Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Fikih Shalat Pilihan Utama

Hukum Menggunakan Masker Didalam Shalat

MADINATULIMAN.COM – Di masa pandemi, banyak orang dihimbau menggunakan masker sebagai salah satu upaya untuk terhindar dari penularan virus. Tetapi bagaimana bila masker tersebut digunakan saat melaksanakan ibadah seperti shalat?.

Ada beragama jenis masker pernafasan, baik yang menutup seluruh bagian wajah atau pun hanya menutup bagian mulut dan hidung saja, yang terbuat dari bahan kain atau bahan lainnya. Namun, masker yang dimaksud disini adalah masker pernafasan yang dipakai kebanyakan masyarakat, menutupi bagian mulut dan hidung.

Masker (penutup mulut dan hidung) dapat disebut at-talatstsum (التَّلَثُّمُ). At-Talatstsum didalam istilah ulama Syafi’iyah adalah penutup mulut saja. Dalam istilah ulama Hanabilah dan Hanafiyah adalah penutup mulut dan hidung. Sementara dalam istilah ulama Malikiyah adalah penutup yang sampai ke batas bibir bawah.

Para fuqaha’ sepakat bahwa At-Talatstsum didalam shalat hukumnya makruh. Sebagaimana dijelaskan didalam Mausu’ah Al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah :

اتفق الفقهاء على كراهة التلثم في الصلاة، لحديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نَهَى أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ. والتلثم عند الشافعية هو تغطية الفم، وقال الحنفية والحنابلة: هو تغطية الفم والأنف. وهو عند المالكية ما يصل لآخر الشفة السفلى.
“Fuqaha’ sepakat atas kemakruhan at-talatstsum didalam shalat, berdasarkan hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, “bahwa Rasulullah melarang seseorang menutup mulutnya didalam shalat”. At-Talatstsum menurut Syafi’iyah adalah menutupi mulut. Hanafiyah dan Malikiyah: menutupi mulut dan hidung. Malikiyah : menutupi sampai batas bibir bawah”.

Hukum makruh tersebut dijelaskan pula oleh Imam Asy-Syairazi (w. 476 H) didalam Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imami Asy-Syafi’i, sebagai berikut:

وَيُكْرَه أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ وَهُوَ مُتَلَثِّمٌ لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” نَهَى أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ ” وَيُكْرَهُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَنْتَقِبَ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ الْوَجْهَ من المرأة ليس بعورة فهي كالرجل
“Dimakruhkan seorang laki-laki shalat dengan menutup mulut (mutalatstsim), berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “melarang seseorang menutup mulutnya”, dan dimakruhkan pula bagi perempuan menggunakan niqab didalam shalat karena wajah bagi seorang perempuan bukanlah aurat, maka hukum ini (menutu mulut) juga seperti hukum bagi laki-laki”.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) didalam Al-Majmu’ memberikan syarah (penjelasan)-nya sebagai berikut:

وَيُكْرَه أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُتَلَثِّمًا أَيْ مُغَطِّيًا فَاهُ بِيَدِهِ أَوْ غَيْرِهَا وَيُكْرَه أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَمِهِ فِي الصَّلَاةِ إلَّا إذَا تَثَاءَبَ فَإِنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ الْيَدِ عَلَى فِيهِ فَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” إذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ ” وَالْمَرْأَةُ وَالْخُنْثَى كَالرَّجُلِ فِي هَذَا وَهَذِهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لا تمنع صحة الصَّلَاةِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
“Dan dimakruhkan seorang laki-laki shalat dengan menutup mulutnya menggunakan tangannya atau benda lainnya. Dimakruhkan meletakan tangannya diatas mulutnya didalam shalat kecuali apabila sedang menguap, maka tetap sunnah meletakkan tangannya diatas mulutnya (menutupi mulutnya). Didalam Shahih Muslim dari Abu Sa’id bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian menguap maka tahanlah dengan tangannya diatas mulutnya, sebab sesungguhnya setan itu akan masuk”. Perempuan dan Khutsa (waria) seperti laki-laki didalam hukum ini, dan makruh disini adalah makruh tanzih (tidak menyebabkan dosa) yang tidak mencegah sahnya shalat”.

Al-Khatthabi didalam Ma’alimus Sunan juga pernah menjelaskan hal yang sama.

وقوله وأن يغطي الرجل فاه فإن من عادة العرب التلثم بالعمائم على الأفواه فنهوا عن ذلك في الصلاة إلاّ أن يعرض للمصلي التثاؤب فيغطي فمه عند ذلك للحديث الذي جاء فيه.
“Redaksi hadits “(larangan) seseorang menutup mulutnya”, sebab termasuk daripada kebiasaan orang Arab adalah menutup dengan imamah (soban) diatas mulutnya, maka ulama melarang demikian didalam shalat, kecuali bagi orang shalat yang mengalami bersin kemudian menutup mulutnya karena ada hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut”.

Meskipun At-Talatstsum dalam penjelasan ulama Syafi’iyah hanya menutup mulut saja, namun menutup hidung didalam shalat juga tidak menghalangi sahnya shalat seseorang, hanya saja diantara bentuk kesunnahan saat sujud adalah terbukanya hidung (tidak ada yang menghalangi). Dengan kata lain, menggunakan masker (yang menutupi mulut dan hidung) pun tidak menyebabkan shalat batal maupun tidak sah.

Didalam kitab Nihayatul Muhtaj (1/515) mengenai cara sujud yang sempurna, termasuk diantaranya adalah terbukanya hidung.

(ثُمَّ يَدَيْهِ) أَيْ كَفَّيْهِ لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد (ثُمَّ) يَضَعُ (جَبْهَتَهُ وَأَنْفَهُ) مَكْشُوفًا لِلِاتِّبَاعِ أَيْضًا أَبُو دَاوُد، وَيُكْرَهُ مُخَالَفَةُ التَّرْتِيبِ الْمَذْكُورِ وَعَدَمُ وَضْعِ الْأَنْفِ وَيَضَعُ الْجَبْهَةَ وَالْأَنْفَ مَعًا كَمَا فِي أَصْلِ الرَّوْضَةِ وَالْمُحَرَّرِ وَالْمَجْمُوعِ عَنْ الْبَنْدَنِيجِيُّ وَغَيْرِهِ
“Kemudian meletakkan telapak tangannya, sebagai bentuk ittiba’ hadits riwayat Abu Daud, kemudian meletakkan dahinya dan hidungnya secara terbuka, ittiba’ hadits Abu Daud juga, dan dimakruhkan menyelisihi tartib cara sujud yang sempurna yang telah disebutkan serta tidak meletakkan hidung”.

Hukum makruh menutup mulut dan hidung (menggunakan masker) diatas didalam kondisi yang biasa. Tentunya hal ini berbeda didalam situasi yang tidak biasa seperti saat merebak pandemi sebagaimana yang terjadi sekarang. Bahkan pemerintah pun memerintahkan agar menggunakan masker.

Maka hukum makruh tersebut bisa hilang disebabkan adanya hajat (kebutuhan). Misalnya mengalami bersin sebagaimana penjelasan diatas. Terlebih didalam kasus atau kebutuhan yang lebih besar daripada hal tersebut.

Wallahu A’lam [Abdurrohim]

Related posts

Tim Rukyatul Hilal Kemenag Balikpapan Tidak Berhasil Melihat Hilal Awal Dzulhijjah

admin

Tokoh Ulama dan Cendikiawan Muslim Hadiri Multaqa di Gedung Parkir Balikpapan

admin

MI Al-Muttaqien Balikpapan Gelar Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi SAW

admin

MUI Balikpapan Gelar Perdana Program “MUI Goes To Campus” di Universitas Mulia

admin

Info Lokasi Shalat Idul Fitri 1439 Muhammadiyah Balikpapan

admin

Peringatan Nuzulul Qur’an 1440 H/ 2019 M di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com