Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Syariah Ubudiyah

Ternyata Adzan Tidak Hanya Dikumandangkan Untuk Panggilan Shalat

MADINATULIMAN.COM – Salah satu tanda atau ciri-ciri masuknya waktu shalat adalah kumandang adzan. Ketika azan dikumandangkan, berarti waktu shalat telah masuk dan saatnya bergegas ke masjid untuk melakukan shalat di masjid atau mushalla.

Namun, ternyata azan tidak hanya dikumandangkan ketika masuk waktu shalat saja. Ada beberapa hal atau perkara yang disunnahkan untuk melakukan azan.

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Minhaj terkait azan-azan yang disunnahkan di luar shalat . Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj yang merupakan kitab syarah dari Al-Minhaj yang merupakan karangan dari Imam An-Nawawi.

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُود ، وَالْمَهْمُومِ، وَالْمَصْرُوعِ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ، وَهُوَ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ
“Disunnahkan azan selain shalat, yaitu saat azan untuk bayi yang baru lahir, orang yang sedang bersedih hati, orang yang menderita penyakit epilepsi, orang yang sedang marah, orang atau binatang yang memiliki perangai buruk, saat perang sedang berkecamuk, saat kebakaran, dan dikatakan juga menurunkan mayat pada liang kubur dengan mengqiyaskan saat awal terlahirnya ke dunia, namun aku (an-Nawawi) menentang kesunnahannya dalam syarh al-‘Ubab, saat terdapat gangguan jin berdasarkan hadits yang shahih di dalamnya, juga azan dan iqamah dalam penyambutan musafir,” (Lihat Ibnu Ḥajar Al-Haitamī, Tuḥfatul Muḥtāj bi Syarḥil Minḥāj, [Beirut, Dārul Kutub: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 330).

Dari penjelasan tersebut, jelas sudah bahwa ada beberapa hal yang disunnahkan untuk melakukan azan selain waktu shalat.

Pertama, pada bayi yang baru lahir. Biasanya diazani di telinganya oleh ayahnya. Namun, menurut Hasiyyah As-Syaubari yang juga menjadi syarh dari Kitab Al-Minhaj tidak disyaratkan seorang laki-laki, bisa juga perempuan, baik ibunya maupun saudara perempuan lain.

Hal ini ditentang oleh Imam Al-Haitami, menurutnya berdasarkan qaul yang mu’tamad (yang dipegang teguh oleh banyak ulama), disyaratkan yang melakukan azan di telinga bayi yang baru dilahirkan adalah orang laki-laki, baik ayahnya si bayi maupun saudara laki-laki yang lain.

Kedua, pada seorang sedang bersedih. Bahkan menurut Al-Haitami, jika kesedihan tersebut tidak hilang, maka dianjurkan untuk mengulangi azan tersebut.

Ketiga, pada orang yang menderita penyakit epilepsi.

Keempat, pada orang yang sedang marah.

Kelima, pada orang atau binatang yang memiliki perangai buruk.

Keenam, pada saat perang sedang berkecamuk

Ketujuh, pada saat sedang terjadi kebakaran. Namun, bukan berarti mendahulukan azan daripada memadamkan api sehingga tidak ada yang bergegas memadamkan api.

Kedelapan, pada saat menurunkan jenazah ke liang kubur. Hal ini diqiyaskan dengan kesunahan mengumandangkan azan pada telinga bayi yang baru lahir.

Kesembilan, pada orang yang mendapat gangguan jin (kesurupan).

Kesepuluh, saat menyambut musafir yang baru datang. Asalkan perjalanannya bukan untuk maksiat. Dalam tradisi beberapa masyarakat di Indonesia, biasanya azan dikumandangkan untuk melepas dan menyambut orang yang berangkat haji. Wallahu a‘lam. (nuON)

Ust. Muhammad Alvin Nur Choironi

Related posts

Anjuran Menghidupkan Malam Hari Raya dan Komentar Ulama

admin

Mengangkat Tangan Didalam Shalat

admin

Hukum Menjaharkan Shalat-Shalat Sunnah

admin

Cara Mewakilkan Haji Kepada Orang Lain

admin

Puasa Arafah 9 Dzulhijjah Bukan Didasarkan Wukuf Orang yang Berhaji

admin

Shighat (Bacaan) dan Hukum Takbir Hari Raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlha)

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami