Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Risalah Ramadhan (2) ; Perkembangan & Perubahan Dalam Shalat Tarawih

MADINATULIMAN – Shalat Tarawih termasuk bagian dari shalat sunnah, yang dilaksanakan hanya pada malam-malam bulan Ramadhan.  Disebut juga Qiyam Ramadhan karena bertujuan menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan. Kata Tarawih sendiri, adalah bentuk jama’ (plural) dari kata tunggal Tarwihah (الترويحة) yang berarti istirahat. Menurut ethimologi berasal dari kata murawahah (مـراوحـة) berarti saling menyenangkan dengan wazan Mufaalahnya al-Rahah ( الراحـــــــة ) yang berarti merasa senang. 

 

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani didalam Fathul Bari, 
 
سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوْا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُوْنَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ .
“Shalat jamaah yang dilaksanakan pada setiap malam bulan Ramadhan dinamai Tarawih karena para sahabat pertama kali melaksanakannya, beristirahat pada setiap dua kali salam”.
 
Jadi, penamaan Tarawih karena dilaksanakan pada bulan Ramadhan, beristirahat sejenak diantara 2 kali salam atau setiap 4 raka’at (yakni setiap mencapai 2 kali sholat tarawih). 
 
Shalat tarawih dikerjakan 2 raka’at dengan 1 kali salam.  Oleh karena itu bagi Syafi’iyyah, shalat tarawih yang dikerjakan 4 raka’at 1 kali salam, tidak sah.
 
Hukum shalat tarawih adalah sunnah Muakkad bagi setiap laki-laki dan wanita yang dilaksanakan pada malam-malam bulan Ramadhan yakni dimulai setelah shalat Isya, berakhir sampai terbit fajar. Tata cara yang afdhal dalam shalat Tarawih adalah dikerjakan setelah melakukan shalat fardu Isya dan ba’diyah Isya bagi mereka yang tidak terbiasa atau khawatir tidak mampu bangun malam. Namun, juga lebih utama apabila shalat Tarawih dikerjakan di akhir malam.
 
Shalat Tarawih di Masa 4 Khalifah Islam
 
Pada Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, shalat tarawih tetap sama seperti ketika Rasulullah masih hidup. Perubahan kecil yang terjadi pada masa Sayyidina Abu Bakar adalah Ummul Mukminin Aisyah mengerjakan shalat tarawih di rumah dengan ikuti sahabat perempuan, dan mulai dilakukan pencarian imam yang memiliki suara bagus nan indah.
 
Sedangkan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab juga terjadi perkembangan baru yang lebih signifikan, hal ini bermula ketika terjadi hal-hal yang kurang etis dimana beberapa umat Islam kala itu cenderung mengikuti jama’ah shalat tarawih yang imamnya bersuara merdu, sehingga Sayyidina Umar memerintahkan agar mereka kembali seperti semula. Diantara mereka  berjama’ah, namun ada sebagian shalat sendiri.
 
Inisiatif Sayyidina Umar bertujuan agar shalat jam’ah tarawih berlangsung tertib, hingga akhirnya ditunjuklah sahabat Ubay bin Ka’ab yang memiliki suara merdu nan indah untuk menjadi imam shalat tarawih. Namun, karena pada masa itu shalat tarawih memakan waktu yang lama hingga selesainya mendekati waktu fajar, maka di tunjuklah seorang imam lagi bernama Tamim Ad-Dariy untuk meringankan beban imam, sebab kala itu para sahabat dan tabi’in sampai-sampai ada yang bersandar pada tongkat-tongkat mereka karena berlangsungnya shalat tarawih yang lama. Kenapa shalat 11 raka’at menggunakan 2 orang imam ? Itu karena 1 raka’at kala itu menghabiskan waktu lebih dari satu jam, sebab bacaan al-Qur’an yang mereka baca sangat panjang. 
 
Berikutnya, terjadi perkembangan lagi yakni pemisahan jama’ah laki-laki dan perempuan. Jama’ah laki-laki diimami oleh Ubay bin Ka’ab dan jama’ah perempuan di imami oleh Tamim Ad-Dariy. Disamping itu juga terjadi perubahan lain yakni raka’at shalat tarawih 8 raka’at dengan setiap raka’at membaca 3 surat yakni Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’, serta lamanya waktu ruku’, I’tidal dan sujud sama dengan lamanya bacaan 3 surat tersebut.
 
Kondisi jama’ah tarawih kala itu semakin melemah karena merasa lelah dan kurangnya istirahat, sehingga Khalifah Umar bin Khaththab mengambil inisiatif dengan memerintahkan agar jum’ah raka’at yang awalnya 11 raka’at (3 witir) diubah menjadi 23 raka’at yaitu 20 raka’at tarawih dan 3 witir, dengan meringankan bacaannya.
 
Bermula dengan adanya perubahan inilah, kemudian terjadi perkembangan lagi terkait jum’at raka’atnya yakni menjadi 37 raka’at, 39 raka’at, sampai akhirnya 41 raka’at.
 
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, shalat tarawih di imami oleh Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Pada masa ini terdapat amalan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya yakni membaca do’a Khatmil Qur’an sesudah selesai (khatam) membaca al-Qur’an yang dilakukan sebelum ruku’. Sedangkan jum’ah raka’at yang paling banyak dikerjakan pada masa ini adalah 23 raka’at (3 witir).
 
Pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, jama’ah tarawih menjadi 2 kalompok yaitu laki-laki dan perempuan. Jama’ah laki-laki dipimpin oleh Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Riwayat lain menyebutkan bahwa Sayyidina ‘Ali hanya mengimami shalat witirnya saja, sedangkan imam shalat tarawihnya diserahkan kepada yang lainnya.
 
Semenjak Khalifah Umar bin Khaththab memerintahkan shalat tarawih dikerjakan dengan berjama’ah hingga berlangsung pada masa Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz, jumlah raka’at menunjukkan 23 raka’at. Namun, pasca Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, berlangsung juga penambahan bilangan raka’at menjadi 36 raka’at tarawih dan 3 witir hingga Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz.
 
Shalat Tarawih di Masa 4 Imam Madzhab
 
Dimasa Imam Malik, Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz wafat. Sedangkan Imam Malik berjumpa dengan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz selama 18 tahun. Imam Malik sendiri lebih menyukai shalat tarawih dikerjakan 39 raka’at dengan rincian 1 witir atau 3 witir. Beliau memakruhkan bagi yang mengerjakan shalat tarawih kurang dari jumlah tersebut.
 
Sedangkan didalam madzhab Maliki sendiri, pendapat yang masyhur adalah 20 raka’at tarawih. Oleh karena itu, dikatakan bahwa jumlah 39 raka’at hanya ditujukan kepada penduduk Madinah (Ahli Madinah).
 
Pada masa ini, ada hal-hal baru terkait shalat tarawih yaitu cara memulai bacaan dengan terlebih dahulu membaca basmalah dan isti’adzah.
 
Adapun pengikut Imam Abu Hanifah kebanyakan memegang pendapat bahwa shalat tarawih dikerjakan 20 raka’at, walaupun diantara mereka ada yang berbeda pendapat.
 
Sedangkan dimasa Imam Syafi’i, shalat tarawih di Kota Makkah dan kota-kota lainnya, kecuali di Madinah, jumalh raka’at tarawih adalah 20 raka’at dan 3 witir. Sedangkan khusus di Madinah berjumlah 39 raka’at (3 witir).
 
Sehingga, pembesar Hanabilah pun (pengikut Imam Ahmad bin Hanbal) yakni Ibnu Qudamah Al Hanbali mengatakan shalat tarawih berjumlah 20 raka’at.
 
Oleh karena itu, jumlah 20 raka’at telah disepakati oleh madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali, demikian juga disepaki oleh madzhab Maliki pada sebagian riwayat yang lain.
 
Akan tetapi, jika mengumpulkan berbagai riwayat, akan didapati berbagai pendapat mengenai jumlah ra’akat shalat tarawih. 
 
Ada yang menyebutkan 10 raka’at, 20 raka’at, 34 raka’at, 36 raka’at, 40 raka’at, 46 raka’at, bahkan ada yang menyebutkan tidak ada batasannya. Sehingga dikatakan bahwa tidak ada ketentuan atau batasa mengenai jumlah raka’at yang harus dikerjakan.
 
Namun, jumlah yang paling banyak dikerjakan sejak masa sahabat hingga saat ini adalah 20 raka’at. Syaikh Abdul Wahhab al-Sya’râniy menyebutkan hal ini dalam kitab al-Mîzân al-Kubrâ sebagai berikut:
 
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ أَبِي حَنِيْفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ اَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيْحَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاِنَّهَا فِي الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ فِي اِحْدَى الرِّوَايَاتِ عَنْهُ اِنَها سِتَّةٌ وَثَلاَثُوْنَ
“Sebagian dari yang demikian adalah Qaul Imam Abi Hanifah, Imam Syafii dan Imam Ahmad bahwa Shalat Tarawih di dalam Bulan Ramadhan adalah 20 rakaat dan sesungguhnya berjamaah itu lebih utama disertai Qaul Imam Malik dalam satu riwayat darinya adalah 36 rakaat." 
 
Perlunya Sikap Arif
 
Dalam penerapan di masyarakat, sangat diperlukan sikap arif dalam menyikapi perbedaan mengenai jumlah raka’at tarawih yang dikerjakan. 
 
Masjid yang telah melaksanakan tarawih 8 raka’at, maka bagi yang mengambil 20 raka’at tidak perlu memaksakan penerapan shalat 20 raka’at di masjid tersebut. Sebab, kurangnya shalat tarawih pun dapat dikerjakan sendiri di rumah masing-masing, atau ditambahkan setelah  shalat 8 raka’at selesai. Demikian juga sebaliknya. Tentunya masyarakat sudah memiliki cara-cara sendiri dalam menyikapi hal semacam ini. []
 
 
Wallahu A’lam
Redaktur : AR

Related posts

Risalah Ramadhan (3) ; 10 Pembatal Puasa Dalam Kitab Fathul Qarib

admin

Menemukan Uang/Harta di Jalan, Hukumnya Menurut Islam?

admin

Hukum Bekam Saat Puasa menurut Fikih

admin

Hukum Shalat Memakai Kaos Kaki Bagi Wanita dan Laki-Laki

admin

Hukum Memakan dan Memasak Ikan yang Masih Hidup

admin

Ternyata Adzan Tidak Hanya Dikumandangkan Untuk Panggilan Shalat

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp BAGI INFO KE KAMI