Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah

Shalat Jenazah di Masjid adalah Sah dan Boleh Bahkan Disunnahkan

MADINATULIMAN.COM – Masjid merupakan salah satu tempat yang mulya. Dan telah menjadi kebiasaan umat Islam bila ada orang yang meninggal diantara mereka mengusahakan menshalatkan jenazah di masjid dengan harapan banyak yang ikut menshalatkan dan mendo'akan, serta mengharapkan keberkahan tempat tersebut.

Kebiasaan yang demikian sejatinya termasuk perkara sunnah yang dicintai menurut ulama. Tetapi bagaimana pun persoalan hukum fiqh tidak akan pernah lepas dari khilaf diantara ulama sehingga ada pula yang memandang bahwa shalat jezanah di masjid sebagai perkara yang makruh.
 

ويجوز فعلها في المسجد وغيره ، لما روت عائشة رضي الله عنها { أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى على سهيل بن بيضاء في المسجد } والسنة أن يصلي في جماعة

"Dan boleh shalat jenazah di masjid maupun tempat lainnya, berdasarkan riwayat Siti 'Aisyah ra. {bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam menshalati Suhail bin Baidla' di Masjid} dan sunnah pula shalat jenazah secara berjama'ah."

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab shahihnya.
 

الصلاة على الميت في المسجد صحيحة جائزة لا كراهة فيها بل هي مستحبة صرح باستحبابها في المسجد الشيخ أبو حامد الإسفراييني شيخ الأصحاب والبندنيجي وصاحب الحاوي والجرجاني وآخرون ، هذا مذهبنا وحكاه ابن المنذر عن أبي بكر الصديق وعمر وهو مذهب عائشة وسائر أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهن من الصحابة رضي الله عنهم ، وأحمد وإسحاق وابن المنذر وغيرهم من الفقهاء ، وبعض أصحاب مالك ، وقال مالك وأبو حنيفة وابن أبي ذئب تكره الصلاة عليه في المسجد .
"Shalat atas mayyit (shalat jenazah) di masjid adalah shahihatun jaizatun (shah serta boleh), tidak ada kemakruhan didalamnya, bahkan mustahabbah (perkara yang dianjurkan / disunnahkan). Anjuran shalat jezanah di masjid telah diperjelas oleh Syaikh Abu Hamid al-Isfarayini guru ulama Syafi'iyah, al-Bandaniji, shahibul Hawi, al-Jurjani, dan lainnya, ini merupakan madzhab kita (Syafi'iyah). Dan Ibnul Mundzir telah meriwayatkan dari Abu Bakar al-Shiddiq dan  Umar, serta itu pula merupakan madzhab (pendapat) Siti 'Aisyah dan seluruh istri Nabi Saw dan para sahabat lainnya, serta Imam Ahmad, Ishaq , Ibnul Mundzir, Fuqaha' lainnya dan sebagian ulama Maliki. Sedangkan Imam Malik, Abu Hanifah dan Ibnu Abi Dzi'b memakruhkan shalat jenazah di masjid."

Ulama yang memakruhkan biasanya membawakan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi Saw. pernah bersabda :
 

من صلى على جنازة في المسجد فلا شيء له
"Barangsiapa yang shalat jenazah di masjid maka tidak ada nilai (tidak berpahala) baginya"

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan lainnya. Hadits riwayat Abu Huraiah ini merupakan hadits dloif berdasarkan kesepakatan al-Huffadz, diantara yang menyatakan kedloifannya adalah Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Nawawi didalam Syarh Muslim.
 

Abu Bakar bin al-Mundzir menyatakan kedloifan hadits tersebut didalam al-Awsath, Ibnu Hibban didalam al-Majruhiin, Ibnu Hazm didalam al-Muhalla, al-Khaththabi, al-Bahaqi didalam Sunanul Kubro, Ibnu Abdil Barr didalam al-Tamhid, Ibnul Jauzi didalam al-'Ilal, Ibnu al-Qaththan didalam al-Bayan, dan lainnya.

Dalam beberapa salinan terkait dengan hadits tersebut menggunakan lafadh فلا شيء عليه, ini tidak menunjukkan kemakruhan seandainya pun sah. Adapun lafadh فلا شيء له bersamaan dengan ke-dloif-an dan gharibnya lafadh tersebut seandainya pun sah maka harus dibawa pada makna / pengertian فلا  شيء عليه untuk mengkompromikan beberapa riwayat yang ada. Dengan kata lain, orang yang shalat jenazah tersebut tetap mendapatkan pahala. Yang demikian sudah lumrah di lisan orang-orang arab dan selaras dengan firman Allah Ta'alaa :

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
"Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri; dan jika kalian berbuat kejelekan, maka (kejelekan) itu bagi diri kalian sendiri." (QS Al Isra' 7)

Al-Khaththabi dan ulama Syafi'iyah lainnya mengatakan seandainya hadits Abu Hurairah itu memang tsabit maka pengertiannya adalah kurangnya pahala (pahalanya tidak sempurna) bukan tidak ada pahala sama sekali. Sebagimana lafadh hadits:

 لا صلاة بحضرة الطعام
"Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan" Maksudnya adalah shalatnya tidak sempurna.

_______
Oleh : Abdurrohim
Bacaan al-Majmu' syarh al-Muhaddzab dan Sunan Abi Daud tahqiq oleh Syu'aib al-Arnauth

 

Related posts

Risalah Ramadhan (6) ; Komentar Ulama Mengenai Jumlah Raka’at Tarawih

admin

Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied (Hari Raya)

admin

Shighat (Bacaan) dan Hukum Takbir Hari Raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlha)

admin

Jika Gerhana Tertutup Awan (Mendung) dan Hujan

admin

Oase Khilafah : Memahami Khilafah Dengan Benar dan Tepat

admin

Bolehkah Berkurban dengan Sapi Betina Menurut Hukum Islam ?

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami