Media Islam Madinatul Iman Balikpapan
Islam Balikpapan

Wildan Abadi Alumni PP Al Basyiriyyah Jadi Imam Shalat Ied di Masjid Balikpapan

MADINATULIMAN.COM Sebagai lulusan tahfidz tidak ada niatan bagi Wildan Abadi menjadi imam masjid. Ia hanya ingin menggali ilmu menghafal Alquran dengan tujuan mencari rida Allah. Namun jalan mengantarkannya menjadi imam Masjid Assu’ada.
 
PELAKSANAAN salat Id di Masjid Assu’ada, Jalan Blora 1 RT 22, Pasar Baru, Senin (28/7) lalu dipimpin Wildan Abadi. Pria yang hijrah dari Bojonegoro pada Agustus 2008 silam itu sebelumnya pernah menjadi imam di masjid kawasan Markoni. Pengalaman pertama menjadi imam membuat dirinya keringat dingin.

“Mulanya tiba di Balikpapan hanya bertujuan bersilaturahmi dengan keluarga. Jarak rumah keluarga dan masjid tidaklah jauh, kemudian dilirik para pengurus masjid,” papar pria 27 tahun ini.

Sejak 2009, dia dipercaya dewan pengurus masjid tersebut menjadi imam masjid. Sementara imam masjid itu yang lainnya kebanyakan telah berumur lebih dari setengah abad. Wildan sudah menjadi imam tetap, baik rawatib maupun Salat Id. Tapi ia sempat tidak percaya dengan status yang dimiliki saat ini.

Sebab ia hanya anak kampung serta bukan alumnus dari ponpes ternama. Dirinya menjalani pendidikan agama di Pondok Pesantren Bustanu Usysyaqil Quran di Demak pada 1993, khusus tahfidz. Dilanjutkan dengan Al-Basyiriyyah, pondok beraliran salafiyah hingga 2006 dan kembali ke ponpes sebelumnya hingga 2008.  

Rupanya selama di Markoni hanya bertahan selama sebulan. Sebab, ia merasakan perbedaan lingkungan yang mencolok. Karena Wildan lebih nyaman di ponpes, membuatnya sulit beradaptasi di lingkungan masyarakat.

“Saya ingin keluar dari Balikpapan. Tapi semua orang memberikan dukungan untuk tetap bertahan, bahkan kiai di pondok saya juga. Saya sering sharing dengan beliau bila mendapat masalah,” bebernya.

Belum lama, dia merasa dilema. Ketika sebuah telepon dari seorang kiai di Jawa memintanya mengajar di pondok. Tawaran tersebut sempat membuat yakin kembali ke Jawa. “Tante saya telepon kiai itu. Keluarga di Jawa juga saya telepon dan meminta saya bertahan di sini (Balikpapan). Apalagi para pengurus, rasa kekeluargaan itu semakin besar,” ungkapnya.

Ia menganggap senior sebagai orangtua sendiri. Mereka melarang dengan alasan akan kehilangan seorang anak sekaligus imam. Sebab mencari seseorang yang mau menjadi imam masjid di Balikpapan tidaklah mudah.

“Calon imam masjid sebenarnya banyak, tapi apakah mereka mau? Karena kita tidak bisa memaksakan seseorang. Semua bergantung dari diri mereka,” kata pria kelahiran 26 November ini.

Tidak hanya menjadi imam masjid, dirinya dipercaya untuk mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Masjid Assu’ada. Tanpa diduga ia mendapat hadiah umrah dari seorang perempuan yang kini menjadi ibu angkatnya. Ia pun bersyukur telah memiliki seorang istri yang merupakan warga Kota Minyak. (*/yin/rom/k14/KALTIMPOS)
 

Related posts

Pesantren Ramadhan SMPN 12 Balikpapan Kumpulkan Infaq Rp 20,5 Juta

admin

Ribuan Jama’ah Penuhi Masjid At-Taqwa Dimalam Nishfu Sya’ban

admin

Masjid Cheng Ho Balikpapan Jadi Destinasi Wisata Keragaman Budaya

admin

Sekolah Balikpapan Gelar Do’a Bersama Hadapi Ujian Nasional

admin

BPHBI Balikpapan dan Pemkot adakan Pawai Takbiran Keliling Idul Adlha 1439 H

admin

Pesantren Ramadhan di Lapas Digelar Oleh Yayasan Al-Hassan

admin
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
WhatsApp Share info ke kami