Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Islam Balikpapan

Tanggapi Web Syi’ah, MUI Balikpapan Tetap Dukung Fatwa MUI Pusat

MADINATULIMAN.COM – Jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan, pada Kamis (24/7) malam, menggelar rapat membahas berita yang diterbitkan website ahlubaitindonesia.orgpada 25 Mei dan 5 Juni 2014. Berita di dunia maya itu memuat hasil rumusan  kegiatan ”Dialog Antar Mazhab ” yang diselenggarakan oleh Yayasan Anzal Al Ishlah Babussalam (YAIB) Balikpapan.

Dari lima poin dialog di antaranya memuat, permintaan kepada MUI Pusat segera membuat surat edaran resmi ke seluruh Indonesia agar mengeluarkan fatwa tentang keberadaan Syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sesuai ajaran Islam sekaligus menggugurkan fatwa lain, khususnya MUI Jatim  yang memfatwakan Syi’ah sebagai  aliran “sesat”.

Melarang penyebaran, peredaran, serta menarik buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” dan “Kesesatan Aqidah dan Ajaran Syi’ah di Indonesia” yang saat ini beredar luas di tengah-tengah masyarakat

Ketua Umum MUI Kota Balikpapan, Prof. DR. KH. Achmad Syarwani Dzuhri didampingi Sekretaris Umum MUI, Drs HM Jailani Msi menegaskan, berkaitan dengan Faham Syi’ah yang saat ini berkembang di Masyarakat, MUI Kota Balikpapan secara struktur organisasi tetap berpegang kepada keputusan fatwa MUI Pusat sebagai pedoman.

”MUI dalam Rakernas bulan Jumadil Akhir 1404 H/ Maret 1984, merekomendasikan tentang Faham Syi’ah sebagaqi berikut: Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan – perbedaan  pokok dengan mazhab Sunni ( Ahlu Sunnah Wal Jama’ah ) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia,” terang Syarwani Dzuhri.

Perbedaan itu di antaranya,ia melanjutkan, syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan). Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus  Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan / pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandangdari  segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

“Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tersebut, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah”(pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah, Pernyataan ini ditandatangani  Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ketua Prof.KH.Ibrahim Hosen. LML dan Sekretaris H. Musytari Yusuf. LA ,” sebut KH Syarwani Dzuhri.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Banjari ini menegaskan, MUI Kota Balikpapan sampai saat ini tidak pernah mengusulkan kepada MUI Pusat agar dilakukan perubahan tentang fatwa MUI Pusat berkaitan dengan Fatwa MUI tentang Syi’ah  pada tahun 1984.

Selain itu, berkenaan dengan buku “Mengenal Dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia“  yang telah dikirimkan oleh MUI Pusat sebanyak 800 eksemplar yang telah disebarkan secara luas kepada Masyarakat agar dapat diketahui secara luas, dan MUI Kota Balikpapan telah menyelenggarakan kegiatan “ Bedah Buku” tersebut pada Minggu 27 April 2014 di Masjid Al Ihsan Gn Sari Balikpapan dengan pembicara Prof.DR.H.Muhammad Bahru, salah seorang penulis Buku dan KH. Athian M. Ali Da’I MA,  Ketua FUII.

“Sehubungan dengan terbitnya Buku “ Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia MUI Kota Balikpapan  sangat mendukung pernyataan MUI Pusat bahwa terbitnya Buku MUI Pusat tentang kesesatan Syi’ah merupakan amanah fatwa 1984 kepada  Pengurus MUI Pusat sebelumnya, tentang faham  Syi’ah yang dikeluarkan pada tahun 1984  demikian penjelasan KH. Ma’ruf Amin di salah satu media nasional,” papar Syarwani Dzuhri sembari menambahkan, keterlibatan anggota MUI Balikpapan dalam dialog antar mazhab mewakili kepentingan pribadi, bukan kelembagaan MUI Kota Balikpapan.(*/yud/balikpapanpos)'

Related posts

Daftar 206 Lokasi Shalat Iedul Fitri 1439 H/2018 M se-Kota Balikpapan

admin

Semarak Maulid di Balikpapan : Sekitar 6 Peringatan Maulid di 10 Februari 2013

admin

Pegawai Majelis Agama Islam Johor Sambangi Ponpes Al-Muttaqien Balikpapan

admin

Suasana Istighatsah HUT ke-73 TNI di Lapangan Merdeka Balikpapan

admin

MUI dan Balikpapan Pos Buat Program Ngaji Bareng Ustadz di Balikpapan

admin

Ribuan Umat Islam Bershalawat Bersama Gus Azmi di Lapangan Merdeka

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami