Media Islam dan Muslim Store No. 1 Balikpapan
Pilihan Utama Ubudiyah

Macam Shalat Sunnah/an-Nafl Yang Tidak Disunnahkan Berjamaah

MADINATULIMAN.COM – Ada beberapa shalat sunnah (shalat al-nafl) yang tidak disunnahkan dilaksanakan secara berjama’ah. Artinya disunnahkan dilaksanakan secara munfarid (sendirian). Namun, seandainya shalat sunnah yang tidak dianjurkan berjama’ah dilaksanakan secara berjama’ah maka shalat tersebut tetap sah. (Baca: Shalat Sunnah Yang Disunnahkan Berjamaah dan Tidak Disunnahkan Berjama’ah)

Imam Al-Nawawi didlaam kitab Al-Majmu’ menjelaskan

قَالَ أَصْحَابُنَا تَطَوُّعُ الصَّلَاةِ ضَرْبَانِ (ضَرْبٌ) تُسَنُّ فِيهِ الْجَمَاعَةُ وَهُوَ الْعِيدُ وَالْكُسُوفُ وَالِاسْتِسْقَاءُ وَكَذَا التَّرَاوِيحُ عَلَى الْأَصَحِّ (وَضَرْبٌ) لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ لَكِنْ لَوْ فَعَلَ جَمَاعَةٌ صَحَّ وَهُوَ مَا سِوَى ذَلِكَ
“Ashhab kami berkata: shalat tathawwu’ (sunnah) ada dua jenis, pertama, disunnahkan berjama’ah yaitu shalat ied, kusuf, istisqa’ dan demikian pula shalat tarawih menurut pendapat yang ashah, kedua, tidak disunnahkan berjama’ah, tetapi seandainya dilaksanakan berjama’ah maka sah, yaitu shalat sunnah selain yang disebutkan”.

Bahkan tidak pula dimakruhkan namun menyelisihi yang utama. Sebagaimana penjelaskan didalam kitab Hasyiyata Al-Qalyubi wa ‘Umairah:

فَلَوْ صَلَّى جَمَاعَةً لَمْ يُكْرَهْ، قَالَهُ فِي الرَّوْضَةِ فِي صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ. قَوْلُهُ: (لَمْ يُكْرَهْ) بَلْ هُوَ خِلَافُ الْأَوْلَى وَالْمُرَادُ أَنَّهُ لَا تُسَنُّ الْجَمَاعَةُ فِيهِ عَلَى الدَّوَامِ
“Seandainya shalat secara berjama’ah, maka tidak makruh, tetapi hal tersebut khilaful aula (menyelisi yang lebih utama), dan yang dimaksud adalah tidak disunnahkan berjama’ah secara terus-menerus”.

Secara garis besar, shalat sunnah (shalat al-nafl) yang tidak disunnahkan berjama’ah terbagi menjadi 2 yaitu

1. SHALAT SUNNAH RATIBAH

Istilah ratibah digunakan untuk shalat yang mengikuti shalat yang lainnya, shalat yang pelaksanaannya bergantung pada yang lainnya dan digunakan pada shalat sunnah yang memiliki waktu tertentu.

Shalat Sunnah Ratibah ada 2 macam :

a. Shalat sunnah ratibah yang mengikuti (tabi’ah) shalat maktubah (al-nafl tabi’ ratib lil faraidl)

Hikmah dari adanya shalat ratibah adalah menyempurnakan apa yang kurang daripada shalat fadlu, misalnya kurang khusyu’ dan tidak mentadabburi (merenungi) bacaannya.

Jumlah raka’at shalat al-nafl ratib yang mendekati kesempurnaan sebanyak 10 raka’at, selain witir. Inilah yang disebut sebagai shalat sunnah rawatib muakkadah. Dan yang paling sempurna lagi sebanyak 18 raka’at, selain witir. Selain yang muakkad tersebut disebut sebagai shalat sunnah rawatib ghairu muakkadah.

Pertama, Shalat Sunnah Muakkadah (al-Nafl al-Ratib al-Muakkad)

Jumlahnya 10 raka’at, terdiri dari :

  • 2 raka’at sebelum shubuh,
  • 2 raka’at sebelum dhuhur,
  • 2 raka’at setelah dhuhur,
  • 2 raka’at setelah maghrib, dan
  • 2 raka’at setelah isya’.

Pada 2 raka’at sebelum shubuh (fajar), disunnahkan membaca surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlash, atau QS. Al-Baqarah ayat 136 dan QS. Ali Imran : 64. Diantara shalat-shalat tersebut, yang paling utama adalah shalat sunnah fajar / sebelum shubuh.

Berikut QS. Al-Baqarah ayat 136 :
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Berikut QS. Ali Imran : 64 :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Kedua, Shalat Sunnah Ghairu Muakkadah (al-Nafl al-Ratib Ghairu al-Muakkad)

Jumlahnya sebanyak 8 rakaat, dan terkumpul bersamaan dengan shalat sunnah yang muakkad sebagai sebuah kesempurnaan. Antara lain terdiri dari:

  • 2 raka’at sebelum dhuhur dan 2 raka’at setelah dhuhur, sehingga totalnya shalat ada 4 raka’at sebelum dhuhur (2 muakkad dan 2 ghairu muakkad), demikian juga 4 raka’at dhuhur (2 muakkad dan 2 ghairu muakkad).
  • 4 raka’at sebelum shalat ‘ashr.

Shalat sunnah rawatib pada hari Jum’at sama seperti halnya shalat Dhuhur dalam hal yang muakkad dan ghairu muakkad. Disunnahkan shalat 2 raka’at 2 raka’at, atau dua kali salam.

Ketiga, Shalat Tathawwu’ ma’al Faraidl (Shalat Sunnah Bersamaan / Menyertai Shalat Fardlu)

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian ulama ada yang membedakan antara istilah sunnah, al-nafl maupun tathawwu’. Menurut mereka, sunnah adalah sesuatu yang lakukan dan ditekuni oleh Rasulullah SAW dan menampakkannya dalam sebuah jama’ah (umat Islam) dan tidak ada dalil yang menunjukkan kewajibannya. Adapun al-nafl boleh dibilang tambahan dari shalat yang fardlu dan “sunnah”. Sementara tathawwu’, sesuatu yang diamalkan oleh seseorang berdasarkan kemauannya dari perkara yang tidak tsabit adanya nas secara khusus. Meskipun pada dasarnya, semuanya adalah tambahan selain shalat fardlu.

Tathawwu’ ma’al Faraidl terdiri dari 4 raka’at yaitu

  • 2 raka’at sebelum shalat maghrib. Disunnahkan shalat 2 raka’at sebelum maghrib tersebut berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzaani, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ المَغْرِبِ» ، قَالَ: «فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً»
“Shalatlah kalian sebelum maghrib (seruan sampai tiga kali), dan pada yang ketiga beliau bersabda “bagi yang mau”, yang menunjukkan tidak disukai jika orang-orang mengamalkannya sebagai sunnah (sesuatu yang dirutinkan). (HR. Al Bukhari)

Disunnahkan melaksanakannya secara ringan, tidak melebihi rukun, sunnah dan adab shalat yang semestinya sehingga tidak sampai terakhirkan melakukan shalat maghrib.

  • 2 raka’at sebelum shalat isya’. Kesunnahan ini juga berdasarkan riwayat dari Abdullah al-Muzanni, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ» ، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَنْ شَاءَ»
“Diantara setiap dua adzan ada shalat, diantara setiap dua adzan ada shalat, kemudian pada yang ketiga kalinya beliau bersabda: “bagi siapa yang mau”. (HR. Al-Bukhari)

Waktu Shalat Sunnah Ratibah

Shalat sunnah ratibah yang berkaitan dengan shalat fardlu (al-murtabith bil faraidl) telah masuk waktunya dengan masuknya waktu shalat fadlu tersebut. Perinciannya sebagai berikut:

  • Jika shalat sunnah sebelum fardlu (shalat qabliyah) maka waktunya telah masuk dengan masuknya waktu shalat tersebut dan tetap waktunya selama belum berakhir waktu shalat fardlu. Sehingga jika pun dilaksanakan setelah shalat fardlu maka terhitung ada’ (dilaksanakan pada waktunya, bukan qadla). Tetapi disunnahkan mengedepankannya daripada shalat fardlu, kecuali apabila shalat fardlu sudah didirikan maka jangan menyibukkan dengan shalat sunnah tetapi laksanakan shalat fardlu kemudian menyibukkan dengan shalat sunnah / kesunnahan lainnya.
  • Jika shalat sunnah setelah fardlu (shalat ba’diyah) maka telah masuk waktunya dengan terlaksananya suatu shalat fardlu dan tetap waktunya selama waktu shalat fardlu masih ada, karena ia adalah shalat yang mengiringi shalat fardlu. Tetapi tetap diperbolehkan melaksanakannya walaupun waktu shalat fardlu tersebut sudah berakhir, sehingga menjadi qadla’ seperti halnya qadla’ shalat fardlu bila melewati waktunya.

b. Shalat sunnah (ratibah) yang berhubungan/berkaitan (murtabithah) dengan waktu yang lainnya.

1) Shalat sunnah Witir
2) Shalat sunnah Tahiyyatul Masjid
3) Shalat sunnah Dluha (Baca:Tatacara Shalat Tasbih Riwayat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud)
4) Shalat sunnah Istikharah
5) Shalat sunnah Tasbih
6) Shalat sunnah Awwabin
7) Shalat sunnah Hajat
8) Shalat sunnah Wudlu’
9) Shalat sunnah Qatl (sebelum dihukum bunuh)
10) Shalat sunnah Safar
11) Shalat sunnah Ihram dan Thawaf

2. SHALAT SUNNAH GHAIRU RATIBAH

Yaitu shalat-shalat yang dilakukan kerelaan (wujud keta’atan) oleh seseorang, baik siang maupun malam, dan tidak mengikuti (tabi’ah) shalat-shalat fardlu.

a. Shalat Tahajjud / Qiyamul Lail
Tahajjud bermakna terjaga, sehingga maknanya menjadi shalat pada malam hari setelah tidur, atau qiyamul lail. Secara istilah adalah shalat tathawwu’ dimalam hari setelah tidur.

Qiyamul lail termasuk sunnah ghairu ratibah yakni tathawwu’ / sunnah mutlak dan merupakan sunnah ghairu ratibah yang paling utama, berdasarkan hadits berikut:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Paling utamanya shalat setelah shalat fardlu adalah shalat malam” (HR. Muslim)

Disamping itu karena dikerjakan pada waktu dimana manusia sedang lalai (tidur), dan juga karena waktu di akhir malam lebih utama daripada awal malam.

Qiyamul lail paling sedikit 2 raka’at, sedangkan paling banyak tidak ada batasannya, dan dilaksanakan setelah bangun tidur dan sebelum terbit fajar. Imam Nawawi mengatakan bahwa Qiyamul lail adalah sunnah muakkadah.

Selayaknya seorang muslim jangan sampai tidak melaksanakannya karena Rasulullah SAW sendiri tekun mengerjakannya, tetapi dimakruhkan selalu melaksanakannya setiap malam.

b. Shalat di Siang Hari
Shalat ini termasuk sunnah (al-nafl) mutlak yang tidak terikat dengan waktu dan sebab, tidak ada batasan jumlahnya, tidak ditentukan bilangan rakaa’atnya, sehingga boleh 1 raka’at atau bahkan seratus raka’at.

Sah niat al-nafl mutlak dengan satu raka’at, atau sejumlah raka’at tertentu. Sah pula tidak meniatkan bilangan raka’atnya, bahkan boleh mempersingkat niat shalatnya. Sehingga bila melaksakannya tanpa meniatkan jumlah raka’atnya maka boleh salam dengan satu rakaat, boleh pula menambahkan menjadi 2 raka’at, 3 raka’at, 10 raka’at, 100 raka’at atau lebih dari itu. Seandainya pun shalat dengan jumlah bilangan raka’at yang tidak diketahui, tetap sah.

Jika melaksanakannya hanya 1 raka’at maka harus tasyahhud pada raka’at terakhir dan disunnahkan duduk tawarruk. Namun jika melaksanakannya lebih dari satu raka’at maka boleh pula mempersingkatnya hanya 1 kali tasyahhud diakhir shalatnya. Tasyahhud (terakhir) ini adalah rukun sehingga wajib ada. Boleh pula bertasyahhud setiap dua raka’at sebagaimana shalat biasanya.

[4bd] Bacaan : Al Mu’tamad, Al-Majmu’ dan Lainnya

Related posts

Bacaan Shalat Gerhana Setiap Berdiri (Qiyam)

admin

Hukum Shalat Isya’ Bermakmum kepada Imam Shalat Tarawih

admin

Tinggi Hilal 6 Derajat, NU dan Muhammadiyah Diprediksi Awali Ramadhan Bersama

admin

Dalil Cinta Terhadap Tanah Air

admin

Siapa Bacalon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Balikpapan 2020-2025? Ikuti Survey Berikut

admin

Sidang Itsbat : 1 Ramadhan Jatuh pada Senin 6 Mei 2019

admin
SILAHKAN BERTANYA
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com