Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Sekilas Mengenai Khutbah Shalat ‘Ied (Hari Raya)

MADINATULIMAN – Khutbah pada hari raya dilakukan setelah selesai shalat ‘ied. Apabila khutbah dilakukan sebelum shalat ‘ied, maka hal tersebut tidak dianggap dan khutbah diulangi setelah selesai shalat ‘ied. Mengenai hukum Khutbah shalat ‘ied, didalam Al Fiqhu ‘alaa Madzahibil Arba’ah dikatakan ;
 

“Hukum kedua khutbah hari raya adalah sunnah berdasarkan kesepakatan ‘ulama, kecuali menurut Malikiyah. ‘Ulama Malikiyah mengatakan : sesungguhnya kedua khutbah tersebut adalah mandub bukan sunnah. Dan telah diketahui bahwa ulama Hanabilah dan Syafi’iyah tidak membedakan antara mandub dan sunnah, namun ulama Malikiyah mengatakan bahwa kedua khutbah ‘ied adalah mandub, sedangkan ‘ulama Hanafiyah mengatakan sunnah. Bersamaan dengan hal itu, rukun-rukun dan syarat-syaratnya sebagaimana khutbah Jum’at”

 
عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم وأبا بكر وعمر كانوا يصلون العيدين قبل الخطبة
“Dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakar dan Umar melaksanakan shalat Hari raya sebelum khutbah” (HR. Muslim) 
 
عن ابن عباس قال شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فكلهم كانوا يصلون قبل الخطبة
“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata ; aku menyaksikan pelaksanaan shalat ‘ied bersama Rasulullah, Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman, mereka melaksanakan shalat sebelum khutbah” (HR. Al Bukhari) 
 
Dianjurkan (mustahab) atau sunnah melaksanakan khutbah diatas mimbar. Khutbah 'ied tidak disyaratkan berdiri sebagaimana khutbah Jum’at namun lebih afdlal apabila berdiri. Pembukaan khutbah dibuka dengan takbir. Disunnahkan duduk diantara 2 khutbah (khutbatain) seperti pada khutbah jum’at –sebagaimana riwayat Imam asy-Syafi’i- didalam musnadnya,
 
السنة أن يخطب الإمام ، في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس
“Sunnah seorang Imam berkhutbah 2 kali pada shalat hari raya, dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk” 
 
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخطب الخطبتين وهو قائم ، وكان يفصل بينهما بجلوس
“Sesungguhnya Rasulullah berdiri ketika berkhutbah pada khutbatayn, dan memisahkan keduanya dengan duduk” (HR. Ibnu Khuzaimah) 
 
Adapun duduk sebelum khutbatayn (2 khutbah) menurut qaul yang ashah (ittifaq al-ashhab asy-Syafi’i dan nas didalam al-Umm) adalah disunnahkan duduk. Ketika imam berada diatas mimbar, mengucapkan salam dan jama’ah membalasnya, kemudian duduk diatas mimbar sebagaimana duduknya imam pada shalat jum’at, kemudian berdiri untuk berkhutbah (khutbah pertama), kemudian duduk kembali setelah khutbah yang pertama (duduk diantara 2 khutbah), kemudian berdiri untuk berkhutbah kedua dan kemudian turun dari mimbar. Kadar lamanya duduk sebelum khutbah adalah seperti adzan pada shalat Jum’at.
 
Disunnahkan memulai khutbah dengan takbir, khutbah pertama bertakbir 9 kali dan khutbah kedua bertakbir sebanyak 7 kali. Takbir tersebut bukan merupakan inti dari khutbah namun hanya mukaddimah saja.   Khutbah dianjurkan berisi perbahasan mengenai zakat, hukum-hukum seputar hari raya dan lain sebagainya seperti masalah ketakwaan dan lain sebagainya. []
 
 
Redaktur : AR

Related posts

Fiqh Fauna: Air Bekas Jilatan Kucing Itu Suci

admin

Hukum Makmum Yang Tidak Ikut Sujud Tilawah Bersama Imam

admin

Hukum Anak Kecil Menunaikan Ibadah Haji, Apakah Wajib dan Sah ?

admin

7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat

admin

Hukum Forex, Emas, dan Indeks di Pasar Berjangka dalam Islam

admin

Shalat Hari Raya Boleh di Masjid Atau al-Mushalla (Shohra’)

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami