Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Ubudiyah

Shighat Salam : Dima’rifatkan, Jama’ dan Jer-Majrur Diakhirkan

MADINATULIMAN.COM – Shighat salam dan sifat salam yang sempurna yang diucapkan seorang muslim adalah السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ As-Salaamu ‘’alaykum dengan dima’rifakat-kan dan dengan bentuk jama’. Sama saja baik kepada satu orang atau sekelompok orang, ini adalah shighat yang telah diriwayat dari Nabi dan salafush shalih.

Tetapi boleh mengucapkan dengan redaksi سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ / Salaamun ‘alaykum dengan di nakirah kan. Yang lebih utama (afdlol) adalah dima’rifatkan, karena yang di ma’rifatkan itu salam penghormatan untuk penduduk dunia, sedangkan “salamun/ سَلاَمٌ” yang dinakirahkan itu salam penghormatan penduduk surga, sebagaimana firman Allah Ta’alaa :

سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (QS. Ar-Ra’d : 24).

Salam yang lebih sempurna السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ dengan mengakhirkan bacaan jer-majrur -nya. Bila mengucapkan عَلَيْكُمُ السَّلاَمُ / ‘Alaykumus Salaamu, atau عَلَيْكَ السَّلاَمُ / ‘Alaykas Salaamu. Kedua contoh ini menyelisihi salam yang akmal (lebih sempurna), berdasarkan sebuah riwayat dari Jabir bin Sulaim ia berkata :

لِمَا رُوِيَ عَنْ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَال: لَقِيتُ رَسُول اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلاَمُ يَا رَسُول اللَّهِ، فَقَال: لاَ تَقُل عَلَيْكَ السَّلاَمُ، فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ وَلَكِنْ قُل: السَّلاَمُ عَلَيْكَ
“Aku berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian aku berkata : ‘Alaykas Salaamu ya Rasulallah”, maka beliau bersabda : “janganlah engkau mengucapkan ‘Alaykas salaam, sebab ‘Alaykas Salaam itu penghormatan untuk orang yang meninggal dunia, akan tetapi katakanlah : As-Saalamu ‘Alayka”.

Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa telah menjadi kebiasaan orang arab mengedepankan nama orang yang dido’akan (diseru) dalam hal keburukan seperti perkataan mereka,

عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ، وَغَضَبُ اللَّهِ
‘Alayhi La’natullahi wa Ghadlabullahi (atas mereka laknat Allah dan murka Allah)

Maka yang demikian itu terlarang. Tetapi larangan ini bukan atas jalan pengharaman (hukum haram), namun hanya menyelisihi yang lebih sempurna (khilaful aula) atau makruh, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali. Apapun itu, menjawab salam hukumnya wajib.

Penulis : Abdurrohim

Related posts

Mengucapkan Selamat (Tahniah) Pada Hari Raya

admin

Hukum Mengadzankan Bayi dalam Kitab Kuning

admin

Ibadah Para Ulama Ahli Hadits Yang Menakjubkan

admin

Kedua Tangan Saat Qunut, Dirapatkan atau Direnggangkan?

admin

Hukum Bermakmum kepada Imam Lain Madzhab

admin

Membaca Tasmi’ Tiap Bangun dari Ruku’

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com