Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Konsultasi

Shalat Jum’at Kurang dari 40 Orang Dalam Madzhab Syafi’i

MADINATULIMANasssalamu'alaikum pak kyai, tanya tentang masalah diharuskannya sholat jum'ah dengan jamaah minimal 40 orang (madzhab syafi'i), apabila jumlah jamaahnya kurang dan memang sudah tidak mampu tercukupi lg, mgkn krn penduduknya sedikit, nah itu harus bagaimana? makasih. (Penanya : akhmadlaila@yahoo.co.id, 081328587xxx)

 

Jawaban : Wa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Sdr. Ahmad yang dimulyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'alaa. 
 
Menurut Imam Nawawi rahimahullah, ijma’ ulama menyatakan bahwa shalat Jum’at tidak sah dilakukan secara sendirian. Berjama’ah didalam shalat Jum’at merupakan syarat sah shalat Jum’at.
 
Namun, ulama berbeda pendapat mengenai jumlah bilangan orang yang shalat Jum’at. Didalam madzhab Syafi’i, disyaratkan memenuhi bilangan 40 orang, ini juga pendapat beberapa fuqaha antara lain Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, Imam Ahmad dan Ishaq, dan satu riwayat dari Umar bin Abdul ‘Aziz. Jumlah bilangan 40 tersebut juga harus laki-laki, merdeka dan mustautin (penduduk tetap), termasuk juga muqimin. Sedangkan musafir, wanita, budak dan anak kecil tidak masuk dalam hitungan.
 
Berbeda halnya dengan madzhab lainnya, Imam Abu Hanifah, Sufyan Al Tsauri dan Al-Laits berpendapat telah memenuhi (in'iqaad) hanya dengan 4 atau 3 orang, termasuk imam didalamnya. Ada banyak pendapat mengenai jumlah ini, didalam kitab I’anatuth Thalibin disebutkan ada sekitar 14 pendapat ulama, bahkan ada yang menyatakan shalat Jum’at sah meskipun dilakukan secara sendirian seperti pendapatnya Ibnu Hazm (ulama madzhab Dhohiri), akan tetapi ini menyalahi Ijma’ ulama.
 
Di dalam madzhab Syafi’i, apabila penduduk suatu daerah tidak memenuhi kriteria 40 orang maka mereka mengerjakan shalat Dhuhur. Ini pendapat madzhab Syafi’i.
 
Sedangkan sekelompok ulama ada yang memperbolehkan penduduk tersebut mengerjakan shalat Jum’at meskipun kurang dari 40 orang. Menurut, Imam Zainuddin bin Abdul ‘Aziz Al Malibari (Al Syafi’i), pendapat ini kuat. Sehingga penduduk tersebut tetap mengerjakan shalat Jum’at dengan taqlid pada salah satu madzhab yang membolehkan. Yakni diutamakan taqlid pada ulama Syafi'iyah yang membolehkan. 
 
Namun, yang hasan menurut pendapat ulama adalah hendaknya penduduk wilayah tersebut melaksanakan shalat Jum’at, kemudian setelahnya juga dianjurkan  mengerjakan shalat Dhuhur meskipun shalat Dhuhur hanya dilakukan sendirian, tidak ada larangan atas hal ini, bahkan juga dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian), serta khuruj minal khilaf (keluar dari perselisihan pendapat diantara ulama). Wallahu A'lam.
 
 
Oleh : abdurrohim
(Asisten Pengasuh Konsultasi Umat )
*Bila ada hal-hal kurang dipahami, silahkan langsung ke pengasuh via HP (0811-598-189)

Related posts

Bolehkah Keramas Ketika Sedang Berpuasa (Dibulan Ramadhan)

admin

Kafarat Pelaku Onani dan Hukum Mengenai Puasa Mutih

admin

Transaksi Didalam Masjid dan Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang

admin

Berenang Ketika Puasa dan Ketut Didalam Air

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com