Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Hikmah

Ulama Besar ‘Al-Ahkam al-Sulthaniyah’ Penjual Air Mawar

MADINATULIMAN.COM – Sebelum berbicara mengenai pengara kitab "al-Ahkam al-Sulthaniyah", ada baiknya mengenal tentang nisbah, yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk memberikan keterangan pada seseorang (asal, pemikiran dan lainnya) yang diletakkan dibelakang namanya. Penggunaan nisbat untuk mengaitkan dirinya dengan sesuatu sekaligus memperjelas tentang dirinya.

Nisbah biasanya menggunakan nama tempat, misalnya nisbat seperti Al-Bukhari (tempat Bukhara), Al-Nawawi (Nawa), al-Asqalani (Asqalan), At-Tirmidzi (Tirmidz), Az-Zarnuji (Zarnuj), Al-Jawi (Jawa), Ath-Thabrani (Thabaristan) dan lainnya. Banyak juga nisbah menggunakan nasabnya (ayah, kakek, dan seterusnya), nama suku, nisbah karena mengikuti seseorang, dan lain sebagainnya. Seperti Al-Qurasyi (keturunan Quraish), Asy-Syafi'i (kalau Imam al-Syafi'i berarti nisbat kepada kakeknya, sedangkan kalau ulama Syafi'iyah yang memakai Asy-Syafi'i berarti menisbatkan dirinya sebagai pengikut Imam al-Syafi'i), al-Hasani atau al-Husaini (keturunan Sayyidina Hasan / Husain).

Nisbah ada juga yang menjelaskan profesi. Jika ada nama ulama yang terdapat embel-embel seperti al-Shabuni, al-Sa'ati, al-Ghazali atau lainnya, biasanya nisbatnya pada pekerjaan ayahnya, kakeknya dan seterusnya. Misal istilah As-Shabuni (penjual/pembuat sabun), As-Sa'ati (tukang jam/arloji), Al-Ghazali (pekerjaan memintal (ghazal) wol), Al-Khayyath (penjahit),  As-Samman (penjual minyak samin), Al-Hariri (penjual sutra) dan lainnya.

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Al-Ghazali atau Imam Abu Hamid al-Ghazali. Nama aslinya adalah Muhammad, sedangkan Al-Ghazali adalah nisbat terhadap pekerjaan ayahnya sebagai seorang pemintal benang wol.

Imam Al-Mawardi, pengarang Al-Ahkam al-Sulthaniyah.

Dan siapa yang tidak kenal dengan Imam al-Mawardi. Orang yang senang dengan khazanah kitab fiqih pasti kenal beliau, apalagi senang dengan politik Islam dan kenegaraan, maka pasti kenal dengan kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah. Kitab ini dikarang oleh salah seorang pembesar madzab Syafi'i yang disebut sebagai Qadli al-Qudlat (pimpinan para qadli), yaitu Imam al-Mawardi atau Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bashri al-Mawardi, pengarang kitab al-Ahkam al-Shulthaniyah dan Al-Hawi al-Kabiir .

Siapa sangka nisbah Al-Mawardi, bukanlah nisbat pada sebuah tempat, tetapi pada sebuah profesi. Profesi yang sudah menjadi profesi keluarga Imam al-Mawardi. Ternyata Al-Mawardi merupakan gabungan dua kata yaitu Maul Wardi (ماء الورد), yang berarti air mawar.

Ya, profesi beliau ternyata penjual air mawar yang di jajakan di pasar-pasar Bashrah sebagaimana profesi di keluarganya.

Ada hikmah yang bisa kita petik dari nisbah Imam Al-Mawardi ini yaitu apapun profesi yang kita lakukan saat ini, jangan pernah merasa kecil hati selama itu pekerjaan yang halal.
[AR]

Related posts

Ketika Khalifah Harun ar-Rasyid Ngaji ke Imam Malik

admin

Ternyata Menangis Itu Benar-Benar Indah

admin

Ketika Umar Al-Faruq Akan Penggal Kepala Orang

admin

Menulis Sebagai Tradisi Qur’ani Sejak Dahulu

admin

Ilmu Ikhlas

admin

Dosa Terhapus karena Anak Kecil

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami