Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Ubudiyah

Ketika Lupa Niat Puasa Ramadlan Dimalam Hari

MADINATULIMAN – Lupa bagian dari sifat manusia itu sendiri, hingga ada ungkapan yang menyebutkan bahwa manusia dinamakan insan (manusia) karena kealpaannya, summiyal insaanu insaanan li-nisyanihi. Terkadang niat puasa Ramadlan pun lupa dilakukan (diniatkan) pada malam harinya, sampai terbit fajar shadiq.
 

Padahal puasa Ramadlan termasuk jenis puasa wajib, dimana niat wajib dilakukan pada malam hari yaitu antara terbenam matahari (waktu maghrib) sampai sebelum terbit fajar shadiq, atau yang dikenal dengan istilah tabyitun niyyah (menginapkan niat). Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa sallam:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum adanya fajar maka tidak ada puasa baginya” (HR. al-Nasaai dan al-Baihaqi)

Sehingga apabila lupa berniat puasa Ramadlan pada malam hari melewati fajar shadiq (sudah masuk waktu shubuh) maka puasanya tidak sah.  Imam al-Nawawi didalam al-Majmu’ berkata :

“Apabila lupa niat puasa Ramadlan hingga terbit fajar (shadiq) maka tidak sah puasanya tanpa ada perbedaan pendapat diantara ulama kami (Syafi’iyah) karena syarat niat harus dimalam hari, dan tetap harus imsak (menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, penj) pada siangnya, serta wajib mengqadla’ puasanya karena tidak berpuasa. Namun disunnahkan pada awal siangnya berniat puasa Ramadlan karena yang demikian itu mencukupi menurut Imam Abu Hanifah, maka berhati-hati dengan niat”.

Berdasarkan keterangan Imam al-Nawawi tersebut, orang yang lupa berniat puasa maka ia harus mengqadla’ puasanya pada hari-hari yang lain, namun ia tetap diwajibkan imsak pada hari itu. Sebagaimana juga ditegaskan oleh Imam al-Haromain dalam Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab : “Siapa yang lupa niat pada bulan Ramadlan dan sudah masuk waktu shubuh, maka wajib melakukan imsak menurut pendapat yang ashoh”.  

Sahur dan Niat Puasa

Jika pada malam bulan Ramadlan terbesit niat untuk berpuasa Ramadlan maka termasuk niat. Akan tetapi niat itu sah apabila juga terdapat ta’yin (menentukan jenis puasanya pada hari itu yaitu puasa Ramadlan) dan dilakukan setiap malam (satu kali untuk satu kali puasa).

Adapun sahur tidak dengan sendirinya menggantikan kedudukan niat, kecuali sahur yang memang dengan niat puasa ramadlan atau tersebit didalam benaknya untuk berpuasa ramadlan. Syaikh al-Bakri Syatha al-Dimyathi berkata didalam I'anatuth Thalibin : “Ibarat al-Raudl beserta syarahnya: Seandainya sahur untuk berpuasa, atau minum untuk menghilangkan dahaga pada siang harinya, atau menahan diri dari makan minun dan bersetubuh sebab khawatir terbit fajar maka itu termasuk niat jika terbesit pada benaknya puasa fardlu Ramadlan, karena indikasi tiap-tiap perbuatan tersebut adalah menyengaja puasa”. []

Wallahu A'lam
Penulis : Abdurrohim

Related posts

Dua Golongan Yang Wajib Mengqadla Puasa dan Membayar Fidyah

admin

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih Didalam Kitab Ulama Madzhab

admin

Kedua Tangan Saat Qunut, Dirapatkan atau Direnggangkan?

admin

Hukum Menyaringkan Bacaan Shalat Dhuhur?

admin

Adab Membaca Al-Qur’an : Siwak dan Membaca Dalam Keadaan Suci

admin

Fikih Shalat Dengan Posisi Duduk

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com