunnah wal Jama’ah

admin

Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied (Hari Raya)

admin

Jika Gerhana Tertutup Awan (Mendung) dan Hujan

admin

Risalah Ramadhan (7) ; Kebiasaan Ulama dan Tadarus Al-Qur’an

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami