Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Ulama Kharismatik Kalimantan Selatan
Ulama Kharismatik Kalimantan Selatan
Pilihan Utama Tokoh

Ulama Kharismatik dari Kalimantan Selatan Berkontribusi Untuk Indonesia

MADINATULIMAN.COM – Indonesia memiliki banyak ulama sejak Islam pertama kali membumi di Nusantara. Ulama demi ulama muncul mengajarkan umat tentang Islam yang damai (rahmatan lil alamiin), Islam yang wasathiyah (pertengahan), sehingga Islam masuk dan berkembang di Indonesia dengan cara-cara yang damai dan arif.

Banyak ulama besar yang dikenal di Indonesia, baik yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB dan lain sebagainya. Di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan terdapat beberapa ulama kharismatik yang memberikan kontribusi positif tidak hanya bagi Kalimantan Selatan, tetapi juga bagi Indonesia.

1. Datuk Kalampayan (1710 – 1812 M)
Beliau adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar, Kalimantan Selatan. Ia lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 dan meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun. Ia hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Dia disebut juga Haji Besar dan mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.

Dia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq,[6] berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah “Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama”. Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, di antaranya ialah:

  • Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh,
  • Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,
  • Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,
  • Kitabul Fara-idl, hukum pembagian warisan.

2. Syaikh Kasyful Anwar (1887 – 1940 M)
Syekh Muhammad Kasyful Anwar lahir di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, pada tanggal 4 Rajab 1304 H/29 Maret 1887 pukul 10 pagi malam Selasa.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar adalah putra al-Allamah KH Ismail bin Muhammad Arsyad bin Muhammad Sholeh bin Badruddin bin Maulana Kamaluddin. Ia wafat tanggal 18 Syawwal 1359 H/18 September 1940 M di Kampung Melayu Martapura.

Baca : Ulama Besar Banjar Kalimantan Selatan Syekh Kasyful Anwar

3. Guru Bangil (1915 – 1989 M)
Beliau adalah KH. M. Syarwani Abdan atau K.H Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari. Biasa dikenal sebagai Tuan Guru Bangil. Ia lahir di Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1915 dan meninggal di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 11 September 1989 pada umur 74 tahun.

Ia adalah seorang ulama yang dikenal di Kalimantan Selatan hingga Jawa Timur, khususnya Bangil tempatnya mendirikan Pondok Pesantren Datu Kalampayan. Ia merupakan keturunan ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Di antaraguru ia adalah pamannya sendiri yaitu KH. M. Kasyful Anwar, Qadhi Haji Muhammad Thaha, KH. Ismail Khatib Dalam Pagar dan banyak lagi yang lainnya. Pada usia masih sangat muda ia meninggalkan kampung halamannya Martapura menuju Pulau Jawa dan bermukim di Bangil dengan maksud memperdalam ilmu agama kepada beberapa ulama di Kota Bangil dan Pasuruan. Di antara guru ia adalah KH. Muhdhar Gondang Bangil, KH. Abu Hasan (Wetan Alun Bangil), KH. Bajuri (Bangil) dan KH. Ahmad Jufri (Pasuruan). Orang tuanya pada saat itu memang sudah lama berdiam di Kota Bangil untuk berniaga.

Ia pernah ke Tanah suci dan menimba ilmu dari beberapa ulama, diantaranya yaitu Sayyid Amin Kutby, Sayyid Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad al-Araby, Sayyid Hasan Al-Masysyath, Syeikh Abdullah Al-Bukhari, Syeikh Saifullah Daghestani, Syeikh Syafi’i asal Kedah, Syeikh Sulaiman asal Ambon, dan Syekh Ahyad asal Bogor.

4. KH. Idham Chalid (1921 – 2010 M)
Beliau adalah Dr. KH. Idham Chalid, lahir di Satui (bagian tenggara Kalimantan Selatan), Hindia Belanda, 27 Agustus 1921 – meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 88 tahun. Ia adalah seorang ulama yang juga aktif di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR.

Selain ia cukup lama menakhodai (pemimpinan) ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dengan menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia memberikannya gelar Pahlawan, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011.

Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai yang sekitar 200 kilometer dari Kota Banjarmasin. Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya. Ayahnya berdarah Melayu Banjar asli, sedangkan ibunya campuran darah Banjar dan Melayu juga ada darah Bugis.

Idham pernah aktif di GP Ansor. Tahun 1952 ia diangkat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan, Idham mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama/ UNNU (Sekarang Universitas Islam Nusantara) pada 30 November 1950 bersama K.H Subhan Z.E. (Alm.), K.H. Achsien (Alm.), K.H. Habib Utsman Al-Aydarus (Alm.), dan lain-lain dengan K.H.E.Z Muttaqien (Alm.).

5. Guru Sekumpul (1942 – 2005 M)
Beliau bernama KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari, lahir di Tunggul Irang, Martapura, 11 Februari 1942 dan meninggal di Martapura, 10 Agustus 2005 pada umur 63 tahun) adalah salah seorang ulama dan tokoh yang sangat kharismatik dan populer di Kalimantan.

Setiap tahun, haul guru sekumpul selalu dipenuhi oleh umat Islam yang datang dari penjuru Kalimantan, bahkan luar Kalimantan. Selain dikenal dengan nama Guru Sekumpul, beliau juga dikenal dengan nama Guru Ijai (Guru Izai) dan Syaikh Zaini Abdul Ghani. Bahkan masyarakat luas menyebut beliau sebagai Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani.

Beberapa diantara karya tulisnya adalah sebagai berikut :

  • Risalah Mubaraqah.
  • Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani.
  • Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
  • Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.

6. Guru Danau (1955 – ….)
Beliau adalah KH. Asmuni bin H. Masuni (H. Sani) lahir di Danau Panggang pada tahun 1955 M (1374 H). Pada waktu kecil beliau bernama Zarkasyi, kemudian oleh habib Salim Mangkatip nama tersebut diubah menjadi Asmuni.

Jenjang pendidikan beliau adalah Pesantren “Muallimin” Danau panggang (1971) dan Ponpes “Darul Hikmah” Danau panggang. Kemudian mondok lagi ke Ponpes “Darusalam”Martapura (tamat) 1977). Selanjutnya beliau menimba ilmu di Ponpes “Datuk Kalampayan” di Bangil, Jawa Timur, dan ponpes “Tempel” Yogyakarta.

Ia aktif berdakwah membina majelis-majelis, bahkan ia juga mengelola 3 buah pondok pesantren, yaitu Pesantren “Darul Aman” di Pajukungan, Babirik, Amuntai, Pondok Pesantren “Hidayatus Shibyan” di Danau Panggang dan Ponpes “Raudhah”di Jaro Tanjung Tabalong. KH. Asmuni populer dengan sebutan Guru Danau, nisbat pada tempat kelahirannya.

7. Guru Bakrie (1956 – 2013)
Beliau adalah KH. Ahmad Bakrie atau biasa dikenal Guru Bakrie. Ia lahir di Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan tahun 1956 dan meninggal di Banjarmasin, 1 Februari 2013 pada umur 57 tahun) adalah salah satu ulama berpengaruh di Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Ia adalah pendiri Pendiri Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Gambut. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik ia juga dikenal sebagai tokoh organisasi seperti Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ia meninggal pada hari Jumat, 1 Februari 2013 di RSUD Ulin, Banjarmasin pada pukul 21:35 WITA. Pemakamannya dihadiri ribuan pelayat dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Ia dimakamkan di komplek pemakaman Pondok Pesantren Al Musyidul Amin Gambut.

8. Guru Zuhdi (1972 – ….)
KH. Ahmad Zuhdiannor dilahirkan di Banjarmasin pada 10 Februari 1972 dari keluarga yang menekuni ilmu-ilmu agama. Beliau merupakan putera dari H. Muhammad bin Jafri dan Hj. Zahidah binti KH. Asli. Ayah beliau dikenal sebagai ulama yang cukup terkenal di Banjarmasin.

Sedangkan kakek beliau dari pihak Ibu, KH. Asli adalah tokoh ulama yang berdomisili di Alabio. Keduanya nanti terlibat secara penuh dalam pendidikan Zuhdi kecil. [AR]

Source : Anysource

Related posts

Aturan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid oleh Bimas Islam Kemenag

admin

Daftar 200 Muballigh Kompeten Rekomendasi dari Kemenag

admin

Penceramah Kiai, Habaib dan Ustadz di Kota Balikpapan Kaltim

admin

Daftar 206 Lokasi Shalat Iedul Fitri 1439 H/2018 M se-Kota Balikpapan

admin

Nama-Nama Tabi’in yang Meriwayatkan Hadits

admin

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Nilai-nilai Pancasila Sejalan dengan Islam

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami